Rahmat S

09 November 2021 10:24

Iklan

Rahmat S

09 November 2021 10:24

Pertanyaan

Sebutkan 10 perlawanan atau perang yang terjadi pada masa kolonialisme di berbagai daerah di Indonesia !

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

11

:

23

:

30

Klaim

1

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Alya A

10 November 2021 07:04

Jawaban terverifikasi

Halo Rahmat S,aku bantu jawab ya 1.Perang Padri Perang Padri diawali dengan konflik antara Kaum Padri dengan Kaum Adat terkait pemurnian agama Islam di Sumatera Barat. Kaum Adat masih sering melakukan kebiasaan yang bertentangan dengan Islam, seperti berjudi dan mabuk-mabukan. Kaum Padri yang terdiri dari para ulama menasihati Kaum Adat untuk menghentikan kebiasaan tersebut, Kaum Adat menolaknya, sehingga terjadi perang yang berlangsung tahun 1803 – 1821. Perang diakhiri dengan kekalahan Kaum Adat Kondisi tersebut lalu dimanfaatkan Belanda untuk bekerja sama dengan Kaum Adat guna melawan Kaum Padri. Belanda memang bertujuan untuk menguasai wilayah Sumatera Barat. Salah satu tokoh pemimpin Kaum Padri adalah Tuanku Imam Bonjol. Fase perang ini berlangsung tahun 1821 – 1838. Tuanku Imam Bonjol lalu mengajak Kaum Adat agar menyadari tipuan Belanda dan akhirnya bersatu melawan Belanda. Perang diakhiri dengan kekalahan di pihak Padri dan Adat karena militer Belanda yang cukup kuat. 2.Perang Pattimura Pada 1817, Belanda juga berusaha menguasai Maluku dengan monopoli perdagangan. Rakyat Maluku yang dipimpin Thomas Matulessy (Pattimura) menolaknya dan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Pertempuran sengit terjadi di benteng Duurstede, Saparua. Belanda mengerahkan pasukan secara besar-besaran, rakyat Maluku terdesak. Perlawanan rakyat Maluku melemah akibat tertangkapnya Pattimura dan Martha Christina Tiahahu. 3.Perang Diponegoro Perang Diponegoro adalah perang terbesar yang dialami Belanda. Perlawanan ini dipimpin Pangeran Diponegoro yang didukung pihak istana, kaum ulama, dan rakyat Yogyakarta. Perang ini terjadi karena Belanda memasang patok-patok jalan yang melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro. Perang ini terjadi tahun 1825 – 1830. Pada tahun 1827, Belanda memakai siasat perang bernama Benteng Stelsel, yaitu setiap daerah yang dikuasai didirikan benteng untuk mengawasi daerah sekitarnya. Antara satu benteng dan benteng lainnya dihubungkan pasukan gerak cepat, sehingga ruang gerak pasukan Diponegoro dipersempit. Benteng Stelsel belum mampu mematahkan serangan pasukan Diponegoro. Belanda akhirnya menggunakan tipu muslihat dengan cara mengajak berunding Pangeran Diponegoro, padahal sebenarnya itu berupa penangkapan. Setelah penangkapan, gerak pasukan Diponegoro mulai melemah. Belanda dapat memenangkan perang tersebut, namun dengan kerugian yang besar karena perang tersebut menguras biaya dan tenaga yang banyak. 4.Perang Jagaraga Bali Perang ini terjadi akibat protes Belanda terhadap Hak Tawan Karang, yaitu aturan yang memberik hak kepada kerajaan-kerajaan Bali untuk merampas kapal asing beserta muatannya yang terdampar di Bali. Protes ini tidak membuat Bali menghapuskan Hak Tawan Karang, sehingga perang puputan (habis-habisan) antara kerajaan-kerajaan Bali yang dipimpin I Gusti Ketut Jelantik dengan Belanda terjadi. Belanda berhasil menguasai Bali karena kekuatan militer yang lebih unggul. 5.Perang Banjar Perang ini dilatarbelakangi oleh Belanda yang ingin menguasai kekayaan alam Banjar, serta keikut-campuran Belanda dalam urusan kesultanan. Akibatnya, rakyat yang dipimpin Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari melakukan perlawanan terhadap Belanda sekitar tahun 1859. Serangkaian pertempuran terus terjadi hingga Belanda menambahkan kekuatan militernya. Pasukan Pangeran Hidayatullah kalah, karena pasukan Belanda lebih unggul dari segi jumlah pasukan, keterampilan perang pasukannya, dan peralatan perangnya. Perlawanan rakyat Banjar mulai melemah ketika Pangeran Hidayatullah tertangkap dan dibuang ke Pulau Jawa, sementara itu Pangeran Antasari masih melakukan perlawanan secara gerilya hingga ia wafat. 6.Perang Aceh Perang Aceh dilatarbelakangi Traktat Sumatra (1871) yang menyebutkan bahwa Belanda bebas meluaskan wilayah di Sumatera termasuk Aceh. Hal ini ditentang Teuku Cik Ditiro, Cut Mutia, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan Panglima Polim. Belanda mendapatkan perlawanan sengit dari rakyat Aceh. Rakyat Aceh berperang dengan jihad, sehingga semangatnya untuk melawan Belanda sangat kuat. Untuk menghadapinya, Belanda mengutus Snouck Hurgronje untuk meneliti budaya dan karakter rakyat Aceh. Ia menyarankan agar pemerintah Belanda menggempur pertahanan Aceh bertubi-tubi agar mental rakyat semakin terkikis, dan memecahbelah rakyat Aceh menjadi beberapa kelompok. 7.Perlawanan Rakyat Batak Perlawanan rakyat Batak dipimpin Sisingamangaraja XII. Latar belakang perlawanan ini adalah bangsa Belanda berusaha menguasai seluruh tanah Batak dan disertai dengan penyebaran agama Kristen. Sisingamangaraja XII masih melawan Belanda sampai akhir abad ke-19. Namun, gerak pasukan Sisingamangaraja XII semakin menyempit. Pada akhirnya, Sisingamangaraja XII wafat ditembak serdadu Marsose, dan Belanda menguasai tanah Batak. 8.Perang Saparua di Ambon Merupakan perlawanan rakyat Ambon dipimpin Thomas Matulesi (Pattimura). Dalam pemberontakan tersebut, seorang pahlawan wanita bernama Christina Martha Tiahahu melakukan perlawanan dengan berani. Perlawanan Pattimura dapat dikalahkan setelah bantuan pasukan Belanda dari Jakarta datang. Pattimura bersama tiga pengikutnya ditangkap dan dihukum gantung. 9.Perang Paderi di Sumatra Barat Perlawanan rakyat terhadap Belanda, merupakan perlawanan yang sangat menyita tenaga dan biaya sangat besar bagi rakyat Minang dan Belanda. Bersatunya Kaum Paderi (ulama) dan kaum adat melawan Belanda, menyebabkan Belanda kesulitan memadamkannya. Bantuan dari Aceh juga datang untuk mendukung pejuang Paderi. Belanda benar-benar menghadapi musuh yang tangguh. Belanda menerapkan sistem pertahanan Benteng Stelsel. Benteng Fort de Kock di Bukit tinggi dan Benteng Fort van der Cappelen merupakan dua benteng pertahanannya. Dengan siasat tersebut akhirnya Belanda menang ditandai jatuhnya benteng pertahanan terakhir Paderi di Bonjol tahun 1837. Tuanku Imam Bonjol ditangkap, kemudian diasingkan ke Priangan, kemudian ke Ambon, dan terakhir di Menado hingga wafat tahun 1864. 10.Perlawanan Sisingamangaraja di Sumatra Utara Perlawanan rakyat terhadap Belanda di Sumatra Utara dilakukan Sisingamangaraja XII, perlawanan di Sumatra Utara berlangsung selama 24 tahun. Pertempuran diawali dari Bahal Batu sebagai pusat pertahanan Belanda tahun 1877. Untuk menghadapi Perang Batak (sebutan perang di Sumatra Utara), Belanda menarik pasukan dari Aceh. Pasukan Sisingamangaraja dapat dikalahkan setelah Kapten Christoffel berhasil mengepung benteng terakhir Sisingamangaraja di Pakpak. Kedua putra beliau Patuan Nagari dan Patuan Anggi ikut gugur, sehingga seluruh Tapanuli dapat dikuasai Belanda. Semoga membantu :)


Iklan

Nur S

28 November 2021 07:01

Jawaban terverifikasi

Halo Rahmat Sepuluh perlawanan yang terjadi pada masa kolonialisme, adalah Perlawanan Rakyat Aceh, Perlawanan Sisingamangaraja XII, Perang Padri, Perlawanan Rakyat Lampung, Perang Diponegoro, Perang Jagaraga, Perlawanan Pattimura, Perang Banjar, Perlawanan Rakyat Makassar, Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa. Yuk simak pembahasannya 1. Perlawanan Kesultanan Aceh terhadap pemerintah kolonial Belanda atau yang dikenal dengan Perang Aceh berlangsung cukup lama, yaitu antara tahun 1873 hingga 1904. Rakyat Aceh dikenal gigih dalam melawan Belanda. Bahkan, Belanda dibuat kewalahan oleh pasukan Aceh. Salah satu cara yang dilakukan oleh Belanda dalam upaya menaklukan Aceh dan mengetahui kelemahan pasukan Aceh adalah dengan mengirim seorang orientalis bernama Snouck Hurgronje. Pada saat itu Snouck Hurgronje berhasil masuk ke dalam kehidupan rakyat Aceh dengan berpura-pura sebagai ulama. Berdasarkan hasil penelitiannya, Snouck berkesimpulan bahwa perlawanan rakyat Aceh dapat dipadamkan jika peran ulama di dalam rakyat Aceh berhasil ditumpas. 2. Perlawanan Raja Sisimangaraja XII di Sumatera Utara terhadap Belanda disebabkan karena raja tidak senang dengan daerah kekuasaannya yang diperkecil oleh pemerintah kolonial sebagai dampak dari usaha Pax Netherlandica Belanda. Selain itu, Raja Sisimangaraja XII juga menolak kehadiran misionaris yang mulai mengembangkan agama Kristen di Silindung. Sejak tahun 1904, perlawanan mulai melemah dengan Belanda yang berhasil memukul mundur pasukan Raja Sisimangaraja XII. Walaupun istri dan dua anaknya berhasil ditangkap oleh pasukan gerak cepat Belanda, Marsose, pada tahun 1907, namun sang raja berhasil melarikan diri ke Simsim. Perlawanan berakhir setelah Raja Sisingamaraja XII gugur dalam pertempuran pada tanggal 17 Juni 1907. 3. Perang Padri adalah peperangan yang berlangsung di Sumatra Barat dan sekitarnya terutama di kawasan Kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838. Perang ini merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan. Adapun tokoh yang berperan penting dalam perang ini adalah Tuanku Imam Bonjol. Fase perang ini berlangsung tahun 1821 – 1838. Tuanku Imam Bonjol lalu mengajak Kaum Adat agar menyadari tipuan Belanda dan akhirnya bersatu melawan Belanda. Perang diakhiri dengan kekalahan di pihak Padri dan Adat karena militer Belanda yang cukup kuat. 4. Perlawanan masyarakat Lampung dipimpin oleh beberapa tokoh yaitu Raden Intan I, Raden Imba II, Bathin Mangunang dan Raden Intan II. Sebelum abad 19, Lampung adalah wilayah yang memiliki hubungan dekat dengan Banten. Namun pada abad 19 setelah Kesultanan Banten mengalami kemunduran dan berhasil di taklukkan oleh Belanda, hubungan Lampung dengan Banten juga mengalami kerenggangan. Penguasaan Belanda atas Banten tersebut kemudian berpengaruh bagi wilayah Lampung. Belanda yang mengetahui bahwa Lampung adalah wilayah penghasil lada, cengkih dan kopi kemudian ingin menguasainya. Keserakahan Belanda inilah yang kemudian menyulut kemarahan pemimpin dan masyarakat Lampung yang pada ahirnya melakukan perlawanan. Awal perlawanan masyarakat Lampung pada abad 19 di pimpin oleh Pangeran Indra Kesuma, dan terus berlanjut dengan dipimpin oleh ke empat tokoh yang telah di sebutkan di atas. 5. Perang Diponegoro yang juga dikenal dengan sebutan Perang Jawa adalah perang besar dan berlangsung selama lima tahun (1825-1830) di Pulau Jawa. Perang ini merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama masa pendudukannya di Nusantara, melibatkan pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal Hendrik Merkus de Kock yang berusaha meredam perlawanan penduduk Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro lewat strategi pengepungan benteng yang disebut benteng stelsel. Penyebab perang Diponegoro adalah adanya patok-patok jalan yang dipasang orang-orang kepatihan atas perintah Belanda untuk melintasi makam leluhur Pangeran Diponegoro , hal ini menyulutkan amarah dari pangeran Diponegoro, disamping itu Belanda selalu ikut campur dalam urusan keraton dan menindas rakyat. Hal tersebut menjadi faktor pecahnya perang Diponegoro. 6. Perang Buleleng atau Perang Puputan Jagaraga merupakan perang antara Kerajaan Buleleng dengan Belanda pada tahun 1846. Perang ini disebut dengan “Perang Puputan” karena dijiwai oleh semangat “puputan”, yakni perang habis-habisan (sampai titik darah penghabisan) dengan pengorbanan luar biasa seluruh masyarakat Bali untuk membela daerahnya dari penjajahan Belanda. Istilah “Jagaraga” merujuk pada benteng pertahanan Kerajaan Buleleng saat perang yang terletak di atas bukit di Desa Jagaraga, Kabupaten Buleleng. Perang Puputan Jagaraga dilatarbelakangi oleh adanya perampasan kapal-kapal milik Belanda yang kandas di pantai Prancah (Bali Barat) dan Sangsit (Buleleng) pada tahun 1844. Belanda meminta kerajaan Buleleng melepaskan kapal-kapal tersebut, dengan alasan tidak sesuai dengan perjanjian yang pernah dibuat pada tahun 1843. Kerajaan Bali menolaknya dengan alasan bahwa hal ini sudah merupakan Hak Tawan Karang yang berlaku di Bali secara turun temurun. 7. Latar belakang timbulnya perlawanan Pattimura, di samping adanya tekanan-tekanan yang berat di bidang ekonomi sejak kekuasaan VOC juga dikarenakan sebab ekonomis. Yakni adanya tindakan-tindakan pemerintah Belanda yang memperberat kehidupan rakyat, seperti sistem penyerahan secara paksa, kewajiban kerja blandong, penyerahan atap dan gaba-gaba, penyerahan ikan asin, dendeng dan kopi. Selain itu, beredarnya uang kertas yang menyebabkan rakyat Maluku tidak dapat menggunakannya untuk keperluan sehari-hari karena belum terbiasa. 8. Perang Banjar merupakan pertempuran antara pasukan Kesultanan Banjar di bawah pimpinan Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari menghadapi pasukan Belanda. Perang Banjar dilatarbelakangi oleh tindakan semena-mena penjajah Belanda di Kalimantan serta intervensi Belanda dalam internal Kesultanan Banjar. Intervensi tersebut terlihat dalam proses pemilihan Sultan. Belanda selanjutnya mengangkat Tamjidillah sebagai Sultan. Hal tersebut bertentangan dengan surat wasiat Sultan Adam yang menunjuk Pangeran Hidayatullah sebagai Sultan. Pertempuran selanjutnya tidak dapat dihindarkan. Pada tanggal 28 April 1859 orang-orang Muning yang dipimpin oleh Panembahan Aling melakukan penyerangan terhadap Belanda. Pada bulan Agustus 1859, Pangeran Antasari memimpin pasukan dan berhasil menyerang benteng Belanda di Tabanio. Namun, dalam perkembangannya, perlawanan Banjar harus menemui kekalahan setelah ditangkapnya Pangeran Hidayatullah beserta anggota keluarganya pada 28 Februari 1862. 9. Sultan Hasanuddin merupakan sultan ke-16 yang memerintah Kesultanan Gowa (1653-1669). Gowa merupakan salah satu kesultanan di Makassar, bersama dengan Tallo maka dua kerajaan ini sering disebut dengan Kesultanan Makassar. Masa pemerintah Sultan Hasanuddin, kesultanan ini terlibat perang dengan VOC. Adapun latar belakangg perlawanan Sultan Hasanuddin, ialah VOC menganggap Makassar sebagai pelabuhan gelap, VOC mengadakan blokade terhadap Makassar, Sultan Hasanuddin menolak monopoli perdagangan oleh VOC. Keberaniannya melawan penjajahan membuat dirinya disebut dengan Ayam Jantan dari Timur. 10. Perlawanan Sultan Ageng terhadap VOC dimulai pada tahun 1656. Saat itu, Sultan Ageng memerintahkan pasukan Banten untuk melakukan gerilya besar-besaran dengan melakukan perusakan terhadap kebun-kebun tebu milik VOC, menyergap serdadu patroli VOC, dan membakar markas patroli VOC. Semoga membantu ya :)


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

. Puncak kemarahan diponegoro terjadi dan hingga meletuslah perang setelah...

14

5.0

Jawaban terverifikasi