Sultan S

23 Oktober 2025 12:46

Iklan

Sultan S

23 Oktober 2025 12:46

Pertanyaan

Permisi, mau bertanya inikan seharusnya 21x² kan 441 tapi kok di contohnya 42 ya? Apakah karena x atau apa tolong jelaskan ya, dan satu lagi , yang tadinya 2x³ terus diganti dibawahnya kok 6² ya?.. Dan fnya kok ada f' Sekian terimakasih mohon bantuannya yaa

Permisi, mau bertanya inikan seharusnya 21x² kan 441 tapi kok di contohnya 42 ya? Apakah karena x atau apa tolong jelaskan ya, dan satu lagi , yang tadinya 2x³ terus diganti dibawahnya kok 6² ya?.. Dan fnya kok ada f'

Sekian terimakasih mohon bantuannya yaa

alt

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

01

:

30

:

20

Klaim

1

1


Iklan

Luna A

23 Oktober 2025 14:22

<p>jawabannya pake rumus turunan ya kak.</p><p>f' = simbol turunan dari sebuah fungsi.</p>

jawabannya pake rumus turunan ya kak.

f' = simbol turunan dari sebuah fungsi.

alt

Iklan

Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Cat Hitam Mendakwa Pentas menggambarkan halaman belakang Sekolah Menengah Pertama. Ada tembok bagian belakang sekolah itu. Di dekat tembok ada semacam bangku panjang yang sudah luntur warna catnya terletak di sebelah kiri. Tampak pada tembok coretan-coretan yang dibuat dengan cat: PROTHOLS, XELEX, THORAX, dan lain-lainnya. Tampaknya, coretan itu belum lama dibuat. Catnya belum kering benar. Tatkala lakon ini berlangsung, waktu menunjuk saat istirahat. Dari sebelah kiri muncul dua orang anak, siswa dan siswi. Tuti menarik tangan Bakri. (Musik) 01. Tuti : (Nada mengajak) Lihat itu! Ayo, cepat. (Menarik tangan Bakri) Lihat itu. (Mereka tiba di depan tembok yang bercorat-coret dan memandangi tulisan itu-Tentu saja, mereka membelakangi penonton, tetapi tidak perlu dipersoalkan karena ada alasannya) Nah, percaya tidak, kamu? 02. Bakri : Gi-la! (Menyentuh coretan) Catnya belum kering benar, Tut. Padahal tembok ini baru dikapur oleh Pak Dullah seminggu yang lalu, ya, kan? 03. Tuti : (Berjalan menuju bangku dan duduk) Ya, aku juga tahu itu. Terlalu! 04. Bakri : (Membalik ke arah Tuti) Siapa yang terlalu? 05. Tuti : Yaaa ...., siapa lagi? 06. Bakri : Jadi, kamu sependapat dengan Pak Guru bahwa si Muhdom yang membuat corat-coret ini? 07. Tuti : Aku tidak bilang sependapat, aku hanya mengatakan siapa lagi, kan? 08. Bakri : (Mendekati Tuti) Maksudmu siapa? (Duduk) Siapa? 09. Tuti : Aku tidak tahu. (Berdiri, berjalan ke arah tembok, lalu membalik ke arah Bakri) Tapi, kalau aku pikir bahwa di sekolah kita hanya Muhdom yang sering membantu Pak Guru membuat dekorasi panggung, hiasan kelas, dan sebangsanya itu. Mungkin dugaan Pak Guru tidak terlalu salah. 10. Bakri : Ah, kamu ini, Tut. (Berdiri) Masak Muhdom? Dia sahabatku. Dan itu tidak mungkin. 11. Tuti : Selama sahabatmu bukan malaikat, kemungkinan selalu ada. Lagi pula, siapa yang pintar main-main cat seperti ini kecuali Muhdom? 12. Bakri : Jika kemungkinan selalu ada, aku menduga ini perbuatan Nyoman. 13. Tuti : Maksudmu Nyoman sahabatku? ltu tuduhan tidak mendasar. 14. Bakri : (Tersenyum) Nah, kalau menurut kamu bukan Nyoman, menurut aku bukan Muhdom yang membuat coretan-coretan ini. (Berjalan ke bangku dan duduk) Kita memang tidak tahu. Lu enggak ngerti, gue pun demikian pula. Huh! (Memandangi tulisan itu) (Terdengar beberapa anak memanggil-manggil, "Tut, Tuti.") 15. Tuti : (Berteriak). Aku di sini....! (Ita, Tarso, dan Bardas muncul ... ) 16. Bardas : Tut, Muhdom akan disidang nanti selepas jam terakhir! (Menatap coretan dan mendekatinya, lalu geleng-geleng kepala 7 (tujuh) kali) 17. Tuti : Oh, ya? (Memandang Bakri) 18. Bakri : (Kaget, lalu berdiri) Apa? 19. Ita : Ya, si Muhdom! Kasihan, dia. (Melihat coretan, lalu geleng-geleng kepala 8 (delapan) kali) 20. Tarso : Bagaimana, Ta. Dia kan sahabatmu .... ? 21. Bakri : (Menahan marah) Gi-la! Pak Guru bilang begitu? 22. Ita : Bukan, bukan Pak Guru. 23. Bakri : Lalu si .... 24. Tarso : (Memotong) Tanjir yang ngomong. 25. Bakri : Tanjir yang berbicara dan kalian percaya? 26. Bardas : Habis, dia keluar dari ruangan guru terus bilang begitu. Siapa tidak percaya? (Semua terdiam, saling memandang. Sepi berlangsung tujuh detik. Ita berjalan pelan-pelan menuju bangku lalu duduk. Berpikir. Bakri mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Musik terdengar keras, gemuruh, lalu perlahan-lahan leyap). 27. Ita : (Berbicara lirih, tetapi terdengar jelas) lni gawat. 28. Tuti : Huh, kamu itu ...., sedikit-sedikit 'gawat'. Ulangan 'gawat', mau drama 'gawat'. (Mendekatinya dan berdiri di sampingnya) Apa yang tidak gawat bagi kamu? 29. Tarso : Aku pikir Ita benar. Pak kepala sekolah bisa marah sekali kalau melihat coretan-coretan ini. 30. Ita : Ya. Dengan susah payah Pak Dullah mengapurinya. Enak saja dicoret-coret begitu. Lagi pula, Prothols itu kan nama geng. Kita semua bisa dituduh anggota geng itu. 31. Tuti : Ah, kalian ini! Coba kalian pikir, coretan ini kan bukan kita yang bikin? Kenapa kita cemas? Tenang saja. Aku bawa Bakri kemari karena dia tidak percaya ada coretan ini. ltu saja. Celakanya, Bakri malah menuduh Nyoman yang membuatnya. Sialan! Lalu kalian mau ikut-ikut kemari . Ngapain? Aku mau ke depan. (Berjalan) 32. Bakri : Tuti, ke mana kamu? Tunggu dulu! lni gawat. Kita semua bisa ditahan di sekolah sampai biang keladinya ditangkap. 33. Tuti : Terus, kita semua mau kamu suruh apa? Sebentar lagi kita masuk. 34. Bakri : Aku mau bertanya, siapa yang kemarin sore datang ke sekolah menyelesaikan tugas membuat kliping? 35. Tarso : Kita semua, kan? 36. Bakri : Betul. Tapi siapa lagi? Kamu ingat, Ita? 37. Ita : Muhdom, Yuspar ..... 38. Bardas : (Menukas) Kamu sendiri, Tanjir, Nyo .... 39. Bakri : (Menukas) Nah, Tanjir juga ikut datang. Biasanya dia malas datang, kan? 40. Tuti : Benar. Tapi ..... 41. Tarso : Bukannya malas kalau dia sering tidak datang. Rumahnya jauh dan tidak ada yang mengantarkannya. 42. Bakri : Baik. Kalian tunggu di sini. Kalau ada bel masuk, jangan masuk dulu. Biar aku yang menanggung kalau Pak Guru marah. (Lari ke luar panggung) 43. Tuti : Bakri ke mana? 44. Tarso : Sudah Tut, di sini saja kamu. Taati saja perintah kapten kita. 45. Ita : Mau apa si Bakri? 46. Bardas : Aku benci cara-cara begini. Apa sih susahnya bilang nggak tahu kalau nanti Pak Guru bertanya soal coretan ini? Lagaknya kayak pahlawan. (Menirukan Bakri) "Aku yang menanggungnya." Enak saja. (Terdengar bel masuk). 47. Bardas : Dengar itu, aku mau masuk kelas. 48. Tuti : Jangan, Bardas! 49. Tarso : Bardas di sini saja. 50. Bardas : Nggak. Peduli amat. (Mau berjalan) 51. Ita : Bardas, jangan! 52. Tarso : Aku cubit kalau kamu nekat pergi. (Bakri masuk ke panggung dengan menyeret Tanjir dengan tangan kirinya. Tangan kanannya membawa tas milik Tanjir). 53. Bakri : (Memerintahkan Tanjir, napasnya terengah-engah) Duduk! 54. Tanjir : (Duduk) Apa maksud kalian? 55. Bakri : Dengar. Kamu kemarin pulang lebih dahulu sebelum kami pulang, bukan? 56. Tanjir : Ya. Lalu? Apa salahku? 57. Bakri : Tapi, sebenarnya kamu tidak terus pulang ke rumah. Sebab, ketika kami semua sampai di pintu gerbang halaman sekolah, kakakmu yang menjemputmu masih menunggu kamu di sana. Artinya, kamu masih berada di dalam lingkungan sekolah. Dan ini ... '(Bakri membuka tas Tanjir). Ada noda cat hitam pada tasmu. Cat ini sama dengan yang ada di tembok itu. lni artinya, waktu kamu pamit minta pulang lebih dulu, kamu datang kemari dan membuat coretan ini. Kamu naik di atas bangku ini. Lihat, (Menunjuk bangku) ada noda-noda hitam. lni cat yang sama. Tegakah kamu Tanjir, melihat Muhdom dihukum karena tuduhan membuat coretan yang sebenarnya kamu lakukan? Tegakah kamu mencoratcoret tembok yang putih bersih ini? Tegakah kamu melihat kita semua dimarahi Pak Guru? (Tanjir menunduk lalu menutup mukanya. Ia tampak tersedu-sedu. Yang lainnya memandangnya, lalu satu demi satu meninggalkannya. Tinggal Bakri memperhatikan Tanjir tersedu-sedu). 58. Bakri : (Menarik tangan Tanjir. Tanjir berdiri masih menutup mukanya). Sudahlah, jangan kamu lakukan lagi. Aku akan menemani kamu menghadap Bapak Kepala Sekolah. (Bakri merangkul Tanjir yang tetap menunduk. Berdua keluar dari panggung. Musik terdengar keras) Sumber: Bakdi Soemanto, "Cat Hitam Mendakwa" dalam Majalah Dinding Kumpulan Drama, Yogyakarta, Gama Media, 2006 4. Analisislah watak tokoh Tanjir dalam naskah drama tersebut.

2

4.0

Jawaban terverifikasi

bacalah teks drama berikut ini. Konflik 3 Sahabat Di sebuah SMP, ada kelompok sahabat yang telah menjalin pertemanan sejak duduk di bangku SD. Kelompok itu bernama 3IG dan beranggotakan lntan, lndah, dan Irma. Kelompok itu belum pernah bertengkar sampai suatu peristiwa terjadi. lnilah ceritanya. Pada suatu pagi kelompok 3IG masuk ke kelas bersama sambil mengobrol. Karena terlalu asyik mengobrol, lntan tidak menyadari bahwa dompetnya terjatuh. Dua temannya yang laki-laki, yakni Ivan dan lrwan memungutnya. Ivan dan lrwan berniat menjahili anggota 3IG itu. Ivan : Eh, Wan, gimana kalau kita masukkan dompetnya si lntan ke dalam tasnya Irma? lrwan : Kalau ketahuan gimana? Ivan : Ya, kita cari waktu yang tepat. lrwan : (mengacungkan jempol sambil cekikikan) Kesempatan yang ditunggu - tunggu oleh Ivan dan lrwan datang. Pada saat itu lntan dan lndah sedang dipanggil oleh bapak guru, sedangkan Irma sedang ke kamar mandi. lrwan : Van, sekarang! (sambil memberi kode aman kepada Ivan) Ivan : Oke! (memasukkan dompet lntan ke tas Irma) Irma kembali ke kelas. Ia melihat tas lntan jatuh, lalu mengambil dan meletakkannya kembali ke meja. Beberapa saat kemudian, lntan dan lndah datang. Mereka duduk di tempat masing-masing dan belajar. Kemudian bel jam istirahat siang berbunyi. lndah : Akhirnya, istirahat juga! Irma : lya, akhirnya . .. eh, kita ke kantin yuk! Intan : (mencari-cari sesuatu) Indah : Kenapa, Tan? Intan : Kok, dompetku enggak ada, ya? Irma : Keselip mungkin? Atau ketinggalan di rumah? Intan : Enggak, kok. Aku ingat tadi udah kumasukkin ke tas. Ivan dan lrwan mendengar percakapan mereka bertiga. Kemudian, mereka berdua berjalan melewati meja Irma dan menjatuhkan tas Irma dengan sengaja sehingga isinya keluar. Dompet lntan juga ada di antara isi tas itu. lntan : lh, ini kan dompet aku. Kok, ada di tas kamu? lndah : lya, benar. lni kan dompetnya si lntan? Irma : Aku juga enggak tahu. lntan : Kok bisa enggak tahu? Irma : Beneran. Aku enggak tahu apa-apa. Ivan : Tadi, aku lihat Irma megang tas lntan pas kamu lagi enggak di kelas. lrwan : lya, aku juga lihat. Irma : Tadi tas kamu jatuh, Tan. Jadi, Aku ambil dan taruh di atas meja. Intan : Ya udah kalau gitu. Sini, dompetnya. Semoga enggak ada yang hilang. Yuk, Ndah, kita ke kantin berdua aja. (sambil meraih tangan lndah dan meninggalkan Irma) lndah : Yuk! lntan dan lndah tidak lagi berbicara kepada Irma. Sementara itu, Ivan dan lrwan merasa bersalah. Irwan : Eh, Van. Aku ngerasa bersalah nih sekarang. Ivan : lya . Sama. Irwan : Kayaknya, kita udah keterlaluan, deh, sama mereka. Ivan : Kalau gitu, nanti kita ngaku ke mereka, yuk, pas pulang sekolah. lrwan : Oke! Bel pulang sekolah berbunyi. Ivan dan lrwan bergegas menghampiri lntan dan lndah. Kemudian, mereka juga memanggil Irma untuk berkumpul. lndah : Ada apa, sih, Van, Wan? lntan : lya, ada apa, sih? Aku sama lndah udah mau pulang, tahu. Irwan : lya, sebentar. Kita mau ngomong sesuatu sama kalian. (memberi kode ke Ivan agar Ivan yang mengatakannya) Ivan : Sebenarnya, begini. Tadi pagi dompetnya lntan jatuh. Terus, kita ambil. Nah, pas kalian bertiga enggak ada di kelas, kita masukin dompet kamu ke tas Irma. Jadi, sebenarnya Irma bukan yang ngambil dompet kamu. Lrwan : Emm, tadi itu kita cuma bercanda. Kita mau ngejailin kalian aja. Intan : Ivan! lrwan! Gara-gara kalian, aku jadi nuduh Irma. Indah : Kalian jahat banget, sih! Irwan : lya, kita minta maaf. Irma : Ya udah, tapi jangan diulangi lagi! Ivan dan lrwan : Siap! Kalau begitu, kita pulang dulu, ya! (berjalan meninggalkan mereka bertiga) lntan : Irma, Aku minta maaf karena udah nuduh kamu .... Irma : lya, enggak apa-apa. Aku maafin, kok. (tersenyum) Indah : Berarti kita tetap bersahabat dong? Irma : Pastinya. Karena kita 3IG. lntan : Three! Indah : Incredible! Irma : Girl! Akhirnya, mereka bersatu kembali sebagai sahabat. Pertanyaan: Cocokkanlah pernyataan di bawah ini dengan unsur yang telah disediakan. Pilihan jawaban: a. Latar waktu f. Alur b. Protagonis g. Antagonis c. Latar suasana h. Dialog d. Tokoh i. Amanat e. Latar tempat j. Tema 1. Irma memiliki sifat pemaaf. (....)

1

0.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Bacalah teks drama modern berikut. Majalah Dinding Karya : Bakdi Soemanto Pelaku: - Anton - Kardi - Rini - Trisno - Wilar Di sebuah ruangan tampak meja dan kursi yang kurang begitu rapi. Beberapa papan majalah dinding tersandar di dinding dan menelungkup di meja. Ada tiga orang di ruangan itu meski ini Minggu pagi. Seorang bersilang tangan sambil duduk di salah satu meja. Ia adalah Anton, pemimpin redaksi majalah dinding. Seorang lagi adalah Rini, sekretaris redaksi, duduk di kursi. Seorang lainnya adalah Kardi, sedang menekuni buku. Ia adalah esais yang mulai dikenal tulisan-tulisannya lewat majalah dinding itu. Anton tampak kusut. Wajahnya muram. Ia belum mandi, hanya mencuci muka dan gosok gigi. Ia terburu-buru ke sekolah karena mendengar berita dari Witar, wakil pemimpin redaksi, bahwa majalah dinding itu dibredel oleh kepala sekolah. lni disebabkan karikatur Trisno yang terkesan mengejek Pak Kusno, guru karate. Anton : Kardi. Kardi : Ya! Anton : Kau ada waktu nanti sore? Kardi : Ada apa? Anton : Aku perlu bantuanmu untuk menyusun surat protes. Rini : Kurasa tak ada gunanya kita protes. Kita sudah kalah. Bagi kita, kepala sekolah bukan guru lagi. Bukan pendidik. Ia berlagak penguasa. Kardi : ltu tafsiranmu, Rin. Menurutku, tindakannya itu mendidik. Anton : Mendidik, tetapi mendidik pemberontak. Bukan mendidik anak-anaknya sendiri. Aneh! Kardi : Masak begitu? Anton : Kalau mendidik anaknya kan bukan begitu caranya. Kardi : Tentu saja tidak. Ia bertindak dengan caranya sendiri. Rini : Sudahlah. Kalau kalian menurut aku, sebaiknya kita protes diam. Kita mogok. Nanti, kalau sekolah tutup tahun, kita semua diam. Mau apa Pak Kepala Sekolah itu kalau kita diam. Tenaga inti masuk staf redaksi semua. Anton : Tapi masih ada satu bahaya. Rini : Bahaya? Kardi : Nasib Trisno, karikaturis kita itu. Anton : Bisa jadi dia akan celaka. Rini : Lalu? Anton : Kita harus selesaikan masalah ini. Rini : Caranya? Anton : Kita harus buka front terbuka. Kardi : ltu nggak taktis, Bung! Anton : Habis, kalau main gerilya kita kalah. Kardi : Baik. Tapi front terbuka juga berbahaya. Rini : Orang luar bisa lihat semua itu. Sekolah jadi tercemar. Kardi : Betul! Anton : Apakah sudah tak ada jalan keluar lagi? Kita *mati kutu? Kardi : Ada, tapi jangan grasa-grusu. Kita harus ingat, ini bukan perlawanan melawan musuh. Kita berhadapan dengan orang tua kita sendiri. Jadi, jangan asal membakar rumah, kalau marah. Anton : Baik, filsuf! Apa rencanamu? Trisno masuk. Napasnya engah-engah. Peluhnya berleleran. Rini : Kau dari mana, Tris? Anton : Dari rumah Pak Kepala Sekolah? Kardi : Dari rumah Pak Kepala Sekolah dan kau dimarahi? Trisno : Huuuuuhhhh. Disemprot pagi-pagi. Rini : Ngapain ke sana? Kan tidak dipanggil? Anton : Kau ini gimana, Tris? Masak pagi-pagi ke sana. Kardi : Sebaiknya kau nggak ke sana sebelum berembug dengan kami. Rini : Haaaahh! lndividualisme itu mbok dikurangi. Anton : Kau selalu begitu setiap kali. Kardi : Terus disemprot apa? Trisno : Kalian itu yang aneh kabeh. Anton : Lho! Rini : Aku aneh? Secantik ini aneh? Trisno : Belum tahu sudah disemprot. Kardi : Pak Kepala ke rumahmu? Trisno : lya. Terus aku mau rembugan gimana sama kalian. Belum bernapas sudah dicekik. Rini : lbumu tahu? Trisno : Untung mereka ibadah pagi. Anton : Terus? Trisno : Pokoknya aku didesak, ide itu ide siapa. Sudah dapat izin dari kau belum? Anton : Jawabmu? Trisno : Aku bilang, ide itu ide ... Anton : Ide Anton? Trisno· : Ide Albertus Sutrisno, sang pelukis! Dengar! Rini : Tapi kau bilang sudah ada persetujuan dari Pimpinan Redaksi? Trisno : Tidak, Rin. Kulindungi kekasihmu yang belum mandi ini. Anton : Kau bilang apa padanya? Trisno : Aku bilang bahwa tanpa sepengetahuan Anton, aku pasang karikatur itu. Sepenuhnya tanggung jawab saya. Dengar! Kardi : Edaaann. Pahlawan tenan iki. Rini : Ooooooo, hebat kau, Tris. Trisno : Ah, Rin, mbok jangan gitu. Anton : Kenapa kau bilang begitu? Menghina aku, Tris? Aku yang suruh kau melukis itu. Aku penanggung jawabnya. Akulah yang mestinya digantung, bukan kau! Kardi : Lho, lho, sabar-sabar, sabaaaar! Anton : Ayo, kau mesti ralat pernyataan itu! Trisno : Begini, Ton. Maksudku agar kau ... Anton : Tidak. Aku tidak butuh perlindunganmu. Aku mesti digantung, bukan kau! Trisno : Begini, Ton, maksudku, bahwa aku telah ... Anton : Sudah! Aku tahu kau berlagak pahlawan agar orang-orang menaruh perhatian kepadamu sehingga dengan demikian kau ... Rini : Anton! lni apa? lni apa? Kardi : Anton, sabar. Kau mau bun-uh diri apa bagaimana? Masak sedang gawat malah bertengkar sendiri. Semua membisu. Trisno : Maaf, Ton. Aku tidak hendak berlagak ahlawan. Aku sekedar ingin bertanggung jawab. Aku tak tega kalau kau ... kau di ... Anton : (membisu) Trisno : Tetapi kau menolak pernyataan setia kawanku dengan kau. Sudahlah, mungkin kita memang tidak harus dalam satu ide. (keluar) Anton : Tris, Tris, Trisno, Trisno. Kardi : Biar saja dia pergi. Kau mau apakan dia? Rini : Tapi, dia bisa memihak kepala sekolah. Kardi : Ah, tidak. Biar saja dia pergi. Anton : Maaf, Di. Kardi : Aku ngerti, kenapa kau tersinggung. Tetapi, dalam keadaan gawat, kita tidak boleh mengutamakan emosi, demi persatuan kita. Rini : Kau absurd! (keluar) Anton : Rin, Rini. Kardi : Nah, gimana ini kalau begini? Anton : (membisu) Kardi : Bagaimana? Anton : Pergi! Kardi : (terbengong) Anton : Pergi sana kau. Pergi! (keluar) *** Anton : (diam sendiri, berjalan hilir mudik) Rini : (masuk) Ton! Anton : Pergi! Rini : (membisu) Anton : Rin. Rini : Anton. Wilar (masuk) Lha! Rini : Bagaimana? Pak Lukas mau? Anton : Mana Pak Lukas? Wilar : Lha. Rini : Ayo, Laaaarrrrr, bagaimana? Kau ini mengejek. Anton : Kau menemuinya pagi ini? Wilar : Dia mau. Anton : Mau. Rini : Mau? Wilar : Jelas. Malah dia bilang begini: "Aku wakil kelas kalian. Aku ikut bertanggung jawab atas perbuatan kalian terhadap Pak Kusno. Tapi kalian tak boleh bertindak sendiri. Diam saja. Aku yang akan maju ke Bapak Kepala Sekolah. Aku akan menjelaskan bahwa Pak Kusno memang kurang beres. Tapi kalau kalian berbuat dan bertindak sendiri-sendiri, main corat-coret, atau membikin onar, kalian akan aku laporkan polisi." (menirukan cara berbicara Pak Lukas) Rini : Anton! Wilar : Lha. (Kardi muncul) Lha. (Trisno muncul) Lha. Semua: Lhaaaaa! Rini : Pak Lukas memang guru sejati. Mau melibatkan diri dengan problem anak-anaknya. Dia sungguh seperti bapakku sendiri. Anton : Dia seorang bapak yang melindungi, sifatnya lembut seperti seorang ibu. Trisno : Bagaimana kalau kita juluki Pak Lukas Sang Penyelamat? Semua : Setujuuuuuuuu! Kardi : (termenung) Rini : Ada apa, filsuf? Kardi : Sekarang sampailah kesimpulan tentang renungan-renunganku selama ini. Anton : Waaa, kumat dia. Rini : Renungan apa, Di? Trisno : Renungan apa lagi? Kardi : Bahwa ... bahwa kreativitas ternyata ... ternyata membutuhkan perlindungan. Konflik apa yang terjadi dalam teks drama tersebut? Jelaskan hal yang menjadi tanda terjadinya konflik tersebut.

1

1.0

Jawaban terverifikasi

Bacalah teks drama modern berikut. Majalah Dinding Karya : Bakdi Soemanto Pelaku: - Anton - Kardi - Rini - Trisno - Wilar Di sebuah ruangan tampak meja dan kursi yang kurang begitu rapi. Beberapa papan majalah dinding tersandar di dinding dan menelungkup di meja. Ada tiga orang di ruangan itu meski ini Minggu pagi. Seorang bersilang tangan sambil duduk di salah satu meja. Ia adalah Anton, pemimpin redaksi majalah dinding. Seorang lagi adalah Rini, sekretaris redaksi, duduk di kursi. Seorang lainnya adalah Kardi, sedang menekuni buku. Ia adalah esais yang mulai dikenal tulisan-tulisannya lewat majalah dinding itu. Anton tampak kusut. Wajahnya muram. Ia belum mandi, hanya mencuci muka dan gosok gigi. Ia terburu-buru ke sekolah karena mendengar berita dari Witar, wakil pemimpin redaksi, bahwa majalah dinding itu dibredel oleh kepala sekolah. lni disebabkan karikatur Trisno yang terkesan mengejek Pak Kusno, guru karate. Anton : Kardi. Kardi : Ya! Anton : Kau ada waktu nanti sore? Kardi : Ada apa? Anton : Aku perlu bantuanmu untuk menyusun surat protes. Rini : Kurasa tak ada gunanya kita protes. Kita sudah kalah. Bagi kita, kepala sekolah bukan guru lagi. Bukan pendidik. Ia berlagak penguasa. Kardi : ltu tafsiranmu, Rin. Menurutku, tindakannya itu mendidik. Anton : Mendidik, tetapi mendidik pemberontak. Bukan mendidik anak-anaknya sendiri. Aneh! Kardi : Masak begitu? Anton : Kalau mendidik anaknya kan bukan begitu caranya. Kardi : Tentu saja tidak. Ia bertindak dengan caranya sendiri. Rini : Sudahlah. Kalau kalian menurut aku, sebaiknya kita protes diam. Kita mogok. Nanti, kalau sekolah tutup tahun, kita semua diam. Mau apa Pak Kepala Sekolah itu kalau kita diam. Tenaga inti masuk staf redaksi semua. Anton : Tapi masih ada satu bahaya. Rini : Bahaya? Kardi : Nasib Trisno, karikaturis kita itu. Anton : Bisa jadi dia akan celaka. Rini : Lalu? Anton : Kita harus selesaikan masalah ini. Rini : Caranya? Anton : Kita harus buka front terbuka. Kardi : ltu nggak taktis, Bung! Anton : Habis, kalau main gerilya kita kalah. Kardi : Baik. Tapi front terbuka juga berbahaya. Rini : Orang luar bisa lihat semua itu. Sekolah jadi tercemar. Kardi : Betul! Anton : Apakah sudah tak ada jalan keluar lagi? Kita *mati kutu? Kardi : Ada, tapi jangan grasa-grusu. Kita harus ingat, ini bukan perlawanan melawan musuh. Kita berhadapan dengan orang tua kita sendiri. Jadi, jangan asal membakar rumah, kalau marah. Anton : Baik, filsuf! Apa rencanamu? Trisno masuk. Napasnya engah-engah. Peluhnya berleleran. Rini : Kau dari mana, Tris? Anton : Dari rumah Pak Kepala Sekolah? Kardi : Dari rumah Pak Kepala Sekolah dan kau dimarahi? Trisno : Huuuuuhhhh. Disemprot pagi-pagi. Rini : Ngapain ke sana? Kan tidak dipanggil? Anton : Kau ini gimana, Tris? Masak pagi-pagi ke sana. Kardi : Sebaiknya kau nggak ke sana sebelum berembug dengan kami. Rini : Haaaahh! lndividualisme itu mbok dikurangi. Anton : Kau selalu begitu setiap kali. Kardi : Terus disemprot apa? Trisno : Kalian itu yang aneh kabeh. Anton : Lho! Rini : Aku aneh? Secantik ini aneh? Trisno : Belum tahu sudah disemprot. Kardi : Pak Kepala ke rumahmu? Trisno : lya. Terus aku mau rembugan gimana sama kalian. Belum bernapas sudah dicekik. Rini : lbumu tahu? Trisno : Untung mereka ibadah pagi. Anton : Terus? Trisno : Pokoknya aku didesak, ide itu ide siapa. Sudah dapat izin dari kau belum? Anton : Jawabmu? Trisno : Aku bilang, ide itu ide ... Anton : Ide Anton? Trisno· : Ide Albertus Sutrisno, sang pelukis! Dengar! Rini : Tapi kau bilang sudah ada persetujuan dari Pimpinan Redaksi? Trisno : Tidak, Rin. Kulindungi kekasihmu yang belum mandi ini. Anton : Kau bilang apa padanya? Trisno : Aku bilang bahwa tanpa sepengetahuan Anton, aku pasang karikatur itu. Sepenuhnya tanggung jawab saya. Dengar! Kardi : Edaaann. Pahlawan tenan iki. Rini : Ooooooo, hebat kau, Tris. Trisno : Ah, Rin, mbok jangan gitu. Anton : Kenapa kau bilang begitu? Menghina aku, Tris? Aku yang suruh kau melukis itu. Aku penanggung jawabnya. Akulah yang mestinya digantung, bukan kau! Kardi : Lho, lho, sabar-sabar, sabaaaar! Anton : Ayo, kau mesti ralat pernyataan itu! Trisno : Begini, Ton. Maksudku agar kau ... Anton : Tidak. Aku tidak butuh perlindunganmu. Aku mesti digantung, bukan kau! Trisno : Begini, Ton, maksudku, bahwa aku telah ... Anton : Sudah! Aku tahu kau berlagak pahlawan agar orang-orang menaruh perhatian kepadamu sehingga dengan demikian kau ... Rini : Anton! lni apa? lni apa? Kardi : Anton, sabar. Kau mau bu-nuh diri apa bagaimana? Masak sedang gawat malah bertengkar sendiri. Semua membisu. Trisno : Maaf, Ton. Aku tidak hendak berlagak ahlawan. Aku sekedar ingin bertanggung jawab. Aku tak tega kalau kau ... kau di ... Anton : (membisu) Trisno : Tetapi kau menolak pernyataan setia kawanku dengan kau. Sudahlah, mungkin kita memang tidak harus dalam satu ide. (keluar) Anton : Tris, Tris, Trisno, Trisno. Kardi : Biar saja dia pergi. Kau mau apakan dia? Rini : Tapi, dia bisa memihak kepala sekolah. Kardi : Ah, tidak. Biar saja dia pergi. Anton : Maaf, Di. Kardi : Aku ngerti, kenapa kau tersinggung. Tetapi, dalam keadaan gawat, kita tidak boleh mengutamakan emosi, demi persatuan kita. Rini : Kau absurd! (keluar) Anton : Rin, Rini. Kardi : Nah, gimana ini kalau begini? Anton : (membisu) Kardi : Bagaimana? Anton : Pergi! Kardi : (terbengong) Anton : Pergi sana kau. Pergi! (keluar) *** Anton : (diam sendiri, berjalan hilir mudik) Rini : (masuk) Ton! Anton : Pergi! Rini : (membisu) Anton : Rin. Rini : Anton. Wilar (masuk) Lha! Rini : Bagaimana? Pak Lukas mau? Anton : Mana Pak Lukas? Wilar : Lha. Rini : Ayo, Laaaarrrrr, bagaimana? Kau ini mengejek. Anton : Kau menemuinya pagi ini? Wilar : Dia mau. Anton : Mau. Rini : Mau? Wilar : Jelas. Malah dia bilang begini: "Aku wakil kelas kalian. Aku ikut bertanggung jawab atas perbuatan kalian terhadap Pak Kusno. Tapi kalian tak boleh bertindak sendiri. Diam saja. Aku yang akan maju ke Bapak Kepala Sekolah. Aku akan menjelaskan bahwa Pak Kusno memang kurang beres. Tapi kalau kalian berbuat dan bertindak sendiri-sendiri, main corat-coret, atau membikin onar, kalian akan aku laporkan polisi." (menirukan cara berbicara Pak Lukas) Rini : Anton! Wilar : Lha. (Kardi muncul) Lha. (Trisno muncul) Lha. Semua: Lhaaaaa! Rini : Pak Lukas memang guru sejati. Mau melibatkan diri dengan problem anak-anaknya. Dia sungguh seperti bapakku sendiri. Anton : Dia seorang bapak yang melindungi, sifatnya lembut seperti seorang ibu. Trisno : Bagaimana kalau kita juluki Pak Lukas Sang Penyelamat? Semua : Setujuuuuuuuu! Kardi : (termenung) Rini : Ada apa, filsuf? Kardi : Sekarang sampailah kesimpulan tentang renungan-renunganku selama ini. Anton : Waaa, kumat dia. Rini : Renungan apa, Di? Trisno : Renungan apa lagi? Kardi : Bahwa ... bahwa kreativitas ternyata ... ternyata membutuhkan perlindungan. Jelaskan latar waktu, latar suasana, dan latar tempat yang tampak pada teks drama tersebut?

5

5.0

Jawaban terverifikasi

Judul : Rindu Penulis : Tere Liye Editor : Andriyati Penerbit : Republika Tebal Buku : ii + 544 hal; 13.5x20.5 em Kota Terbit : Jakarta Tahun Terbit : 2014 Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalah arti cinta, ketika menangis terluka atas perasaan yg seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yg seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun? Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja"" Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan. Perjalanan panjang penuh kerinduan dimulai ketika sebuah kapal besar bernama Blitar Holland mendarat di Pelabuhan Makassar. Kapal tersebut nantinya akan berhenti dan menaikkan penumpang di Pelabuhan Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang, Banda Aceh. Kapal itu akan terus melaju hingga Jeddah karena para penumpang kapal tersebut adalah calon jamaah haji. Setelah berhenti di beberapa pelabuhan , rupanya kapal Blitar Holland ditumpangi oleh sepasang kakek - nenek yang saling mencintai. Mbah Kakung dan Mbah Putri beserta satu anak perempuannya naik dari Pelabuhan Semarang, keromantisan pasangan yang tidak lagi muda itu membuat iri seluruh penghuni kapal. Mereka bisa saling mengenal karena setiap solat berjamaah, atau makan di kantin selalu bertemu dan akrab begitu saja, terlebih pada keluarga Daeng Andipati yang memiliki dua putri bertingkah menggemaskan. Hari demi hari berlalu. Kisah perjalanan panjang itu mulai terangkai dan ertanyaan-pertanyaan itu satu per satu hadir. Ya, ada lima pertanyaan yang dibawa oleh penumpang dalam kapal Blitar Holland. Pertanyaan pertama dari Banda Upe, tentang masa lalu yang memilukan. Ternyata di balik pendiamnya Banda Upe yang sering mengurung diri di dalam kabin, memiliki masa lalu yang *memilukan. Siapa sangka Guru mengaji di atas kapal ini dahulunya pernah *terjerumus dalam lubang kemaksiatan. Meski itu sangat terpaksa, karena memang dipaksa. Nasibnya masih untung, karena diselamatkan lelaki yang mencintainya sejak kecil, lelaki yang saat ini menjadi suami tercintanya. Cara terbaik menghadapi masa Lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa Lalumu? Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk* semua kisah itu.Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. (hal 312) Pertanyaan kedua berkaitan tentang kebencian pada seseorang yang seharusnya kita sayangi. Siapa sangka Daeng Andipati yang memiliki kekayaan di usia muda melalu kerja keras dari keringat sendiri ini memiliki kebencian pada seseorang, Daeng Andipati yang terlihat tak memiliki masalah karena selalu terlihat bahagia bersama kedua putri dan istrinya itu ternyata memiliki kebencian pada seseorang, bahkan setelah 5 tahun kemeninggalan orang tersebut malah semakin membencinya, membenci orang yang seharusnya kita sayangi. ".. aku membencinya. Aku membenci ayahku sendiri." (hal. 370)" Ada orang-orang yang kita benci. Ada pula orang-orang yang kita sukai. Hilir mudik datang dalam kehidupan kita. Tapi apakah kita berhak membenci orang lain? ... Pikirkan dalam-dalam, kenapa kita harus *benci? Kenapa? Padahal kita bisa saja mengatur hati kita, bilang saya tidak akan membencinya. Toh itu hati kita sendiri. Kita berkuasa penuh mengatur-aturnya. Kenapa kita tetap memutuskan *membenci? Karena boleh jadi, saat kita *membenci orang Lain, kita sebenarnya sedang *membenci diri sendiri." (hal. 373) "Maka ketahuilah Andi, kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih,atau dengan apapun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong.Buka lembaran baru, tutup lembaran lama yang pernah *tercoret. Jangan diungkit-ungkit lagi. Jangan ada tapi, tapi, dan tapi. Tutup lembaran tidak menyenangkan itu. Apakah mudah melakukannya? Tidak mudah. Tapi jika kau sungguh-sungguh, jika kau berniat teguh, kau pasti bisa melakukannya, Andi. Berjanjilah kau akan menutup lembaran lama itu. Mulai membuka lembaran baru yang benar-benar kosong. Butuh waktu untuk melakukannya. Tapi aku percaya, saat kapal ini tiba di Jeddah, hati kau sudah lapan*g seperti halaman baru ... " Kembali ke pertanyaan ketiga yang ternyata datang dari tokoh Mbah Kakung dan Mbah Putri, dalam perjalanan di tengah lautan, Mbah Putri *meninggal. Ini membuat Mbah kakung yang hampir selama hidupnya bisa menjawab semua pertanyaannya sendiri, kini tak bisa menjawab pertanyaan dari kenyataan. Keinginan Mbah Kakung agar kelak ketika *meninggal agar *dikuburkan berdampingan , sepertinya tidak mungkin terjadi, Mbah Putri *dikuburkan seperti para pelaut sejati. Tetap dibungkus kain *kafan, setelah disholati, kemudian *ditenggelamkan dengan diberi beberapa *bandul supaya tubuhnya tidak *mengambang dan jatuh ke dasar lautan. Pertanyaan ketiga terucap ketika Anak Mbah Kakung memutuskan untuk meminta tolong Daeng Andipati, karena seharian Mbah kakung tidak makan apapun. Daeng Andipati datang bersama Guruta. Dan pertanyaan tentang kehilangan kekasih hati terucap, juga terjawab menjadi tiga jawaban dengan pemahaman terbaik. Mulailah menerima dengan Lapang hati, karena kita menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Takdir bahkan basa basi menyapa pun tidak. Tidak peduli. Nah kabar baiknya karena kita tidak bisa mngendalikannya, bukan berarti kita jadi makhluk tak berdaya. Kita tetap bisa menaklukan diri sendiri bagaimana menyikapinya, apakah bisa menerima atau mendustakannya. Biarkan waktu mengobati seluruh kesedihan. Ketika kita tidak tahu mau melakukan apa lagi. Ketika kita merasa semua sudah hilang, musnah, habis sudah, maka itulah saat untuk membiarkan waktu menjadi obat terbaik ... Pertanyaan ke empat, Tentang Cinta sejati,Jawaban dari pertanyaan ini begitu terurai panjang. ""Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tutus kau melepaskannya. Persis seperti anak kecil yang menghanyutkan botol tertutup di lautan, dilepas dengan rasa suka-cita. Aku tahu, kau akan prates, bagaimana mungkin? Kita bilang itu cinta sejati, tapi kita justru melepaskannya. Tapi inilah rumus terbalik yang tidak pernah dipahami para pencinta. Mereka tidak pernah mau mencoba memahami penjelasannya, tidak bersedia."" (hal.492) Dan pertanyaan kelima justru datang dari Guruta sendiri, Seorang ulama termashyur, memiliki karya hingga ratusan buku. Bisa menjawab bijak 4 pertanyaan sebelumnya. Tapi dia sendiri tak bisa menjawab pertanyaan yang bersemayam pada dirinya. Dari Ambo Uleng lah pertanyaan Guruta terjawab. Bukan dengan tulisan, bukan dengan lisan, tapi dengan perbuatan ... Terjawab sempurna ketika klimaks cerita terjadi, sebuah klimaks yang tak terduga. Sama sekali tak terduga. Bahkan Guruta sempat dipenjara ketika ketahuan oleh tentara Hindia Belanda yang bertugas mengawal BLITAR HOLLAND saat menyelesaikan sebuah buku karya terbarunya tentang KEMERDEKAAN ADALAH HAK SETIAP BANGSA DAN NEGARA. Sumber: http:/jandikafajar56 blogspot.com/2014/11/bedah-nave/-rindu-tere/iye.html 2d. Hikmah apakah yang dapat kita ambit dari novel Rindu karya Tere Liye?

3

0.0

Jawaban terverifikasi