Ndah N

11 Agustus 2022 00:46

Iklan

Ndah N

11 Agustus 2022 00:46

Pertanyaan

Praktik Kerukunan pada Masyarakat Suku Tengger Masyarakat suku Tengger hidup penuh dengan kerukunan meskipun mereka memiliki perbedaan latar belakang agama. Kerukunan masyarakat suku Tengger terlihat dari praktik-praktik sosial yang biasa mereka lakukan setiap hari. Pada masyarakat suku Tengger praktik saling menghormati ditunjukkan dengan kesediaan memenuhi undangan dari orang lain. Praktik ini disebut dengan istilah sayan. Apabila seseorang mendapatkan undangan untuk menghadiri hajatan warga lain, ia harus hadir, begitu pula sebaliknya. Tradisi membagi makanan juga menjadi praktik yang biasa dilakukan, terutama pada saat hari raya. Sebagai contoh, pada hari raya Karo terdapat tradisi genten cecelukan, yaitu tradisi saling mengundang makan tetangga. Dalam kehidupan secara kolektif pun, masyarakat suku Tengger melakukan kegiatan bersama-sama seperti gotong royong tanpa membeda-bedakan agama. Bahkan uniknya, dalam pembangunan rumah ibadah semua warga turut berpartisipasi, tanpa terkecuali. Untuk kegiatan yang merupakan kepentingan pribadi seperti hajatan dan membangun atau memperbaiki rumah, warga suku Tengger juga saling bantu atau disebut dengan istilah gentenan. Dalam tradisi gentenan, ketika warga memiliki hajatan atau pekerjaan, warga lain akan membantu. Selanjutnya, ketika warga lain memiliki hajatan atau pekerjaan, warga yang pernah dibantu akan membantu. Demikian seterusnya. Nilai karakter apa yang terkandung dalam wacana tersebut? Kemukakan pendapat Anda! Perlu Anda pahami, melalui tradisi tersebut kerukunan dan solidaritas masyarakat suku Tengger makin meningkat.

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

11

:

15

:

22

Klaim

1

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

K. KSheilaTA

28 April 2023 06:18

Jawaban terverifikasi

<p><strong>Jawaban: menerima perbedaan, menghargai dan menghormati perbedaan tersebut, memiliki toleransi yang tinggi, gemar saling membantu dan bergotong royong tanpa memandang perbedaan.</strong></p><p>&nbsp;</p><p><strong>Pembahasan:</strong></p><p>Indonesia dikenal karena perbedaannya dan keberagamannya. Dari teks di atas dapat dilihat bahwa dalam satu suku (Suku Tengger) masih terdapat perbedaan dalam hal agama. Namun dengan tradisi yang masih dipertahankan dalam yaitu <strong>"sayan"</strong> dan <strong>"gentenan"</strong> membuat suku Tengger hidup dalam keharmonisan di tengah perbedaan. <strong>Beberapa karakter menonjol yang dipertahankan melalui kedua tradisi tersebut adalah:</strong></p><ul><li>Saling menghormati ditunjukkan dengan kesediaan memenuhi undangan dari orang lain.</li><li>Saling membagi makanan pada saat hari raya.</li><li>Saling mengundang makan tetangga.&nbsp;</li><li>Melakukan kegiatan bersama-sama seperti gotong royong tanpa membeda-bedakan agama.&nbsp;</li><li>Dalam pembangunan rumah ibadah semua warga turut berpartisipasi.</li></ul><p>&nbsp;</p><p><strong><u>Dengan demikian, nilai karakter yang terkandung dalam wacana tersebut adalah menerima perbedaan, menghargai dan menghormati perbedaan tersebut, memiliki toleransi yang tinggi, gemar saling membantu dan bergotong royong tanpa memandang perbedaan.</u></strong></p>

Jawaban: menerima perbedaan, menghargai dan menghormati perbedaan tersebut, memiliki toleransi yang tinggi, gemar saling membantu dan bergotong royong tanpa memandang perbedaan.

 

Pembahasan:

Indonesia dikenal karena perbedaannya dan keberagamannya. Dari teks di atas dapat dilihat bahwa dalam satu suku (Suku Tengger) masih terdapat perbedaan dalam hal agama. Namun dengan tradisi yang masih dipertahankan dalam yaitu "sayan" dan "gentenan" membuat suku Tengger hidup dalam keharmonisan di tengah perbedaan. Beberapa karakter menonjol yang dipertahankan melalui kedua tradisi tersebut adalah:

  • Saling menghormati ditunjukkan dengan kesediaan memenuhi undangan dari orang lain.
  • Saling membagi makanan pada saat hari raya.
  • Saling mengundang makan tetangga. 
  • Melakukan kegiatan bersama-sama seperti gotong royong tanpa membeda-bedakan agama. 
  • Dalam pembangunan rumah ibadah semua warga turut berpartisipasi.

 

Dengan demikian, nilai karakter yang terkandung dalam wacana tersebut adalah menerima perbedaan, menghargai dan menghormati perbedaan tersebut, memiliki toleransi yang tinggi, gemar saling membantu dan bergotong royong tanpa memandang perbedaan.


Iklan

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Identifikasikan lima dampak positif konflik sosial!

15

5.0

Jawaban terverifikasi