Chloriss V

08 Juni 2024 03:21

Iklan

Iklan

Chloriss V

08 Juni 2024 03:21

Pertanyaan

Perhatikan alasan e-commerce semakin berkembang sebagai berikut! 1. Belanja online memberikan kemudahan dalam berbelanja 2. Pandemi Covid-19 mendorong orang untuk lebih memilih berbelanja online 3. Pemerintah memberikan kebebasan pajak untuk berbelanja online 4. Penetrasi internet semakin luas Alasan yang tepat ditunjukkan oleh nomor.. A. Semua B. 1,2,3 C. 1,2,4 D. 2,3,4


5

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Thoriq X

Dijawab 7 hari yang lalu

Jawaban terverifikasi

<p>Jawaban: <strong>C.</strong> 1, 2, 4</p><p>Alasan e-commerce semakin berkembang:</p><ul><li>Belanja online memberikan kemudahan dalam berbelanja</li><li>Pandemi Covid-19 mendorong orang untuk lebih memilih berbelanja online</li><li>Penetrasi internet semakin luas</li></ul>

Jawaban: C. 1, 2, 4

Alasan e-commerce semakin berkembang:

  • Belanja online memberikan kemudahan dalam berbelanja
  • Pandemi Covid-19 mendorong orang untuk lebih memilih berbelanja online
  • Penetrasi internet semakin luas

Iklan

Iklan

Nanda R

Gold

Dijawab 6 hari yang lalu

<p>jawabannya adalah B.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>Belanja online memberikan kemudahan dalam berbelanja</strong>: Ini adalah alasan utama mengapa e-commerce semakin berkembang. Dengan belanja online, konsumen dapat melakukan pembelian kapan saja dan di mana saja tanpa harus pergi ke toko fisik. Mereka juga dapat membandingkan harga dan produk dengan mudah, serta memiliki akses ke berbagai pilihan tanpa batasan geografis.</p><p><strong>Pandemi Covid-19 mendorong orang untuk lebih memilih berbelanja online</strong>: Selama pandemi, banyak negara menerapkan pembatasan sosial dan lockdown, membatasi akses ke toko fisik. Hal ini mendorong lebih banyak orang untuk beralih ke belanja online sebagai alternatif yang aman dan nyaman untuk mendapatkan barang-barang yang mereka butuhkan.</p><p><strong>Pemerintah memberikan kebebasan pajak untuk berbelanja online</strong>: Beberapa pemerintah mungkin memberikan insentif atau kebebasan pajak bagi pelaku usaha e-commerce atau konsumen untuk mendorong pertumbuhan e-commerce. Kebijakan ini dapat membuat produk yang dijual secara online menjadi lebih terjangkau bagi konsumen, sehingga mendorong pertumbuhan industri e-commerce.</p><p>&nbsp;</p>

jawabannya adalah B.

 

Belanja online memberikan kemudahan dalam berbelanja: Ini adalah alasan utama mengapa e-commerce semakin berkembang. Dengan belanja online, konsumen dapat melakukan pembelian kapan saja dan di mana saja tanpa harus pergi ke toko fisik. Mereka juga dapat membandingkan harga dan produk dengan mudah, serta memiliki akses ke berbagai pilihan tanpa batasan geografis.

Pandemi Covid-19 mendorong orang untuk lebih memilih berbelanja online: Selama pandemi, banyak negara menerapkan pembatasan sosial dan lockdown, membatasi akses ke toko fisik. Hal ini mendorong lebih banyak orang untuk beralih ke belanja online sebagai alternatif yang aman dan nyaman untuk mendapatkan barang-barang yang mereka butuhkan.

Pemerintah memberikan kebebasan pajak untuk berbelanja online: Beberapa pemerintah mungkin memberikan insentif atau kebebasan pajak bagi pelaku usaha e-commerce atau konsumen untuk mendorong pertumbuhan e-commerce. Kebijakan ini dapat membuat produk yang dijual secara online menjadi lebih terjangkau bagi konsumen, sehingga mendorong pertumbuhan industri e-commerce.

 


lock

Yah, akses pembahasan gratismu habis


atau

Dapatkan jawaban pertanyaanmu di AiRIS. Langsung dijawab oleh bestie pintar

Tanya Sekarang

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke Forum

Biar Robosquad lain yang jawab soal kamu

Tanya ke Forum

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Strategi Ekonomi Indonesia Atasi Dampak Covid-19 [...] Selain sedang berusaha menghadapi penyebaran virus corona di dalam negeri, Indonesia tidak dapat lepas dari dinamika perekonomian global. Seperti diketahui semua negara saat ini juga masih fokus menangani wabah Covid-19 yang pada akhirnya mengganggu kepercayaan investor, sektor pariwisata/travel, supply chain dan pasar keuangan. Prospek pelemahan ekonomi global tersebut diperparah lagi dengan kecenderungan pelemahan harga minyak mentah global. Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Komite Stabiltas Sektor Keuangan (KSSK) yang terdi dari Kemenkeu, BI, OJK, dan LPS, melakukan ossessment untuk memperkirakan skenario berat dan terberat yang mungkinakan kita hadapi akibat dar dampak Covid-19 pada ekonomi lndonesia. [Tabel data: Presentasi Sri Mulyani] Berdasarkan pemaparan Sri Mulyani, hasil dari assessment tersebut, maka untuk skenario berat, ekonomi Indonesi hanya akan tumbuh 2,3% atau turun 3% dibanding asumsi APBN 2020, dengan nilai tukar rupiahnya 12.500/dolar. Dan skenario sangat berat adalah ekonomi Indonesia dapat mengalami penurunan atau minus 0,4% dengan nilai tukar rupiah mencapai 20.000/dolar Sebagai perbandingan pada krisis keuangan 2008, kondsi aktual yang terjadi pada tahun 2009, ekonomi Indonesia masih mampu bertumbuh diangka 4,6% atau turun 1,4%. Mengapa skenario ini cenderung lebih pasrah dibanding 2008? Karena kala itu Indonesia masih mampu menahan dampaknya pada struktur ekonomi yang sebagian besar ditopang oleh sektor konsumsi domestik. Dan memang pada waktu itu, masyarakat di daerah masih tetap beraktitas normal, demikian juga UKM yang tidak berhubungan dengan ekspor impor masih tergolong beroperasi normal. Di berbagai daerah, penanda dan petugas kepolisian dibantu TNI memberikan imbauan agar masyarakat menghindari kumpul di warung atau tempat makan minum dengan tujuan agar penyebaran covid-19 dapat dikontrol. Sebagai gambaran di 2019 sendiri, konsumsi rumah tangga menopang Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 56,82% sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Jika melihat lebih dalam lagi dari assessment yang dilakukan oleh KSSK disebutkan juga bahwa konsumsi rumah tangga yang semula berdasarkan asumsi APBN 2020 ci angka 5,0% turun menjadi 3,22% pada skenario berat dan menjadi hanya 1,6% dengan skenario sangat berat. Sebagai gambaran, saat ini ada 7 juta warga negara Indonesia yang masih belum mendapatkan pekerjaan (pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi 5% itu setara dengan penciptaan lapangan keja untuk 2 juta hingga 2,5 juta warga negara Indonesia. Antisipasi pada Skenario Walaupun hasil assessment yang dilakukan oleh KSSK ini terlihat begitu menakutkan Sri Mulyani menekankan bahwa justru asumsi ini akan menjadi patokan agar jangan sampai skenario terburuk atau sangat berat terjadi. Itulah mengapa pemerintah berusaha mengeIuarkan beberapa kebijakan dan stimulus untuk mengurangi dampak dari wabah pandemi Covid-19. Pada 1 April 2020, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Perppu tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabiitas Sistem Keuangan, dimana diputuskan pemerintah menambah belanja dan pembiayaan anggaran untuk menangani dampak Covid-19, yaitu sebesar Rp405,1 triliun. [Tabel Belanja dan Anggaran untuk mengatasi dampak Covid-19] Sesuai dengan penjelasan di halaman Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, detail dari penggunaan Anggaran tersebut sebagai berikut: Prioritas ke-1 untuk kesehatan sebesar Rp75 triliun, terutama untuk insentif tenaga medis dan belanja penanganan kesehatan. Prioritas ke-2 untuk social safety net akan diperluas sebesar Rp110 trilun. Prioritas ke-3 adalah dukungan kepada industri senilai Rp70 triliun (pajak, bea masuk, KUR). Prioritas ke-4 adalah dukungan pembiayaan anggaran untuk program pemulihan ekonomi nasional sebesar Rp150 tiliun. [...] (Yossy Girsang, Pengamat Ekonomi dan Praktisi Pasar Modal-Tim Ekonomi Tagor) Kesimpulan yang SALAH berdasarkan informasi di atas adalah .... A. Penurunan ekonomi untuk skenario berat akan lebih buruk 2,1 kali dibanding aktual yang terjadi di 2009 B. untuk skenario sangat berat dampaknya lebih buruk 4,1 kali dibanding krisis ekonomi 2008-2009. C. Kondisi ekonomi akibat COVID-19 lebih buruk bila dibandingkan krisis 2008 D. Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat Indonesia tahun 2020 mengalami penurunan tidak sampai 1,5% sehingga memperparah dampak pelemahan ekonomi. E. Wabah Covid-19 menyebabkan menurunnya kepercayaan investor, sektor pariwisata/travel, supply chain, pasar keuangan, hingga pelemahan pelemahan harga minyak mentah global.

6

0.0

Jawaban terverifikasi

Perhatikan teks di bawah ini untuk menjawab soal nomor 1 sampai nomor 4. Dunia sepakbola Indonesia bagai dihantam badai yang tak berkesudahan. Setelah melanggar regulasi FIFA (Federation lnternationale de Football Association) karena pemerintah melakukan intervensi terhadap PSSI pada musim 2011 - 2012, kini hadir kembali isu pengaturan skor yang diduga melibatkan eksekutif PSSI dan perangkat pertandingan, termasuk wasit. Tingginya tingkat kasus bernada negatif yang melanda sepakbola negeri ini sejalan dengan minimnya prestasi Indonesia dalam kancah internasional, baik Timnas Indonesia maupun klub yang berlaga di AFC Cup ataupun AFC Champions Cup. Dilihat dari grafik timnas Indonesia di level dunia sejak 1993 (tahun dimulainya survei) hingga 2019, dunia persepakbolaan Indonesia menunjukkan tren negatif. Antusiasme yang ditunjukkan masyarakat pun turun melihat sepakbola Indonesia yang carut - marut dan nirgelar. Sikap skeptis kerap kali muncul saat membicarakan sepakbola Indonesia. Publik terkesan lebih menyukai pembicaraan mengenai liga - liga Eropa seperti EPL (English Premier League), La Liga, Bundesliga, dan Ligue 1. Saat diskusi diarahkan ke liga Indonesia antusiasme diskusi meredup, persis yang terjadi di ltalia pada tahun 2006. Dahulu, ltalia mempunyai liga dengan nilai komersial tertinggi di dunia. Diisi dengan pemain - pemain top dunia seperti Ronalda Nazario (lnternazionale), Paulo Maldini (AC Milan), dan David Trezeguet (Juventus), publik seakan terpukau dengan kualitas permainan tim - tim Serie A (liga kasta tertinggi ltalia). Namun, sejak skandal pengaturan skor (Calciopoli) terkuak di Serie A, kepercayaan publik meredup. Secara cepat, tingkat komersialisasi Serie A disalip oleh liga lnggris yang melakukan "ekspansi" bisnis besar- besaran, La Liga yang menghadirkan dua pemain terbaik dunia dengan bumbu rivalitas diatasnya, dan Bundesliga yang kerap memberikan kejutan di tiap laga kontinental, baik Europe League maupun Champions League. Gejolak perpolitikan sepakbola yang sulit ditarik akar masalahnya menjadi sebab musabab kacaunya dunia sepakbola di Indonesia terjadi. Jika mengamati isu belakangan, salah satu acara talkshow Mata Najwa mengangkat tema "Revolusi PSSI". Alasan dibalik timbulnya gerakan revolusi ini tak lain adalah PSSI yang kini memegang hak dan kewajiban sebagai regulator sepakbola Indonesia, dianggap tidak mampu memajukan prestasi liga dan Timnas Indonesia. Publik semakin gerah ketika mengetahui bahwa terdapat conflict of interest dari para executive coordinator atau exco yang menguasai aset tim di Liga 1 Indonesia. Dikarenakan governing body PSSI yang tidak dapat diintervensi oleh pemerintah, penyelesaian konflik kerap lebih suiit. Lalu bagaimanakah strategi memajukan persepakbolaan Indonesia dengan cara yang sustainable seperti liga - liga Eropa ? mari kita ulas dalam pendekatan ekonomi dan manajemen. Untuk mengembangkan sepakbola dalam segi ekonomi, kita tidak dapat secara langsung menerapkan teori ekonomi klasik untuk mengatasi masalah - masalah yang ada, seperti supply- demand pemain sepakbola, market value suatu klub dan ticketing suatu pertandingan sepakbola. Perlu dilakukan pendekatan yang berbeda, dikarenakan ekonomi sepakbola memiliki struktur yang asimetris, inelastis, dan terkadang irasional (Terekli, 2018). Dalam ekonomi sepakbola, klub, pemain, dan fans hanyalah sebagian dari "orchestra untuk menghasilkan musik berkualitas'~ Di sisi lain, pendapatan dari varia bel yang ada, seperti tiket dan penjualan merchandise, sponsor, pembayaran live broadcast, dan pasar taruhan menunjukkan bahwa sepakbola adalah pekerjaan yang profesional. Performa pemain dan klub di lapangan perlu dicatat sebagai hal terpenting yang berkorelasi dengan kesuksesan ekonomis. Transparansi finansial juga perlu dikedepankan untuk menghasilkan good governance policy. Transparansi finansial berupa data finansial suatu klub dan statistik finansial liga di Indonesia belum diterapkan karena masyarakat atau pihak- pihak terkait tidak dapat diakses secara publik. Setelah menganalisis elemen - elemen yang penting dalam pengembangan ekonomi sepakbola, tahap - tahap yang mantap atau distinguished juga perlu diterapkan. Hal ini dikarenakan kemajuan yang berkelanjutan tidak dapat hadir dalam semalam. Mengutip perkataan Prof.Dr.Simon Chadwick dalam tulisan Amal Ganesha (2014), fase perkembangan industri olahraga dimulai dari amatir, profesional, lalu komersialisasi. Di Indonesia, pengembangan pemain muda yang sudah cukup baik (dilihat dari prestasi Timnas Indonesia U-16 hingga U - 23) tidak dijembatani secara serius oleh klub - klub di Indonesia, sehingga saat fase profesional di klub, pemain muda Indonesia sulit berkembang dan kalah bersaing dengan pemain impor dari Brazil, Spanyol, Jepang, dan lainnya. Selain elemen pertama yaitu pemain, ada juga elemen kedua yang penting, yaitu infrastruktur. lnfrastruktur, seperti kualitas lapangan dan fasilitas pendukung ruang ganti dan bangku tim cadangan dan jajaran pelatih berpengaruh pula dalam menunjang kualitas permainan. Riset membuktikan (De Bosscher et all 2009). bahwa semua good performers dalam dunia olahraga memiliki standar infrastruktur olahraga yang sangat baik. Di Negara berkembang beriklim tropis seperti Brazil, lapangan sepakbola dibuat rata dan memiliki kualitas rumput yang baik. Ketiga, klub perlu melakukan langkah independensi dengan perlahan lepas dari bantuan finansial pemerintah daerah. Di Belanda, lnggris, Spanyol, Jerman, dan ltalia, klub - klub sudah lepas dari bantuan pemerintah daerah. Shifting dari public sector football club menjadi private sector football club memberikan pintu bagi klub untuk mandiri, seperti meraih sponsor dengan memperlihatkan kualitas permainan sehingga mampu bersaing di Liga. Terakhir dan paling utama adalah menciptakan engagement ke para supporter. Di Indonesia, supporter tidaklah menjadi suatu masalah karena Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam persentase penggemar sepakbola terbesar di dunia dengan 77 persen. Indonesia hanya kalah dari Nigeria yang mencapai 83 persen. Dengan estimasi penduduk berjumlah 264 juta pada 2017, pangsa pasar penggemar sepakbola Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Pegiat sepakbola dan pemerintah perlu meningkatkan kembali animo masyarakat Indonesia terhadap sepakbola Indonesia dengan menyuguhkan sepakbola indah yang mampu bersaing di ranah internasional. Demikian, realistis atau utopis, kini tergantung kepada governing body PSSI yang memiliki kuasa dalam regulasi sepakbola Indonesia. Publik memiliki andil yang besar dalam menekan PSSI untuk merevolusi dirinya sendiri, karena alasan lex specialis. Namun, jika s-udah tidak ada cara lain, lex sportive semestinya patut dilaksanakan demi menciptakan governing body yang mengerti akan pentingnya komersialisasi sepakbola Indonesia yang berdampak pada hajat orang banyak ini. 4. Pernyataan yang TIDAK MENDUKUNG berdasar- kan paragraf 4 adalah .... A. Dalam ekonomi sepakbola, klub, pemain, dan fans hanyalah sebagian dari "orchestra untuk menghasilkan musik berkualitas" B. Transparansi finansial perlu dikedepankan untuk menghasilkan good governance policy C. Pendapatan dari tiket dan penjualan merchandise, sponsor, pembayaran jive broadcast, dan pasar taruhan menunjukkan bahwa sepakbola adalah pekerja an yang profesional D. Performa pemain dan klub di lapangan perlu dicatat sebagai hal terpenting yang berkorelasi dengan kesuksesan ekonomis E. Transparansi finansial berupa data finansial suatu klub dan statistik finansial liga di Indonesia sudah diterapkan karena masyarakat atau pihak - pihak terkait dapat diakses secara publik

42

5.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Pro-Kontra Belajar Online Moderator:Menginjak pertengahan tahun 2021 virus Covid-19 masih mewabah di Indonesia. Saat ini masyarakat Indonesia masih terus berjuang dalam keterbatasan gerak untuk menghindari penularan virus. Pembatasan aktivitas masih diterapkan oleh pemerintah, salah satunya di sektor pendidikan. Sekolah-sekolah masih terus menerapkan pembelajaran jarak jauh atau belajar online/daring. Belum pasti akan sampai kapan virus Covid-19 mengancam memunculkan wacana diperpanjangnya pembatasan aktivitas masyarakat terutama di sektor pendidikan. Kondisi tersebut membuat kegiatan pembelajaran jarak jauh akan terus diterapkan. Akan tetapi, segala sesuatu tentu memiliki sisi positif dan negatifnya. Pihak Afirmasi:Kasus pandemi Covid-19 memang sudah satu tahun berjalan, tapi ancaman penyebarannya masih tinggi. Penyebaran virus dari orang tanpa gejala juga semakin tinggi. Kondisi ini membuat berbahaya bagi siswa dan tenaga pengajar, terutama di usia rendah. Oleh sebab itu, saya setuju dengan sikap pemerintah yang masih melakukan pembatasan kegiatan terutama di bidang pendidikan. Kegiatan sekolah jarak jauh atau belajar online juga tidak ada salahnya dan sudah berhasil kita jalankan selama dua semester. Pihak Oposisi:Saya tidak setuju pembelajaran online kembali diterapkan. Virus Covid-19 memang belum hilang, tapi kita sudah dibekali pengetahuan untuk meminimalisir penyebarannya. Kita bisa menggunakan itu selama berlangsungnya pembelajaran tatap muka. Lagi pula siswa-siswa membutuhkan kegiatan pembelajaran tatap muka, terutama siswa tingkat prasekolah dan sekolah dasar. Jika pembelajaran online kembali diterapkan, maka interaksi sosial bagi para siswa menjadi kurang berkembang. Mereka akan kehilangan proses pembelajaran sosial sedari dini dan kehilangan proses bermain bersama teman sekolah. Oleh sebab itu, alangkah lebih baik jika pembelajaran tatap muka segera diadakan tentunya dengan protokol kesehatan yang sudah diterapkan. Apakah teks tersebut termasuk teks debat? Mengapa demikian?

21

5.0

Jawaban terverifikasi