Lutvi H

24 Oktober 2019 07:00

Iklan

Lutvi H

24 Oktober 2019 07:00

Pertanyaan

seorang penjahit ingin membuat dua jenis pakaian untuk dijual. pakaian jenis A memerlukan 3m bahan wol dan 1m bahan katun. pakaian jenis B memerlukan 2m bahan wol dan 2m bahan katun. Persediaan untuk bahan wol 120m dan bahan katun 80m. jika pakaian jenis A dimisalkan x dan jenis B dimisalkan y, maka SPTLDV yang terbentuk adalah

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

20

:

50

:

45

Klaim

1

0


Empty Comment

Belum ada jawaban 🤔

Ayo, jadi yang pertama menjawab pertanyaan ini!

Mau jawaban yang cepat dan pasti benar?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Temukan jawabannya dari Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Bola-Bola Waktu Oleh Rakhma Subarna Ivan menendang kerikil di jalan dengan kasar hingga terpelanting berhamburan. Debu mengepul dari kerikil-kerikil itu. Lagi-lagi ia dijadikan bahan tertawaan! Ini semua gara-gara kue basah Ibu! Setiap hari Ivan harus bangun pukul setengah empat pagi dan membantu Ibu membuat aneka kue basah. Ivan juga harus pergi lebih pagi untuk mengantarkan kue-kue itu ke beberapa warung menuju sekolah. Hal yang paling memalukan, Ivan menitipkan kue itu juga di kantin sekolah! Ketika Fiam, anak paling usil di kelasnya tahu, ia segera mengejek Ivan. Dan begitu Fiam memulai, julukan “tukang kue” untuknya pun langsung diikuti teman-teman sekelas. Seolah belum cukup memalukan, bangun pagi dan rasa lelah bekerja sejak subuh membuat Ivan sering tertidur saat pelajaran. “Wah, tukang kue mau alih profesi jadi tukang tidur,” ejek Fiam yang memancing tawa sekelas. Ivan masih menendang kerikil-kerikil itu. “Aku tidak mau lagi!” teriak Ivan dalam hatinya. “Aku tidak mau lagi berjualan kue. Aku ingin menjadi anak SMP yang keren dan dikagumi oleh teman-temanku!” “Kau yakin?” Ivan menengok. Seorang pria berkerudung hitam memandangnya. Bibir pria itu tersenyum ramah. Di meja di hadapannya tergeletak aneka bola warnawarni. Ivan memandang pria itu sambil mengerutkan alisnya. Apakah dia peramal? tanya Ivan dalam hati. “Kau ingin melihat apa yang terjadi apabila kau berhenti berjualan kue?” Ragu-ragu, Ivan mengangguk. Ia lalu mengambil bola merah yang disodorkan pria itu. Seketika, tubuhnya terasa ringan, dunia di sekitarnya berputar. Ivan terkesiap. Ia terbangun di sebuah kamar yang terasa asing. Dengan heran, ia menatap Nina dan Danu, adiknya. Mengapa mereka tidur di sini? Ivan menatap sekeliling. Kamar itu sempit, pengap, dan terutama sangat berantakan! Barang-barang miliknya tergeletak di mana saja, sementara tumpukan buku koleksi Nina dan mainan Danu memenuhi sudut-sudut kamar. “Pukul 06.00? Aku terlambat untuk membuat kue!” Ivan segera berdiri dan keluar kamar. “Kamu sudah bangun, Van?” suara Ibu menyapanya. Mata Ivan membelalak lebar melihat kerut-kerut yang bertambah di wajah Ibu dan kelelahan yang tergambar jelas di sana. “Syukurlah. Ibu pergi dahulu, ya. Jangan lupa, antar adik-adikmu ke sekolah.” Ivan termangu. Ia menatap sosok Ibu yang membawa kotak-kotak berisi aneka kue basah. Jadi, tampaknya mereka masih berjualan kue basah. Hanya, kali ini, Ibu tidak meminta bantuannya. Akhirnya, Ivan terbebas dari tugasnya! Lalu, di mana Ayah? Biasanya Ayah yang mengantar Ibu untuk pergi berjualan. Ivan memandang ke sekeliling ruangan. Saat itulah Ivan menatap sebuah foto berbingkai hitam di dekat meja makan. Di dalamnya, wajah lelah ayahnya tersenyum ramah. “Van, nanti siang jangan lupa latihan basket, ya. Minggu depan kita lawan SMP Bina Bangsa.” Ivan hanya mengangguk lesu. Sekarang ia tahu, ia berada di tahun 2022. Tidak ada lagi teman-teman sekelas yang mengejeknya. Malah bisa dikatakan, ia memiliki cukup banyak teman. Nilai-nilainya bukan yang terbaik, tetapi bukan pula yang paling jelek. Ia berhasil masuk tim basket selama dua tahun berturut-turut. Semua tampak sempurna. Namun, mengapa Ivan menyesal berada di tahun ini? Tadi pagi ia mengetahui bahwa ayahnya tidak lagi bersama mereka. Ayah meninggal karena sakit. Kata Ibu, Ayah sering mengabaikan sakit yang dideritanya dan berkeras membantu Ibu. Ayah bahkan menolak tawaran Ibu untuk membayar seorang pekerja. Ayah ingin hasil penjualan kue ditabung untuk biaya kuliah Ivan nanti. “Hai, Van! Apakah Ibumu sudah sembuh? Mamaku ingin pesan kue basah untuk arisan, tetapi Ibumu bilang ia sedang tidak enak badan.” Perkataan Hario menyadarkan Ivan lagi dari lamunannya. Ivan menunduk. Ia teringat wajah menua dan lelah ibunya tadi pagi, bahkan Ibunya tidak mengatakan kepadanya bahwa ia sedang sakit. Ivan menelengkupkan kepala di atas meja. Andai saja penyesalan bisa memutar kembali waktu, ia lebih memilih membantu kedua orang tuanya berjualan kue. Matanya terasa panas. Kepalanya terasa berputar. Ivan mengerjap. Seseorang mengguncang tubuhnya lembut. “Ivan, bangun, Nak.” Ivan memicingkan mata. Ia mengenal suara tegas tetapi lembut itu. “Ayah! Syukurlah!” Ivan segera tersadar dan memeluk ayahnya erat. “Wah, wah, wah …! Tadi kamu mimpi buruk, ya?” Pagi masih gelap saat Ivan melihat ke luar jendela. Ivan tahu ia harus bangun lebih pagi karena mereka mendapat pesanan kue untuk acara pernikahan dan rapat di kantor RW. Memikirkan pesanan kue itu, Ivan melompat dari tempat tidur dengan penuh semangat. “Ayah, Ibu, tahu nggak? Kue-kue basah buatan Ibu ini banyak yang suka, loh!” cerita Ivan. Untuk sesaat, Ayah dan Ibu saling memandang dan menyimpan senyum geli. Mungkin mereka heran melihat Ivan yang tak lagi menggerutu dan malas-malasan saat membantu. “Eih, aku serius loh ini,” tambah Ivan lagi melihat reaksi kedua orang tuanya. “Van, kamu nggak apa-apa, Van?” suara Hario terdengar cemas dan makin jauh. Lalu segalanya gelap. Ayah tergelak. Ia mengusap kepala Ivan dengan lembut, “Tentu saja kami tahu, ini kan resep warisan turun-temurun!” Tepat pukul 05.00, kue-kue basah nan cantik telah siap. Harum manis kue memenuhi rumah. Meski lelah, Ivan merasa bangga melihat kue-kue yang baru ditatanya. Rasanya ia makin mahir menata kue-kue ini. “Van, tolong masukkan setiap jenis ke dalam kotak untuk pesanan kawinan dan Pak RW, ya. Biar Ayah yang menyiapkan untuk dibawa ke pasar. Ibu mau membuat sarapan dahulu sebelum adik-adikmu bangun,” kata Ibu. Ivan mengangguk. Saat memasukkan kue-kue ke dalam setiap kotak, sebuah ide melintas dalam benaknya. Masih ada 30 menit sebelum ia harus bersiap ke sekolah. Ivan mengambil selembar kertas, lalu segera menggambar sebuah kotak berisi aneka kue cantik. “Camilan Cantik Akhir Minggu,” begitu Ivan memberi judul gambar tersebut. Di bagian bawah gambar, Ivan menulis, “Untuk pemesanan, hubungi Ivan – kelas VII B.” 1. Siapakah nama tokoh cerita Bola-Bola Waktu?

4

3.0

Jawaban terverifikasi

30. Mika seorang lulusan perguruan tinggi yang memilih mengelola usaha berjualan pakaian . Awal usahanya ia menjual pakaian secara konvensional hingga memiliki toko dan usaha konveksi sendiri . Sayangnya, tokonya tidak berkembang karena penumpukan stok dan pembeli tidak sesuai dengan harapannya . Ia pun memutuskan berjualan secara daring ( online) dengan system pre-order sehingga tidak ada stok tersisa . Akhirnya , dengan system daring omzet penjualannya makin meningkat. Dilihat dari proses pembuatannya, barang barang yang dijual Mika termasuk barang …… dan untuk meningkatkan penjualannya, Mika dapat …. a. ekonomi ; memanfaatkan ilmu yang dimiliki dari perguruan tinggi b. jadi; memanfaatkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi / iptek c. jadi; membuat toko dan konveksi sendiri menggunakan pendapatannya d. ekonomi; menjualn sisa stok sesuai dengan barang yang di inginkan masyarakat

1

0.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Suatu ketika ada seorang pemuda yang mendapat warisan dari orang tuanya. Karena tergolong keluarga sederhana, ia hanya mendapat sedikit uang dan beberapa buah buku. Tak berapa lama, uang yang ditinggalkan pun habis terpakai. Sejenak ia melongok buku-buku peninggalan ayahnya. Ia teringat pesan dari orang tuanya agar bela jar dari buku tersebut. Karena malas, ia mengambil jalan pintas. Buku itu dijual kepada ternan yang mau membeli karena kasihan. Sebagai gantinya, ia mendapatkan beras untuk makan sehari-hari. Beberapa saat kemudian, si pemuda harus mulai bekerja kasar demi menyambung hidup. Yang membuatnya heran, ternan yang dulu membeli bukunya, kini hidupnya kelihatan nyaman dan semakin maju. Karena penasaran ingin tahu, apa yang membuat ternan tadi bisa berhasil hidupnya, dia mendatangi dan bertanya. Meski sempat tidak mau membuka rahasia, setelah didesak dan kasihan melihat nasib si pemuda, akhirnya si ternan terbuka. "Sebenarnya, aku sangat terbantu dengan buku yang kamu jual kepadaku. Dulu aku beli buku itu karena kasihan kepadamu. Kubiarkan saja berdebu di sudut kamar. Suatu hari, iseng karena ingin tahu, kubaca dan ternyata isinya bagus sekali! Sebuah pelajaran hidup yang luar biasa." "Bukan itu saja," sambung temannya. "Di dalam buku itu terselip pesan agar si pembaca setelah menguasai isi buku tersebut mau praktik dengan sungguh-sungguh. Sungguh, aku beruntung aku mendapat buku itu darimu. Lihat, hidupku jadi berubah. Sebenarnya, dari mana buku-bukumu itu berasa!?" Mendengar cerita temannya itu, si pemuda sangat menyesal. Harta peninggalan ayahnya ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kira. Karena malas membaca, kini ia hanya jadi pekerja kasar yang hidup ala kadarnya "Buku itu sebenarnya warisan dari orang tuaku," jawab si pemuda. "Jujur, aku malas membacanya dan tidak tahu kalau ayahku menyimpan pesan yang sangat berharga . Sungguh, aku menyesal. Ternan, boleh aku pinjam kembali buku-buku itu untuk memulai hidupku yang baru? Aku ingin bisa mengubah hidupku menjadi lebih baik." Sumber: httpsJ/web.archive.org/web/20201 128130026/httpsJ/andriewongso.com!yang-sudah-berla/u-tak-perlu-disesalil. diakses 2 Februari 2021 Tanggapan yang sesuai dengan isi teks cerita inspirasi tersebut adalah .... a. Seharusnya, si pemuda menjalankan pesan ayahnya untuk menggapai kesuksesan hidup. b. Seharusnya, si pemuda sering berkomunikasi dan belajar dengan temannya yang sukses. c. Seharusnya, si pemuda menyampaikan keluh kesahnya kepada ternan agar diberi solusi. d. Seharusnya, si pemuda menyimpan uangnya seqagai bekal menyongsong masa depan.

6

3.7

Jawaban terverifikasi

Suatu ketika ada seorang pemuda yang mendapat warisan dari orang tuanya. Karena tergolong keluarga sederhana, ia hanya mendapat sedikit uang dan beberapa buah buku. Tak berapa lama, uang yang ditinggalkan pun habis terpakai. Sejenak ia melongok buku-buku peninggalan ayahnya. Ia teringat pesan dari orang tuanya agar bela jar dari buku tersebut. Karena malas, ia mengambil jalan pintas. Buku itu dijual kepada ternan yang mau membeli karena kasihan. Sebagai gantinya, ia mendapatkan beras untuk makan sehari-hari. Beberapa saat kemudian, si pemuda harus mulai bekerja kasar demi menyambung hidup. Yang membuatnya heran, ternan yang dulu membeli bukunya, kini hidupnya kelihatan nyaman dan semakin maju. Karena penasaran ingin tahu, apa yang membuat ternan tadi bisa berhasil hidupnya, dia mendatangi dan bertanya. Meski sempat tidak mau membuka rahasia, setelah didesak dan kasihan melihat nasib si pemuda, akhirnya si ternan terbuka. "Sebenarnya, aku sangat terbantu dengan buku yang kamu jual kepadaku. Dulu aku beli buku itu karena kasihan kepadamu. Kubiarkan saja berdebu di sudut kamar. Suatu hari, iseng karena ingin tahu, kubaca dan ternyata isinya bagus sekali! Sebuah pelajaran hidup yang luar biasa." "Bukan itu saja," sambung temannya. "Di dalam buku itu terselip pesan agar si pembaca setelah menguasai isi buku tersebut mau praktik dengan sungguh-sungguh. Sungguh, aku beruntung aku mendapat buku itu darimu. Lihat, hidupku jadi berubah. Sebenarnya, dari mana buku-bukumu itu berasa!?" Mendengar cerita temannya itu, si pemuda sangat menyesal. Harta peninggalan ayahnya ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kira. Karena malas membaca, kini ia hanya jadi pekerja kasar yang hidup ala kadarnya "Buku itu sebenarnya warisan dari orang tuaku," jawab si pemuda. "Jujur, aku malas membacanya dan tidak tahu kalau ayahku menyimpan pesan yang sangat berharga . Sungguh, aku menyesal. Ternan, boleh aku pinjam kembali buku-buku itu untuk memulai hidupku yang baru? Aku ingin bisa mengubah hidupku menjadi lebih baik." Sumber: httpsJ/web.archive.org/web/20201 128130026/httpsJ/andriewongso.com!yang-sudah-berla/u-tak-perlu-disesalil. diakses 2 Februari 2021 Pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita tersebut adalah ... a. Jangan pernah malu mengakui kesalahan. b. Jangan pernah teperdaya dengan harta. c. Jangan pernah membohongi temanmu. d. Jangan pernah malas membaca buku.

4

4.0

Jawaban terverifikasi

Bacalah teks di bawah ini dengan saksama! Menjahit Baju Bibi meminta Agnes untuk menjadi penerima tamu di acara pernikahan sepupunya. Pada acara tersebut. Agnes akan mengenakan pakaian adat Jawa berupa kebaya. Bibi memberi Agnes sehelai kain batik untuk digunakan pada acara tersebut. lbu dan Agnes pergi ke penjahit yang sudah cukup terkenal di lingkungan sekitar rumahnya. Penjahit tersebut biasa memproduksi berbagai jenis pakaian, mulai dari pakaian adat. kebaya, gaun, jas, dan jenis pakaian lainnya. Namun, penjahit itu lebih sering memproduksi kebaya dibandingkan jenis pakaian lainnya. Penjahit itu memproduksi pakaian di tempat bisnisnya yang bernama Rumah Kebaya. Di Rumah Kebaya, Agnes dan ibunya akan menjahit kain pemberian bibi Agnes untuk dijadikan kebaya. Bersama ibunya, Agnes pun masuk ke tempat '' tersebut dan melihat banyak penjahit yang sedang bekerja. Para penjahit itu menjahit dengan mesin jahit yang cukup canggih. Kedatangan Agnes dan ibunya disambut oleh salah seorang penjahit, bernama lbu Rini. lbu Rini melayani Agnes dengan sangat ramah. lbu Rini akan membuat kebaya yang sesuai dengan ukuran Agnes. lbu Rini pun mengukur tubuh Agnes agar mendapat ukuran yang pas. Setelah itu, Agnes diberikan beberapa pilihan gambar model kebaya. Agnes pun diminta untuk memilih satu model yang sangat ia inginkan. Setelah melewati proses pengukuran dan pemilihan model, lbu Rini mulai bekerja membuat kebaya untuk Agnes. lbu Rini membuat pola kebaya dengan ukuran yang telah didapatnya. Setelah itu, ia mulai memotong dan menjahit kain yang dibawa oleh Agnes dan ibunya. Untuk proses pembuatan kebaya Agnes, lbu Rini memerlukan waktu selama seminggu. Setelah seminggu, Agnes dan ibunya datang kembali ke Rumah Kebaya untuk mengambil kebaya yang telah jadi. Di sana, lbu Rini menyarankan Agnes untuk mencoba mengenakan kebaya tersebut. lbu Agnes memuji penampilan Agnes saat memakai kebaya. Model dan warna kain kebaya itu sangat cocok dengan Agnes. Ukuran kebaya yang dibuat pun sangat pas dengan Agnes. Agnes terlihat semakin cantik saat mengenakan kebaya. Setelah mengambil kebayanya, Agnes dan ibunya pulang ke rumah. Kebaya itu pun kemudian disimpan rapi ke dalam lemari. Tujuannya, agar kebaya tersebut tetap ' rapi dan tidak kusut hingga acara pernikahan itu tiba. Temukan informasi penting dari paragraf ketujuh teks tersebut.

3

5.0

Jawaban terverifikasi