1. Candi Borobudur
Candi Borobudur adalah candi peningalan agama Budha dan termasuk salah satu dari 7 keajaiban dunia. Candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah, kurang lebih 100 km arah Barat Daya kota Semarang atau 40 km arah Barat Laut kota Yogyakarta dan 86 km di sebelah barat Surakarta. Candi Borobudur dibangun oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800 Masehi masa pemerintahan wangsa Syailendra dari kerajaan Mataram.
Candi Borobudur berbentuk punden berundak dengan 6 tingkat bagian bawah berbentuk bujur sangkar, 3 tingkat bagian atas berbentuk bundar melingkar. Di puncak candi, ada sebuah stupa utama yang teletak di tengah sekaligus memahkotai candi dan dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca Buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Candi Borobudur merupakan batu yang dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha dan sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia sesuai ajaran agama Buddha. Kini, Candi Borobudur juga digunakan sebagai tempat wisata yang paling banyak dikunjungi wisatawan.
2. Candi Mendut
Candi dengan tinggi bangunan 26,4 meter ini terletak di Jalan Mayor Kusen, Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Letak candi berada sekitar 3 kilometer dari candi Borobudur dan diperkirakan dibuat pada masa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra sekitar tahun 824 Masehi. J.G. de Carparis seorang arkeolog Belanda menemukan jejak keberadaan candi ini pada tahun 1908. Home » Agama » Buddha » 31 Candi Peninggalan Budha di Indonesia
31 Candi Peninggalan Budha di Indonesia
written by Adara Primadia
Agama Budha yang masuk ke Indonesia sejak abad ke 2 Masehi telah banyak mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat, seperti aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya Indonesia serta mengubah kepercayaan penduduk Indonesia yang awalnya animisme dan dinamisme menjadi percaya pada ajaran Sidharta Gautama. Agama Budha telah meninggalkan beberapa bangunan bernilai historis tinggi berupa candi-candi yang kini tersebar di Pulau Jawa maupun luar Jawa.
Candi merupakan salah satu jenis karya seni tiga dimensi yang digunakan untuk tempat tinggal para dewa yang sebenarnya, yaitu Gunung Mahameru, sehingga seni arsitekturnya dihias dengan berbagai macam ukiran dan pahatan berupa pola hias yang disesuaikan dengan alam Gunung Mahameru. Candi biasanya merujuk kepada sebuah bangunan keagamaan tempat ibadah peninggalan purbakala yang berasal dari peradaban Buddha.
Bangunan candi sering digunakan sebagai tempat pemujaan atau memuliakan Buddha. Selain itu, Istilah ‘candi’ tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja, banyak situs purbakala non-religius dari masa Buddha Indonesia klasik juga disebut dengan istilah candi.
Ciri-ciri candi Budha yaitu:
Adanya stupa pada puncak candi, seperti seperti abu jenazah, kerangka, potongan kuku, rambut atau gigi yang dipercaya milik Buddha Gautama/ Bhiksu Buddha terkemuka/ keluarga kerajaan penganut Buddha,
Adanya arca Buddha Gautama
Adanya relief yang mengisahkan ajaran agama Budha
Bentuk bangunan bertingkat dan cenderung tambun
Fungsi utamanya sebagai tempat pemujaan
Struktur candi terbagi menjadi 3 yaitu kamadatu, rupadatu dan arupadatu
Pada pintu candi terdapat Kala dengan mulut menganga dengan makara ganda di masing – masing sisi pintu tanpa rahang bawah.
Candi utama berada di tengah candi-candi kecil, seperti Candi Borobudur
Berikut ini adalah beberapa candi peninggalan agama Budha di Indonesia :
Candi Borobudur
Candi Borobudur adalah candi peningalan agama Budha dan termasuk salah satu dari 7 keajaiban dunia. Candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah, kurang lebih 100 km arah Barat Daya kota Semarang atau 40 km arah Barat Laut kota Yogyakarta dan 86 km di sebelah barat Surakarta. Candi Borobudur dibangun oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800 Masehi masa pemerintahan wangsa Syailendra dari kerajaan Mataram.
Candi Borobudur berbentuk punden berundak dengan 6 tingkat bagian bawah berbentuk bujur sangkar, 3 tingkat bagian atas berbentuk bundar melingkar. Di puncak candi, ada sebuah stupa utama yang teletak di tengah sekaligus memahkotai candi dan dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca Buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Candi Borobudur merupakan batu yang dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha dan sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia sesuai ajaran agama Buddha. Kini, Candi Borobudur juga digunakan sebagai tempat wisata yang paling banyak dikunjungi wisatawan.
Candi Mendut
Candi dengan tinggi bangunan 26,4 meter ini terletak di Jalan Mayor Kusen, Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Letak candi berada sekitar 3 kilometer dari candi Borobudur dan diperkirakan dibuat pada masa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra sekitar tahun 824 Masehi. J.G. de Carparis seorang arkeolog Belanda menemukan jejak keberadaan candi ini pada tahun 1908.
Di dalam Prasasti Karangtengah, disebutkan bahwa Raja Indra membangun bangunan suci bernama veluvana yang artinya adalah hutan bambu. Candi ini dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan, seperti bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda. Candi yang terbuat dari batu bata dengan penutup batu alam ini terletak pada sebuah basement yang tinggi.
Tangga naik dan pintu masuk candi menghadap ke barat-daya; atap candi bertingkat tiga dan dihiasi dengan 48 stupa-stupa kecil; bagian atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi. Di bagian depan Arca Buddha, terdapat relief berbentuk roda dan diapit sepasang rusa yang melambangkan Buddha; sebelah kiri terdapat arca Awalokiteśwara (Padmapāņi) dan sebelah kanan arca Wajrapāņi. Relief-reliefnya yaitu berbentuk ukiran Rrahmana dan seekor kepiting; angsa dan kura-kura; Dharmabuddhi dan Dustabuddhi dan dua burung betet yang berbeda.
3. Candi Ngawen
Candi Ngawen yang terletak di desa Ngawen, Magelang, dibangun pada masa kekuasaan wangsa Syailendra atas Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini terdiri dari dua candi kecil yang dihiasi oleh patung singa pada keempat sudutnya. Relief di sisi candi terdapat ukiran Kinnara, Kinnari dan kala-makara. Candi ini dibangun oleh wangsa Syailendra pada abad ke-8 zaman Kerajaan Mataram Kunoa sekitar tahun 824 M.
4. Candi Lumbung
Candi Lumbung yang dibuat pada abad ke-9 Masehi di masa Kerajaan Mataram Kuno ini berada di sebelah candi Bubrah, Klaten. Candi Lumbung merupakan kumpulan dari suatu kompleks candi utama bertema Buddha yang dikelilingi oleh 16 buah candi kecil yang keadaannya masih relatif cukup bagus dan banyak dikunjungi para wisatawan mancanegara.
5. Candi Banyunibo
Candi Banyunibo dibangun pada zaman Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-9 M dan terdapat sebuah stupa di bagian atasnya yang menjadikan ciri khas dari candi bercorak Buddha. Candi Banyunibo yang berarti air jatuh menetes (dalam bahasa Jawa) terletak di sebelah timur kota Yogyakarta dan berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko. Ciri-ciri dari terdapat ukiran relief kala-makara. Candi yang mempunyai bagian ruangan tengah ini pertama kali ditemukan dan diperbaiki kembali pada tahun 1940-an, dan sekarang berada di tengah wilayah persawahan.
6. Candi Muara Takus
Candi Muara Takus yang terbuat dari batu sungai, batu pasir dan batu bata ini terletak di Desa Muara Takus, Riau, tepatnya di 134 km dari arah Barat kota Pekanbaru. Di dalamnya, terdapat beberapa bangunan candi yaitu Candi Sulung/ Tua, Bungsu, Mahligai dan Palangka. Para pakar belum dapat menentukan secara pasti kapan candi didirikan, tetapi candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya.
Kompleks candi tertua di Sumatera ini dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter dan tembok tanah sebesar 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks sampal ke pinggir Sungai Kampar Kanan, Riau. Candi ini dicalonkan untuk menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO pada tahun 2009
7. Candi Brahu
Home » Agama » Buddha » 31 Candi Peninggalan Budha di Indonesia
31 Candi Peninggalan Budha di Indonesia
written by Adara Primadia
Agama Budha yang masuk ke Indonesia sejak abad ke 2 Masehi telah banyak mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat, seperti aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya Indonesia serta mengubah kepercayaan penduduk Indonesia yang awalnya animisme dan dinamisme menjadi percaya pada ajaran Sidharta Gautama. Agama Budha telah meninggalkan beberapa bangunan bernilai historis tinggi berupa candi-candi yang kini tersebar di Pulau Jawa maupun luar Jawa.
Candi merupakan salah satu jenis karya seni tiga dimensi yang digunakan untuk tempat tinggal para dewa yang sebenarnya, yaitu Gunung Mahameru, sehingga seni arsitekturnya dihias dengan berbagai macam ukiran dan pahatan berupa pola hias yang disesuaikan dengan alam Gunung Mahameru. Candi biasanya merujuk kepada sebuah bangunan keagamaan tempat ibadah peninggalan purbakala yang berasal dari peradaban Buddha.
Bangunan candi sering digunakan sebagai tempat pemujaan atau memuliakan Buddha. Selain itu, Istilah ‘candi’ tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja, banyak situs purbakala non-religius dari masa Buddha Indonesia klasik juga disebut dengan istilah candi.
Ciri-ciri candi Budha yaitu:
Adanya stupa pada puncak candi, seperti seperti abu jenazah, kerangka, potongan kuku, rambut atau gigi yang dipercaya milik Buddha Gautama/ Bhiksu Buddha terkemuka/ keluarga kerajaan penganut Buddha,
Adanya arca Buddha Gautama
Adanya relief yang mengisahkan ajaran agama Budha
Bentuk bangunan bertingkat dan cenderung tambun
Fungsi utamanya sebagai tempat pemujaan
Struktur candi terbagi menjadi 3 yaitu kamadatu, rupadatu dan arupadatu
Pada pintu candi terdapat Kala dengan mulut menganga dengan makara ganda di masing – masing sisi pintu tanpa rahang bawah.
Candi utama berada di tengah candi-candi kecil, seperti Candi Borobudur
Berikut ini adalah beberapa candi peninggalan agama Budha di Indonesia :
Candi Borobudur
Candi Borobudur adalah candi peningalan agama Budha dan termasuk salah satu dari 7 keajaiban dunia. Candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah, kurang lebih 100 km arah Barat Daya kota Semarang atau 40 km arah Barat Laut kota Yogyakarta dan 86 km di sebelah barat Surakarta. Candi Borobudur dibangun oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800 Masehi masa pemerintahan wangsa Syailendra dari kerajaan Mataram.
Candi Borobudur berbentuk punden berundak dengan 6 tingkat bagian bawah berbentuk bujur sangkar, 3 tingkat bagian atas berbentuk bundar melingkar. Di puncak candi, ada sebuah stupa utama yang teletak di tengah sekaligus memahkotai candi dan dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca Buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Candi Borobudur merupakan batu yang dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha dan sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia sesuai ajaran agama Buddha. Kini, Candi Borobudur juga digunakan sebagai tempat wisata yang paling banyak dikunjungi wisatawan.
Candi Mendut
Candi dengan tinggi bangunan 26,4 meter ini terletak di Jalan Mayor Kusen, Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Letak candi berada sekitar 3 kilometer dari candi Borobudur dan diperkirakan dibuat pada masa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra sekitar tahun 824 Masehi. J.G. de Carparis seorang arkeolog Belanda menemukan jejak keberadaan candi ini pada tahun 1908.
Di dalam Prasasti Karangtengah, disebutkan bahwa Raja Indra membangun bangunan suci bernama veluvana yang artinya adalah hutan bambu. Candi ini dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan, seperti bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda. Candi yang terbuat dari batu bata dengan penutup batu alam ini terletak pada sebuah basement yang tinggi.
Tangga naik dan pintu masuk candi menghadap ke barat-daya; atap candi bertingkat tiga dan dihiasi dengan 48 stupa-stupa kecil; bagian atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi. Di bagian depan Arca Buddha, terdapat relief berbentuk roda dan diapit sepasang rusa yang melambangkan Buddha; sebelah kiri terdapat arca Awalokiteśwara (Padmapāņi) dan sebelah kanan arca Wajrapāņi. Relief-reliefnya yaitu berbentuk ukiran Rrahmana dan seekor kepiting; angsa dan kura-kura; Dharmabuddhi dan Dustabuddhi dan dua burung betet yang berbeda.
Baca juga:
Pahlawan Nasional Wanita di Indonesia
Peristiwa G30S/PKI 1965
Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara
Candi Ngawen
Candi Ngawen yang terletak di desa Ngawen, Magelang, dibangun pada masa kekuasaan wangsa Syailendra atas Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini terdiri dari dua candi kecil yang dihiasi oleh patung singa pada keempat sudutnya. Relief di sisi candi terdapat ukiran Kinnara, Kinnari dan kala-makara. Candi ini dibangun oleh wangsa Syailendra pada abad ke-8 zaman Kerajaan Mataram Kunoa sekitar tahun 824 M.
Candi Lumbung
Candi Lumbung yang dibuat pada abad ke-9 Masehi di masa Kerajaan Mataram Kuno ini berada di sebelah candi Bubrah, Klaten. Candi Lumbung merupakan kumpulan dari suatu kompleks candi utama bertema Buddha yang dikelilingi oleh 16 buah candi kecil yang keadaannya masih relatif cukup bagus dan banyak dikunjungi para wisatawan mancanegara.
Candi Banyunibo
Candi Banyunibo dibangun pada zaman Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-9 M dan terdapat sebuah stupa di bagian atasnya yang menjadikan ciri khas dari candi bercorak Buddha. Candi Banyunibo yang berarti air jatuh menetes (dalam bahasa Jawa) terletak di sebelah timur kota Yogyakarta dan berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko. Ciri-ciri dari terdapat ukiran relief kala-makara. Candi yang mempunyai bagian ruangan tengah ini pertama kali ditemukan dan diperbaiki kembali pada tahun 1940-an, dan sekarang berada di tengah wilayah persawahan.
Candi Muara Takus
Candi Muara Takus yang terbuat dari batu sungai, batu pasir dan batu bata ini terletak di Desa Muara Takus, Riau, tepatnya di 134 km dari arah Barat kota Pekanbaru. Di dalamnya, terdapat beberapa bangunan candi yaitu Candi Sulung/ Tua, Bungsu, Mahligai dan Palangka. Para pakar belum dapat menentukan secara pasti kapan candi didirikan, tetapi candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya.
Kompleks candi tertua di Sumatera ini dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter dan tembok tanah sebesar 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks sampal ke pinggir Sungai Kampar Kanan, Riau. Candi ini dicalonkan untuk menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO pada tahun 2009
Candi Brahu
Candi Brahu yang didirikan abad ke 15 Masehi ini dibangun dengan gaya dan kultur Buddha. Candi peninggalan agama Budha ini digunakan sebagai krematorium jenazah raja-raja Kerajaan Brawijaya. Candi ini merupakan salah satu candi yang terletak di dalam kawasan situs arkeologi Trowulan, yang berada satu kompleks vihara dengan Patung Buddha Tidur, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Sejarah patung buddha tidur pun tak berbeda jauh dengan sejarah candi brahu.
Candi yang berasal dari kata wanaru atau warahu dibangun dengan batu bata merah, menghadap ke arah barat dengan panjang sekitar 22,5 m, lebar 18 m dan ketinggi 20 meter. Di sekitar candi ini terdapat candi-candi kecil, yaitu Candi Muteran, Candi Gedung, Candi Tengah, dan Candi Gentong.
8. Kompleks Percandian Batujaya
Kompleks Percandian Batujaya merupakan kompleks sisa-sisa percandian Buddha kuno yang terletak di Kecamatan Batujaya, Karawang, Jawa Barat. Ciri-ciri percandian ini hanya ditemukan bagian kaki atau dasar bangunan, kecuali sisa bangunan di situs Candi Blandongan. Candi-candi yang sebagian besar berada di dalam tanah berbentuk gundukan bukit.
9. Candi Sumberawan
Candi Sumberawan hanya berupa stupa kaki dan badan ini terletak di Desa Toyomarti, Kecamatan Singosari, Malang dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari. Candi ini dibuat dari batu andesit dengan panjang 6,25 m, lebar 6,25 m dan tinggi 5,23 m dan dibangun pada ketinggian 650 mdpl, di kaki bukit Gunung Arjuna. Candi ini dikelilingi sebuah telaga yang sangat bening airnya, sehingga candi ini sering disebut Candi Rawan.
Di atas kaki candi ini berdiri stupa berbentuk bujur sangkar, segi delapan dengan bantalan Padma, dan bagian atasnya berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang. Diperkirakan candi ini dahulu memang didirikan untuk pemujaan. Bentuk stupa candi ini menunjukkan latar belakang keagamaan yang bersifat Buddhisme.
10. Candi Sewu
Candi Sewu (Manjusrughra) merupakan candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur yang berada di dalam kompleks Candi Prambanan. Candi Sewu diperkirakan dibangun pada saat kerajaan Mataram Kuno oleh raja Rakai Panangkaran (746 – 784) abad ke-8. Di dalam candi sebenarnya hanya terdapat 249 candi, namun karena legenda Roro Jonggrang, candi ini dinamakan candi sewu (seribu) karena jumlah candi yang sangat banyak. Kompleks Candi Sewu terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.
Berdasarkan Prasasti Kelurak dan Prasasti Manjusrigrha, nama asli candi ini adalah ”Prasada Vajrasana Manjusrigrha”. Prasada ini artinya candi atau kuil, sedangkan Vajrajasana artinya tempat Wajra (intan atau halilintar) bertakhta, sedangkan Manjusri-grha artinya rumah Manjusri, salah satu Boddhisatwa dalam ajaran buddha.