Shailla S

30 Maret 2024 04:03

Iklan

Shailla S

30 Maret 2024 04:03

Pertanyaan

Perhatikan puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Siap Sedia berikut ini : “Kawan, kawan Dan kita bangkit dengan kesadaran Mencucuk dan menyerang berulang Kawan kawan Kita mengayun pedang ke Dunia terang” Puisi tersebut di bredel (pelarangan penyiaran) oleh Jepang karena seluruh karya sastra, seni, film, dan budaya pada masa Pendudukan Jepang harus diarahkan untuk....

Perhatikan puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Siap Sedia berikut ini :

“Kawan, kawan

Dan kita bangkit dengan kesadaran

Mencucuk dan menyerang berulang

Kawan kawan

Kita mengayun pedang ke Dunia terang”

Puisi tersebut di bredel (pelarangan penyiaran) oleh Jepang karena seluruh karya sastra, seni, film, dan budaya pada masa Pendudukan Jepang harus diarahkan untuk....

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

00

:

15

:

01

:

44

Klaim

9

2


Iklan

Auraria R

30 Maret 2024 05:06

<p>Jawaban: Kepentingan propaganda Jepang</p><p>Penjelasan: Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, segala bentuk karyaseni, sastra, film dan budaya harus disesuaikan dengan kepentingan propaganda Jepang untuk menunjang tujuannya. Artinya, karya-karya tak dapat bebas dan harus sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Jepang. Puisi "Siap Sedia" karya Chairil Anwar berisi pesan semangat dan resisten terhadap penjajahan Jepang. Itulah sebabnya puisi ini dilarang oleh penguasa Jepang pada zaman itu.</p>

Jawaban: Kepentingan propaganda Jepang

Penjelasan: Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, segala bentuk karyaseni, sastra, film dan budaya harus disesuaikan dengan kepentingan propaganda Jepang untuk menunjang tujuannya. Artinya, karya-karya tak dapat bebas dan harus sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Jepang. Puisi "Siap Sedia" karya Chairil Anwar berisi pesan semangat dan resisten terhadap penjajahan Jepang. Itulah sebabnya puisi ini dilarang oleh penguasa Jepang pada zaman itu.


Iklan

Salsabila M

Community

30 Maret 2024 06:11

<p>Pada masa Pendudukan Jepang di Indonesia, Jepang memberlakukan kebijakan yang dikenal sebagai "Giyu Setai" atau "Kebudayaan Bersatu". Kebijakan ini mensyaratkan bahwa seluruh karya sastra, seni, film, dan budaya harus diarahkan untuk mendukung propaganda kepentingan Jepang.</p><p>Dalam konteks puisi Chairil Anwar yang berjudul "Siap Sedia", puisi ini mencerminkan semangat perjuangan dan kesadaran nasionalisme yang dapat dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan. Oleh karena itu, puisi ini tidak sesuai dengan tujuan propaganda yang diinginkan oleh Jepang, yang bertujuan untuk mengukuhkan dominasi dan kepentingan politik Jepang di Indonesia.</p><p>Maka, puisi tersebut kemungkinan besar di bredel (dilarang disiaran) oleh Jepang karena tidak sesuai dengan propaganda kepentingan Jepang pada masa itu.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p><br>&nbsp;</p>

Pada masa Pendudukan Jepang di Indonesia, Jepang memberlakukan kebijakan yang dikenal sebagai "Giyu Setai" atau "Kebudayaan Bersatu". Kebijakan ini mensyaratkan bahwa seluruh karya sastra, seni, film, dan budaya harus diarahkan untuk mendukung propaganda kepentingan Jepang.

Dalam konteks puisi Chairil Anwar yang berjudul "Siap Sedia", puisi ini mencerminkan semangat perjuangan dan kesadaran nasionalisme yang dapat dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan. Oleh karena itu, puisi ini tidak sesuai dengan tujuan propaganda yang diinginkan oleh Jepang, yang bertujuan untuk mengukuhkan dominasi dan kepentingan politik Jepang di Indonesia.

Maka, puisi tersebut kemungkinan besar di bredel (dilarang disiaran) oleh Jepang karena tidak sesuai dengan propaganda kepentingan Jepang pada masa itu.

 

 

 


 


Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Perhatikan data berikut ini. (1) Menyatukan Pulau Jawa di bawah kekuasaan Mataram. (2) Menyusun karya sastra yang berjudul Sastra Gending. (3) Menyerang Belanda ke Batavia. (4) Menulis cerita wayang dengan lakon yang bernapaskan Islam. (5) Menyerang kerajaan-kerajaan kecil di Bali. Keberhasilan Sultan Agung ketika memerintah Mataram ditunjukkan nomor . . . . A. (1), (2), dan (3) D. (2), (3), dan (5) B. (1), (2), dan (4) E. (3), (4), dan (5) C. (2), (3), dan (4)

1

4.2

Jawaban terverifikasi