Sha S

22 Februari 2024 01:52

Iklan

Iklan

Sha S

22 Februari 2024 01:52

Pertanyaan

Seorang ibu menangis secara spontan ketika melihat kembali anaknya yang 20 tahun lamanya menghilang. Bahkan seluruh keluarga yang menyaksikannya pun ikut merasakan apa yang dirasakan sang ibu. Berdasarkan ilustrasi tersebut, reaksi ibu tersebut dapat dikatakan sebagai tindakan afektif yang sifatnya irasional. Menurut Anda, mengapa sikap ibu tersebut dikatakan irasional? Jelaskan!

Seorang ibu menangis secara spontan ketika melihat kembali anaknya yang 20 tahun lamanya menghilang. Bahkan seluruh keluarga yang menyaksikannya pun ikut merasakan apa yang dirasakan sang ibu. Berdasarkan ilustrasi tersebut, reaksi ibu tersebut dapat dikatakan sebagai tindakan afektif yang sifatnya irasional. Menurut Anda, mengapa sikap ibu tersebut dikatakan irasional? Jelaskan!


13

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Erwin A

Community

23 Februari 2024 03:56

Jawaban terverifikasi

<p>Reaksi ibu yang menangis spontan ketika melihat kembali anaknya yang 20 tahun lamanya menghilang dapat dikatakan sebagai tindakan afektif yang sifatnya <strong>irasional</strong> karena beberapa alasan berikut:</p><p><strong>1. Kehilangan Kendali Emosi:</strong></p><p>Ibu tersebut kehilangan kendali atas emosinya ketika melihat kembali anaknya. Hal ini ditunjukkan dengan tangisan spontan yang tidak tertahan. Dalam situasi ini, emosi ibu mengambil alih kontrol rasionalnya, sehingga ia tidak mampu berpikir jernih dan bertindak berdasarkan logika.</p><p><strong>2. Dipengaruhi oleh Faktor Emosional:</strong></p><p>Reaksi ibu tersebut dipicu oleh faktor emosional yang kuat, seperti rasa bahagia, lega, dan haru setelah sekian lama berpisah dengan anaknya. Faktor-faktor emosional ini dapat mengaburkan rasionalitas dan membuat seseorang bertindak impulsif.</p><p><strong>3. Tidak Berdasarkan Pertimbangan Logika:</strong></p><p>Ibu tersebut tidak mempertimbangkan situasi dan kondisi di sekitarnya ketika menangis spontan. Hal ini dapat mengganggu orang lain yang berada di tempat kejadian.</p><p><strong>4. Tidak Bertujuan Mencapai Tujuan Tertentu:</strong></p><p>Tangisan ibu tersebut bukan bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu, seperti meminta bantuan atau menyampaikan informasi. Tangisan tersebut merupakan ekspresi spontan dari emosi yang meluap-luap.</p><p><strong>5. Bersifat Sementara:</strong></p><p>Reaksi irasional ibu tersebut bersifat sementara dan akan mereda seiring dengan waktu. Ketika emosinya sudah stabil, ibu tersebut akan mampu berpikir jernih dan bertindak rasional.</p><p><strong>Kesimpulan:</strong></p><p>Meskipun reaksi ibu tersebut dapat dimengerti karena rasa bahagia dan lega setelah bertemu kembali dengan anaknya, namun reaksinya tergolong irasional karena tidak berdasarkan pertimbangan logika dan dapat mengganggu orang lain.</p><p><strong>Catatan:</strong></p><ul><li>Penting untuk diingat bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mengekspresikan emosinya.</li><li>Dalam situasi tertentu, tindakan irasional dapat dimaklumi dan diterima sebagai respons alami manusia terhadap situasi yang emosional.</li></ul><p>Semoga penjelasan ini membantu!</p>

Reaksi ibu yang menangis spontan ketika melihat kembali anaknya yang 20 tahun lamanya menghilang dapat dikatakan sebagai tindakan afektif yang sifatnya irasional karena beberapa alasan berikut:

1. Kehilangan Kendali Emosi:

Ibu tersebut kehilangan kendali atas emosinya ketika melihat kembali anaknya. Hal ini ditunjukkan dengan tangisan spontan yang tidak tertahan. Dalam situasi ini, emosi ibu mengambil alih kontrol rasionalnya, sehingga ia tidak mampu berpikir jernih dan bertindak berdasarkan logika.

2. Dipengaruhi oleh Faktor Emosional:

Reaksi ibu tersebut dipicu oleh faktor emosional yang kuat, seperti rasa bahagia, lega, dan haru setelah sekian lama berpisah dengan anaknya. Faktor-faktor emosional ini dapat mengaburkan rasionalitas dan membuat seseorang bertindak impulsif.

3. Tidak Berdasarkan Pertimbangan Logika:

Ibu tersebut tidak mempertimbangkan situasi dan kondisi di sekitarnya ketika menangis spontan. Hal ini dapat mengganggu orang lain yang berada di tempat kejadian.

4. Tidak Bertujuan Mencapai Tujuan Tertentu:

Tangisan ibu tersebut bukan bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu, seperti meminta bantuan atau menyampaikan informasi. Tangisan tersebut merupakan ekspresi spontan dari emosi yang meluap-luap.

5. Bersifat Sementara:

Reaksi irasional ibu tersebut bersifat sementara dan akan mereda seiring dengan waktu. Ketika emosinya sudah stabil, ibu tersebut akan mampu berpikir jernih dan bertindak rasional.

Kesimpulan:

Meskipun reaksi ibu tersebut dapat dimengerti karena rasa bahagia dan lega setelah bertemu kembali dengan anaknya, namun reaksinya tergolong irasional karena tidak berdasarkan pertimbangan logika dan dapat mengganggu orang lain.

Catatan:

  • Penting untuk diingat bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mengekspresikan emosinya.
  • Dalam situasi tertentu, tindakan irasional dapat dimaklumi dan diterima sebagai respons alami manusia terhadap situasi yang emosional.

Semoga penjelasan ini membantu!


Iklan

Iklan

Nanda R

Gold

07 Maret 2024 07:45

Jawaban terverifikasi

<p>Reaksi ibu yang menangis secara spontan saat melihat kembali anaknya yang hilang selama 20 tahun dapat dianggap sebagai tindakan afektif yang sifatnya irasional karena:</p><p><strong>Kekuatan Emosional:</strong></p><ul><li>Reaksi tersebut muncul dari perasaan ibu yang sangat kuat dan mendalam terkait kehilangan anaknya. Emosi yang terlibat mungkin begitu intens sehingga mengalahkan pertimbangan rasional.</li></ul><p><strong>Kehilangan Kontrol Emosi:</strong></p><ul><li>Tindakan afektif cenderung muncul tanpa pertimbangan rasional yang matang. Dalam situasi seperti ini, ibu kehilangan kendali atas emosinya, yang mengarah pada reaksi spontan dan tidak terduga.</li></ul><p><strong>Pengaruh Waktu Lama:</strong></p><ul><li>Faktor waktu yang panjang (20 tahun) tanpa keberadaan anak dapat memperkuat intensitas emosi. Saat melihat anaknya setelah sekian lama, ibu mungkin tidak dapat menahan tangisannya karena campuran kelegaan, kebahagiaan, dan rasa kehilangan yang terpendam selama bertahun-tahun.</li></ul><p>Meskipun reaksi tersebut dianggap irasional dari segi kontrol rasional, namun dapat dipahami sebagai respons manusiawi terhadap situasi yang penuh emosi dan mendalam.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p>

Reaksi ibu yang menangis secara spontan saat melihat kembali anaknya yang hilang selama 20 tahun dapat dianggap sebagai tindakan afektif yang sifatnya irasional karena:

Kekuatan Emosional:

  • Reaksi tersebut muncul dari perasaan ibu yang sangat kuat dan mendalam terkait kehilangan anaknya. Emosi yang terlibat mungkin begitu intens sehingga mengalahkan pertimbangan rasional.

Kehilangan Kontrol Emosi:

  • Tindakan afektif cenderung muncul tanpa pertimbangan rasional yang matang. Dalam situasi seperti ini, ibu kehilangan kendali atas emosinya, yang mengarah pada reaksi spontan dan tidak terduga.

Pengaruh Waktu Lama:

  • Faktor waktu yang panjang (20 tahun) tanpa keberadaan anak dapat memperkuat intensitas emosi. Saat melihat anaknya setelah sekian lama, ibu mungkin tidak dapat menahan tangisannya karena campuran kelegaan, kebahagiaan, dan rasa kehilangan yang terpendam selama bertahun-tahun.

Meskipun reaksi tersebut dianggap irasional dari segi kontrol rasional, namun dapat dipahami sebagai respons manusiawi terhadap situasi yang penuh emosi dan mendalam.

 

 

 


lock

Yah, akses pembahasan gratismu habis


atau

Dapatkan jawaban pertanyaanmu di AiRIS. Langsung dijawab oleh bestie pintar

Tanya Sekarang

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke Forum

Biar Robosquad lain yang jawab soal kamu

Tanya ke Forum

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Sepeninggal ayahnya sejak duduk di bangku SMP, Winda merasa sangat kehilangan sosok lelaki dalam keluarga yang mampu mengayomi dan melindungi. Rasa kehilangan tersebut ternyata mewujud menjadi perilaku yang suka berpacaran dengan lelaki yang jauh lebih tua, bahkan telah beristri. Akhirnya Winda pun terjerumus dalam lembah nista pelacuran. Dari deskripsi di atas, menunjukkan hubungan antara proses sosialisasi dengan …. A. dasar pembentukan kepribadian seorang individu. B. penyimpangan sosial yang positif. C. penanaman nilai-norma sosial. D. penyerapan nilai-nilai budaya menyimpang. E. penyerapan nilai norma yang tidak sempurna. Banyak jawaban yang memilih E, padahal yang ditanyakan adalah hubungan sosialisasi dengan dasar pembentukan kepribadian seseorang. Jika disoal ditanyakan hubungan pembentukan kepribadian yang disebabkan oleh baru yang E maupun D. Tolong penjelasannya

10

0.0

Jawaban terverifikasi

Dilema Nara Karya: Alya Khalisah - Nana terbangun karena sinar matahari menembus jendela kamarnya yang entah sejak kapan terbuka. Sejenak, ia hanya menatap langit-langit kamar. Matanya masih terasa sembab, sisa tangisan tadi malam. Kemudian, Nana bangun dan duduk di sisi ranjang kecilnya. Gadis itu memandang sekeliling kamar, dan tiba-tiba, suara pecahan kaca terdengar dari luar. Nana menutup kedua telinganya kuat-kuat, enggan mendengar apa pun. Setetes bening air matanya bergulir di pipi. Wajahnya dibenamkan dalam kedua telapak tangan yang lemah. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi hidup dalam situasi seperti ini. Ia tak kuat hidup dalam lingkaran kesedihan yang menggiringnya menuju kegilaan. Nana berjalan perlahan ke luar rumah, di antara jalanan sepi sambil menundukkan kepala seolah malu dunia melihatnya. Ia menatap siluet hitamnya di antara bayang-bayang pepohonan dan rumah. Nana berhenti melangkah saat seseorang menghalangi bayangannya. “Ada yang ingin kukatakan padamu.” Orang itu mulai berbicara kepadanya. Nana mendongak. Wajahnya terasa familiar. “Kenapa?” Gadis itu bertanya dengan wajah datar, tapi Nara hanya diam. “KENAPA KAMU HARUS LAHIR DI DUNIA INI?!” Ia mulai membentak. Gadis itu melayangkan telapak tangannya ke pipi Nara. “PERGI!” Nana tak sanggup menatap lawan bicaranya. Ia hanya memegang pipinya yang terasa nyeri karena tamparan barusan. Hilanglah dari dunia ini, dasar penghancur keluarga orang! hardik gadis itu. Nana terisak diiringi suara teriakan gadis itu di telinganya. Tetesan bening meleleh, merayapi sudut wajahnya. Nana adalah anak perempuan biasa yang hidup dengan kasih sayang utuh dari orang tua. Ia hidup berkecukupan, bahkan lebih. Semula, ia mengira hidup dalam zona kesempurnaan. Tetapi ternyata, semua itu hanya bualan. Ayahnya, ternyata, seorang pria yang telah berkeluarga. Saat itulah ia menyadari, ibunya adalah istri kedua ayahnya. Keluarganya tidak diinginkan oleh semua orang. Ibunya dianggap wanita yang tak punya harga diri. Tidak ada yang sudi berbagi nafas dan tempat dengan keluarga Nana. Mereka tidak pernah mau tahu separah apakah kerusakan jiwa yang mendera orang yang mereka cemooh. Istri pertama ayah Nana adalah sahabat dekat ibu Nana. Sahabat dekat yang saling mengaitkan janji satu sama lain sejak duduk di bangku sekolah untuk tidak mengkhianati. Begitu istri pertama ayahnya mengetahui apa yang telah terjadi, ia tentu syok berat. Suami yang ia cintai, berpaling darinya. Sahabat yang paling ia percaya, mengkhianatinya dalam waktu yang sama. Nira, anak istri pertama ayahnya, pun tak percaya. Ia nyaris pingsan saat ayahnya mengungkapkan hal itu sendiri. Selanjutnya, teror mulai berdatangan sebagai tanda balas dendam. Mulai dari pecahnya kaca jendela di rumah, hingga lemparan api untuk rumahnya. “Na?” Lamunan Nana terhenti. Gadis itu tetap diam, memandang kosong. “Nana? Sayang, kamu ada di dalam, kan?” Panggilan itu tak membuat Nana beranjak dari posisi yang nyaman bagi dirinya. Kemudian ketukan demi ketukan tak bernada mulai terdengar dari balik pintu. “Nana, buka pintunya, Sayang. Ibu mau bicara mengenai kepindahan kita,” Memang, keluarganya berencana untuk pindah. Pindah ke wilayah yang cukup jauh untuk mengubur kelamnya masa lalu dan melanjutkan hidup. Tapi baginya, pindah rumah hanyalah bentuk pelarian diri. Raganya takkan teraniaya lagi. Namun, jiwa dan pikirannya telah menyatu dengan frustasi berkepanjangan yang diderita Nana selama ini. Ia tetap tidak akan hidup dalam damai seperti sebelumnya. Nana bergeming. Dalam pikirannya yang kalut, ia mengingat Nira. Gadis itu ingi ia lenyap dari dunia ini. Ia ingin Nana musnah. Nara tahu apa artinya itu. * Nana memandangi tubuh kakunya yang ditumpahi tangisan dan penyesalan yang terlontar dari ayah dan ibunya. Ia tertegun dan mengingat kejadian yang terasa begitu cepat. Awalnya, ia berniat memutuskan urat nadi tangan kirinya dengan gunting hijau kesukaannya. Awalnya, ia tidak mau melihat orangtuanya menangis hebat sambil memeluknya. Awalnya, ia ingin merasakan rasa sakit yang mendera jiwanya lebih lama lagi. Namun, saat ia menutup mata dan menguatkan diri atas segala risiko perbuatannya nanti, seberkas cahaya putih menyinari dirinya. Sesaat, ia pikir cahaya itu hanya datang dari luapan fantasinya ketika ia sudah berhasil mati. Kemudian Nana tahu, kematiannya akan membawa segala keadaan berubah menjadi baik. Inilah yang diinginkan semua orang. Nana tersenyum. Sedikit pun, ia tak merasakan kesedihan. Ia hanya merasakan gema bebas dan damai berdengung dalam pikirannya. Sekarang, ia tak perlu lagi menerima berbagai bentuk kekerasan mental dari orang-orang di sekitarnya. Ia sudah bebas dan hidup dalam kedamaian yang dirindukan. Nana menutup matanya, merasakan seluruh sensasi dan kenikmatan damai yang mengalir di sekujur tubuhnya. Berkas-berkas cahaya itu kembali datang dan menyinari tubuhnya, menuntun gadis kecil itu menuju dimensi lain. Dimensi yang akan membawanya menuju keabadian. JELASKAN APA AMANAT PADA TEKS DIATAS!

28

0.0

Jawaban terverifikasi

Perbaiki dan sunting lah teks pidato persuasif berikut! Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua. Yang terhormat, Ibu Desi selaku guru Bahasa Indonesia. Yang saya hormati, ketua kelas dan juga teman-teman seperjuangan yang saya cintai. Puji dan syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkatNya kita dapat hadir di sini dalam keadaan yang sehat. Teman - teman, setiap orang pasti memiliki idola dengan berbagai alasan mulai dari tampilan, sikap, ataupun karya. Tidak dapat dipungkiri bahwa idol merupakan salah satu unsur penting di industri hiburan karena memang pada dasarnya, idol adalah sebuah profesi dengan menjual album, official merchandise, hingga pergelaran konser-konser dengan ribuan penonton. Eksistensi idola ini kemudian memunculkan sebuah entitas baru yang diistilahkan sebagai fans atau penggemar. Fans tidak akan ragu untuk membeli barang-barang berbau sang idola, entah itu pakaian, brand kosmetik, maupun produk makanan. Namun, terdapat titik-titik tertentu di mana fans dianggap terlalu berlebihan atau melewati batas wajar sehingga mereka disebut fanatik. Fanatik dapat diartikan sebagai suatu paham atau tindakan yang menunjukkan adanya ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan. Seseorang yang fanatik sulit untuk mengubah pola pikir dan pandangannya akibat terlalu menyukai sang idol serta tidak memperdulikan lingkungannya. Hak ini dapat memberikan pengaruh negatif pada dirinya sendiri bahkan membahayakan idolnya. Lantas mengapa berbahaya? Maka saya akan memberikan informasi bahaya dari mengidolakan idol secara berlebihan. Teman - teman seperjuangan, dapat dikatakan bahwa seorang fanatik memiliki standar yang ketat dalam pola pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan opini atau gagasan yang dianggapnya bertentangan. Ketika logika tidak dapat lagi menjadi penyeimbang pola pikir yang dimiliki, maka akan muncul sifat-sifat toksik. Aktivitas fans yang toksik atau tidak sehat ini dapat memicu tindakan-tindakan di luar nalar seperti pembunuhan sadis terhadap John Lennon, salah satu personel The Beatles. Pembunuhan bermula dari pelaku yang mendengar Lennon berkata "The Beatles lebih populer dari Yesus" sehingga pelaku membunuh Lennon beralaskan agar reputasi The Beatles tidak jatuh. Teman- teman, tidak hanya itu, seseorang yang mengidolakan sosok tertentu cenderung akan mencontoh perilaku orang yang diidolakannya. Tak jarang, kondisi ini berujung pada hilangnya identitas diri karena terlalu terpengaruh dengan karakter idolanya. Perasaan yang berlebihan terhadap idola pada akhirnya juga menjadi salah satu faktor yang dapat mengancam kesehatan mental. Kondisi ini dapat terjadi karena fans telah masuk dalam taraf kecanduan yang dapat ditandai dengan tindakan-tindakan terlalu ingin tahu dengan aktivitas sang idola, kebiasaan meguntit, hingga tak mau ketinggalan secuil informasi pun dari sosok idolanya. Teman - teman ku, mengidolakan seseorang sejatinya merupakan perilaku yang normal. Tetapi, menjadi hal yang perlu diwaspadai ketika kebiasaan tersebut berubah menjadi aktivitas yang mengarah pada tindak kejahatan seperti pelanggaran privasi, dan sampai menyakiti diri sendiri atau orang lain demi sosok yang diidolakan. Selayaknya manusia, para idola tetap memiliki kehidupan pribadi dan tak luput dari kesalahan. Fenomena fanatik terhadap individu atau kelompok tertentu tentu perlu disikapi secara bijaksana. Tidak ada yang salah dalam mengidolakan seseorang, selama hal tersebut masih dalam batasan yang wajar, mengingat terdapat sisi positif yang dapat dipetik ketika menjadikan seseorang sebagai role model atau inspirasi. Membangun suatu support system yang kuat dengan orang-orang terdekat dengan cara saling mengingatkan dan menjalin komunikasi yang baik dapat dijadikan sebagai bentuk pencegahan terhadap sikap-sikap fanatik yang toksik dan berbahaya di lingkungan sekitar kita. Oleh karena itu teman-teman mari mencegah dan memberhentikan sikap-sikap dari fanatik di lingkungan sekitar kita.

3

0.0

Jawaban terverifikasi

Fenomena Sosial Pengamen Jalanan Pengamen perkotaan adalah fenomena yang mulai dipandang sebagai masalah serius, terutama dengan semakin banyaknya permasalahan sosial ekonomi dan politik yang ditimbulkannya. Modernisasi dan industrialisasi sering dituding sebagai pemicu utama dari banyak pengamen di perkotaan. Perkembangan daerah perkotaan secara pesat mengundang terjadinya urbanisasi. Orang yang datang ke kota tidak mempunyai keterampilan untuk mencari kerja di kota. Akibatnya, mereka berdiam di daerah kumuh yang identik dengan kemiskinan perkotaan. Indonesia merupakan negara berkembang.Masalah kemiskinan menjadi masalah utama, baik di kota maupun di desa. Kita dapat melihat di setiap kota pasti ada perumahan yang berimpitan satu dengan yang lainnya. Selain itu, banyaknya pengamen, pengemis, dan anak jalanan makin memperjelas wajah kumuh perkotaan. Pada malam hari terlihat orang-orang tertentu tidur di emperan toko pinggir jalan. Kondisi demikian sangat memprihatinkan dan harus segera diatasi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan adanya pengamen jalanan. Faktor-faktor yang membuat seseorang mengamen sebagai berikut. 1. Faktor Ekonomi Anak mengamen demi tuntutan ekonomi. Orang tua tidak mampu membiayai kebutuhan hidup dan kebutuhan sekolah mereka. Demi memenuhi kebutuhan tersebut, seorang anak harus mengamen. Orang tua yang malas hanya mengandalkan hasil mengamen anaknya tanpa mau bekerja. 2. Kurang Kasih Sayang Anak yang kurang kasih sayang atau tidak menerima kasih sayang dari orang tua rawan menjadi pengamen jalanan. Artinya, orang tua terlalu sibuk mencari harta atau kesenangan. Orang tua tidak memiliki waktu untuk mencurahkan perhatian, bertanya tentang masalah anak, bertukarpikiran, dan berbagi rasa dengan anak. Dengan tidak menerima kasih sayang dari orang tua, anak pun mencari kesenangan lain untuk menghibur diri. Mengamen adalah salah satu sarana untuk menghibur diri bagi anak. Dengan bernyanyi sebagai pengamen, mereka dapat menghibur hati, mengungkapkan isi hati, dan menghabiskan waktu. 3. Rasa Ikut-ikutan Anak dipengaruhi lingkungan atau teman sebaya untuk mencari hiburan, menghindari pekerjaan rumah, tugas- tugas sekolah, atau merasa hebat akan dirinya. Padahal jika ditelusuri, segi ekonomi bukan penyebab anak menjadi seorang pengamen. Kadang-kadang mereka hanya ikut-ikutan atau dipengaruhi oleh teman-temannya. Meskipun pengamen anak-anak tersebut harus mengalami panas terik, hujan, caci maki, pukulan, mereka tetap berjumlah banyak. Hampir di setiap persimpangan jalan dapat ditemui pengamen berusia anak-anak. Selain di persimpangan jalan, mereka mengamen di pasar, rumah makan, dan terminal, Mereka dianggap sebagai penyebab kemacetan lalu lintas, berkurangnya nilai estetika tata ruang kota, dan mengganggu kenyamanan pengguna jalan raya. Hasil penelitian menjelaskan bahwa psikologis pengamen anak-anak tidak memiliki rasa malu, tidak peduli atau tak acuh. Sikap tersebut dilakukan agar keberadaan mereka diterima masyarakat sebagai bentuk budaya baru. Agar keberadaan mereka tetap eksis, pengamen anak-anak juga berupaya untuk melawan berbagai pihak, baik pihak hukum maupun pihak nonhukum. Mereka hanya mempertahankan harga diri dan rasa solidaritas di antara mereka. Fenomena sosial kehidupan pengamen anak-anak memiliki dua arti, yaitu pengaruh yang hanya bekerja di jalanan dan menunjukkan gaya kehidupan di jalanan. Bekerja di jalanan artinya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup anaknya, sedangkan gaya hidup di jalanan hanya sekadar mewujudkan gaya hidup jalanan yang bebas. Dari segi usia, sebenarnya mereka tidak wajib mencari nafkah. Orang tua merekalah harus memiliki tanggung jawab dan memberi kasih sayang kepada mereka. Meskipun orang tua tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sebaiknya anak tidak diperbolehkan mengamen. Orang tua harus mampu memberikan tanggung jawab dan kasih sayang kepada anak agar tidak menjadi pengamen di tengah kota. Di samping itu, aparat hukum harus memiliki aturan yang tegas terhadap hukum, Hukum harus ditegakkan demi masa depan anak bangsa. Apabila hal-hal ini dilakukan, sangat tipis kemungkinan munculnya pengamen sebagai penyebab di jalanan perkotaan. Tentukan struktur teks eksplanasi di atas!

24

0.0

Jawaban terverifikasi