Ichaa I

23 Agustus 2022 12:43

Iklan

Ichaa I

23 Agustus 2022 12:43

Pertanyaan

Praktik Kerukunan pada Masyarakat Suku Tengger Masyarakat suku Tengger hidup penuh dengan kerukunan meskipun mereka memiliki perbedaan latar belakang agama. kerukunan masyarakat suku Tengger terilihat dari praktik-praktik sosial yang biasa mereka lakukan setiap hari. Pada masyarakat suku Tengger praktik saling menghormati ditunjukkan dengan kesediaan memenuhi undangan dari orang lain. Praktik ini disebut dengan istilah sayan. Apabila seseorang mendapatkan undangan untuk menghadiri hajatan warga lain, ia harus hadir, begitu pula sebaliknya.Tradisi membagi makanan juga menjadi praktik yang biasa dilakukan, terutama pada saat hari raya. Sebagai contoh, pada hari raya Karo terdapat tradisi genten cecelukan, yaitu tradisi saling mengundang makan tetangga. Dalam kehidupan secara kolektif pun, masyarakat suku Tengger melakukan kegiatan bersama-sama seperti gotong royong tanpa membeda bedakan agama.Bahkan uniknya,dalam pembangunan rumah ibadah semua orang turut berpartisipasi tanpa terkecuali. Untuk kegiatan yang merupakan kepentingan pribadi seperti hajatan dan rumah ibadah semua warga turut berpartisipasi, tanpa membangun atau memperbaiki rumah, warga suku Tengger juga saling Dantu atau atau pekerjaan, warga lain akan membantu. Selanjutnya, ketika warga lain memiliki sebut dengan istilah gentenan. Dalam tradisi gentenan, ketika nejatan atau pekerjaan, warga yang pernah dibantu akan membantu. Demikian seterusnya. Nilai Karakter apa yang terkandung dalam wacana tersebut? Kemukakan pendapat Anda Perlu Anda pahami, melalui tradisi tersebut kerukunan dan solidaritas masyarakat suku Tengger makin meningkat.

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

14

:

02

:

06

Klaim

1

1


Iklan

Nanda R

Community

19 Juni 2024 03:21

<p>Wacana tentang praktik kerukunan masyarakat suku Tengger mencerminkan beberapa nilai karakter yang sangat penting. Berikut adalah nilai-nilai karakter yang terkandung dalam wacana tersebut dan penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana tradisi-tradisi tersebut memperkuat kerukunan dan solidaritas masyarakat:</p><p>1. <strong>Toleransi</strong></p><ul><li><strong>Deskripsi</strong>: Toleransi adalah sikap menghargai perbedaan dan hidup berdampingan secara damai meskipun terdapat perbedaan latar belakang, termasuk perbedaan agama.</li><li><strong>Contoh dalam Wacana</strong>: Masyarakat suku Tengger menunjukkan toleransi melalui kesediaan menghadiri undangan hajatan dan partisipasi dalam kegiatan bersama tanpa membedakan agama. Misalnya, semua orang turut berpartisipasi dalam pembangunan rumah ibadah tanpa memandang agama.</li></ul><p>2. <strong>Gotong Royong</strong></p><ul><li><strong>Deskripsi</strong>: Gotong royong adalah kerja sama dan saling membantu dalam menyelesaikan pekerjaan atau menghadapi masalah bersama.</li><li><strong>Contoh dalam Wacana</strong>: Masyarakat suku Tengger secara kolektif melakukan kegiatan bersama seperti gotong royong. Ini termasuk membantu dalam pembangunan rumah ibadah dan hajatan warga lain, menunjukkan semangat kerja sama yang tinggi.</li></ul><p>3. <strong>Saling Menghormati</strong></p><ul><li><strong>Deskripsi</strong>: Saling menghormati adalah sikap menghargai orang lain, termasuk menghormati undangan dan tradisi yang ada.</li><li><strong>Contoh dalam Wacana</strong>: Tradisi sayan, di mana masyarakat Tengger selalu memenuhi undangan orang lain untuk menghadiri hajatan, adalah bentuk nyata dari saling menghormati.</li></ul><p>4. <strong>Solidaritas</strong></p><ul><li><strong>Deskripsi</strong>: Solidaritas adalah perasaan satu dan sepenanggungan dalam kelompok masyarakat, di mana anggota kelompok saling mendukung.</li><li><strong>Contoh dalam Wacana</strong>: Tradisi genten cecelukan dan gentenan menunjukkan solidaritas yang kuat, di mana warga saling mengundang makan dan membantu pekerjaan satu sama lain, membentuk ikatan yang kuat di antara mereka.</li></ul><p>5. <strong>Kebersamaan</strong></p><ul><li><strong>Deskripsi</strong>: Kebersamaan adalah perasaan bersama dan keterikatan dalam melakukan kegiatan atau menghadapi tantangan.</li><li><strong>Contoh dalam Wacana</strong>: Partisipasi seluruh warga dalam kegiatan seperti gotong royong dan tradisi makan bersama menunjukkan kebersamaan yang kuat.</li></ul><p>6. <strong>Empati</strong></p><ul><li><strong>Deskripsi</strong>: Empati adalah kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan atau kondisi orang lain, serta berusaha membantu mereka.</li><li><strong>Contoh dalam Wacana</strong>: Partisipasi dalam kegiatan yang merupakan kepentingan pribadi warga lain, seperti membantu dalam hajatan atau pembangunan rumah, menunjukkan empati yang tinggi dari masyarakat Tengger.</li></ul><p>7. <strong>Keadilan Sosial</strong></p><ul><li><strong>Deskripsi</strong>: Keadilan sosial adalah sikap memperlakukan semua orang dengan adil tanpa diskriminasi.</li><li><strong>Contoh dalam Wacana</strong>: Tidak ada perbedaan perlakuan dalam membantu satu sama lain, baik dalam kegiatan kolektif maupun individu, menunjukkan adanya keadilan sosial di masyarakat Tengger.</li></ul><p>Refleksi</p><p>Melalui tradisi-tradisi tersebut, nilai-nilai seperti toleransi, gotong royong, saling menghormati, solidaritas, kebersamaan, empati, dan keadilan sosial bukan hanya dipertahankan tetapi juga diperkuat. Praktik-praktik ini memungkinkan masyarakat suku Tengger untuk hidup harmonis meskipun ada perbedaan latar belakang agama. Tradisi sayan, genten cecelukan, dan gentenan memastikan bahwa setiap individu merasa dihargai dan didukung, yang pada akhirnya meningkatkan kerukunan dan solidaritas dalam masyarakat. Dengan demikian, nilai-nilai karakter ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan kerukunan sosial di suku Tengger.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p>

Wacana tentang praktik kerukunan masyarakat suku Tengger mencerminkan beberapa nilai karakter yang sangat penting. Berikut adalah nilai-nilai karakter yang terkandung dalam wacana tersebut dan penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana tradisi-tradisi tersebut memperkuat kerukunan dan solidaritas masyarakat:

1. Toleransi

  • Deskripsi: Toleransi adalah sikap menghargai perbedaan dan hidup berdampingan secara damai meskipun terdapat perbedaan latar belakang, termasuk perbedaan agama.
  • Contoh dalam Wacana: Masyarakat suku Tengger menunjukkan toleransi melalui kesediaan menghadiri undangan hajatan dan partisipasi dalam kegiatan bersama tanpa membedakan agama. Misalnya, semua orang turut berpartisipasi dalam pembangunan rumah ibadah tanpa memandang agama.

2. Gotong Royong

  • Deskripsi: Gotong royong adalah kerja sama dan saling membantu dalam menyelesaikan pekerjaan atau menghadapi masalah bersama.
  • Contoh dalam Wacana: Masyarakat suku Tengger secara kolektif melakukan kegiatan bersama seperti gotong royong. Ini termasuk membantu dalam pembangunan rumah ibadah dan hajatan warga lain, menunjukkan semangat kerja sama yang tinggi.

3. Saling Menghormati

  • Deskripsi: Saling menghormati adalah sikap menghargai orang lain, termasuk menghormati undangan dan tradisi yang ada.
  • Contoh dalam Wacana: Tradisi sayan, di mana masyarakat Tengger selalu memenuhi undangan orang lain untuk menghadiri hajatan, adalah bentuk nyata dari saling menghormati.

4. Solidaritas

  • Deskripsi: Solidaritas adalah perasaan satu dan sepenanggungan dalam kelompok masyarakat, di mana anggota kelompok saling mendukung.
  • Contoh dalam Wacana: Tradisi genten cecelukan dan gentenan menunjukkan solidaritas yang kuat, di mana warga saling mengundang makan dan membantu pekerjaan satu sama lain, membentuk ikatan yang kuat di antara mereka.

5. Kebersamaan

  • Deskripsi: Kebersamaan adalah perasaan bersama dan keterikatan dalam melakukan kegiatan atau menghadapi tantangan.
  • Contoh dalam Wacana: Partisipasi seluruh warga dalam kegiatan seperti gotong royong dan tradisi makan bersama menunjukkan kebersamaan yang kuat.

6. Empati

  • Deskripsi: Empati adalah kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan atau kondisi orang lain, serta berusaha membantu mereka.
  • Contoh dalam Wacana: Partisipasi dalam kegiatan yang merupakan kepentingan pribadi warga lain, seperti membantu dalam hajatan atau pembangunan rumah, menunjukkan empati yang tinggi dari masyarakat Tengger.

7. Keadilan Sosial

  • Deskripsi: Keadilan sosial adalah sikap memperlakukan semua orang dengan adil tanpa diskriminasi.
  • Contoh dalam Wacana: Tidak ada perbedaan perlakuan dalam membantu satu sama lain, baik dalam kegiatan kolektif maupun individu, menunjukkan adanya keadilan sosial di masyarakat Tengger.

Refleksi

Melalui tradisi-tradisi tersebut, nilai-nilai seperti toleransi, gotong royong, saling menghormati, solidaritas, kebersamaan, empati, dan keadilan sosial bukan hanya dipertahankan tetapi juga diperkuat. Praktik-praktik ini memungkinkan masyarakat suku Tengger untuk hidup harmonis meskipun ada perbedaan latar belakang agama. Tradisi sayan, genten cecelukan, dan gentenan memastikan bahwa setiap individu merasa dihargai dan didukung, yang pada akhirnya meningkatkan kerukunan dan solidaritas dalam masyarakat. Dengan demikian, nilai-nilai karakter ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan kerukunan sosial di suku Tengger.

 

 

 


Iklan

Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Identifikasikan lima dampak positif konflik sosial!

15

5.0

Jawaban terverifikasi