Rocker R

06 November 2021 06:29

Pertanyaan

PINGGIRAN MENAHAN MIGRASI KE JAKARTA Setelah libur perayaan lebaran usai, dipastikan Jakarta akan dibanjiri pendatang dari luar. Namun dalam kurun waktu enam tahun terakhir, beban Jakarta untuk menampung arus urbanisasi cenderung berkurang. Arus migrasi masuk cenderung turun meski sempat terjadi lonjakan pendatang sebulan setelah idul fitri. Dari data survei Penduduk Antarsensus (Supas) 1995 diketahui sebanyak 33 persen penduduk masuk ke wilayah Jakarta Timur dan 24 persen ke wilayah Jakarta Barat. Sisanya, para migran masuk ke wilayah pusat, utara, dan selatan dengan persentase masing-masing di awah 20 persen. Selama 1971-2000, Bdan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tren migrasi yang masuk ke Jakarta cenderung meningkat. Angka migrasi keluar pun meningkat. Kecenderungan penurunan pendatang baru terjadi pada tahun 2005. Tahun 1971, hasil sensus penduduk menunjukkan sekitar 1,8 juta penduduk masuk ke Jakarta. Pada saat yang bersamaan, hanya 132.000 penduduk yang bermigrasi keluar. Tahun 2000, pendatang meningkat dua kali lipat (sekitar 3,5 juta), sebaliknya 1,83 juta penduduk keluar dari Jakarta. Baru pada tahun 2005, hasil Supas menunjukkan bahwa angka migrasi masuk turun menjadi 3,3 juta jiwa dan migrasi keluar meningkat menjadi 2,05 juta jiwa. Penurunan pendatang selanjutnya juga tercatat oleh Disdukcapil DKI Jakarta. Selama 2008-2010, terjadi penurunan 30 persen penduduk yang datang ke Jakarta. Tahun 2008 masih terdapat sekitar 39.000 pendatang. Dua tahun berikutnya menjadi 30.000 pendatang. Penurunan arus migrasi masuk bukan berarti GULA Jakarta sudah berkurang manisnya. Pengaruh urbanisasi yang cukup deras sejak tahun 1971 sampai 2000 pada akhirnya juga ikut memengaruhi perkembangan daerah sekitarnya, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kepadatan ruang di Jakarta mengakibatkan sebagian kaum urban tinggal di wilayah pinggiran Jakarta untuk mencari tempat tiggal yang lebih layak dan luas. Selain itu, industri yang menjamur di daerah pinggiran Jakarta juga banyak menarik tenaga kerja secara khusus dan penduduk secara umum untuk bermigrasi di wilayah tersebut. Akibatnya, laju pertumbahan penduduk di wilayah penyangga Jakarta cenderung tinggi. Periode 1971-1980, laju pertumbuhan penduduk Jakarta sekitar 5,4 persen per tahun. Namun, periode 2000-2010, laju itu menurun tajam menjadi 1,42 persen. Berbeda dengan Jakarta, pertumbuhan penduduk di wilayah pinggiran Jakarta cenderung tinggi. Selama 2005-2010, angka pertumbuhan penduduk di wilayah administrasi di Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi berkisar antara 2 persen dan 5,5 persen. Disarikan dari internasional.kompas.com edisi 12 September 2011, diakses 6 Januari 2014, 05.30 WIB PERTANYAAN 1. Apa fenomena kependudukan yang kamu amati dari artikel di atas? 2. Dimana fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi? 3. Mengapa fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi? 4. Kapan fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi? 5. Siapa yang terlibat dalam fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi? 6. Bagaimana penyelesaian permasalahan fenomena kependudukan dalam artikel tersebut terjadi?


137

2


T. Purwaningsih

Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Semarang

26 November 2021 04:47

Hallo Rocky, kakak bantu jawab yaa 1. Fenomena kependudukan pada artikel diatas yaitu migrasi, pertumbuhan penduduk, dan kepadatan penduduk Berikut adalah penjelasannya. Migrasi merupakan perpindahan penduduk dari suatu tempat (negara dan sebagainya) ke tempat (negara dan sebagainya) lain dengan tujuan untuk menetap. Pada fenomena tersebut terjadi arus migrasi yaitu perpindahan penduduk desa menuju ke kota, dengan tujuan untuk memperbaiki taraf hidup agar lebih baik. Karena adanya arus migrasi yang kuat tersebut menyebabkan pertumbuhan penduduk di wilayah tujuan juga tinggi yaitu mencapai 5,4% per tahun. Oleh karena itu, kepadatan penduduk di kota Jakarta juga terus meningkat, karena kepadatan penduduk tersebut juga mempengaruhi perkembangan wilayah pinggiran kota seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. 2. Fenomena kependudukan terjadi di kota Jakarta, serta wilayah-wilayah lain di sekitarnya yaitu Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. 3. Fenomena kependudukan tersebut terjadi karena adanya kekurangan lapangan pekerjaan di daerah asal, sehingga mereka bermigrasi ke kota-kota besar untuk mengadu nasib dengan harapan memperoleh pekerjaan yang lebih cocok. Adanya keinginan untuk memperbaiki taraf hidup, agar mereka tidak lagi kekurangan pangan serta dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Semoga membantu ya.


Iklan

T. Purwaningsih

Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Semarang

26 November 2021 04:48

4. Fenomena kependudukan tersebut terjadi sekitar periode tahun 1971 sampai dengan tahun 2000. Pada periode tersebut laju pertumbuhan penduduk sangat tinggi hingga mencapai 5,4% per tahun. Namun, periode 2000-2010, laju pertumbuhan penduduk menurun tajam menjadi 1,42 persen. Berbeda dengan Jakarta, pertumbuhan penduduk di wilayah pinggiran Jakarta cenderung tinggi. Selama 2005-2010, angka pertumbuhan penduduk di wilayah administrasi di Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi berkisar antara 2 persen dan 5,5 persen. 5. Yang terlibat dalam fenomena kependudukan tersebut adalah mereka yang melakukan migrasi ke kota-kota besar seperti Jakarta dan wilayah-wilayah lain di sekitarnya. Selain itu para penyedia lapangan kerja, yang menarik tenaga kerja secara khusus dan penduduk secara umum untuk bermigrasi di wilayah tersebut. 6. Penyelasaian permasalahan fenomena kependudukan tersebut yaitu dengan pemerataan penduduk atau program transmigrasi, menciptakan lapangan kerja di daerah-daerah yang jarang penduduknya, mengurangi pertumbuhanpenduduk dengan cara memberlakukan program KB, serta pemerataan pembangunan. Semoga membantu ya.


Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke Forum

Tanya ke Forum

Roboguru Plus

Chat Tutor

Pertanyaan serupa

Simbol peta sinoptik untuk kondisi cuaca

107

5.0

Jawaban terverifikasi

Iklan