MUHAMAD S

05 Juni 2023 01:22

Iklan

MUHAMAD S

05 Juni 2023 01:22

Pertanyaan

Pada tahun 1899 Mr. Courad Theodore van Deventer melancar kritikan-kritikan yang tajam terhadap pemerintah Belanda. Kritikan itu ditulis dan di muat dalam Jurnal Belanda de Gids dengan judul Een Eeressculd yang berarti… A Hutang uang B Hutang janji C kebaikan D Hutang budi dan kehormatan

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

07

:

09

:

55

Klaim

1

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

RYO R

06 Juni 2023 12:22

Jawaban terverifikasi

<p>Jawabannya adalah D. Hutang budi dan kehormatan</p><p>Pada tahun 1899, Mr. Courad Theodore van Deventer melancarkan kritikan-kritikan yang tajam terhadap pemerintah Belanda. Kritikan-kritikan tersebut ditulis dan dimuat dalam Jurnal Belanda "de Gids" dengan judul "Een Eeressculd", yang secara harfiah berarti "Hutang Budi dan Kehormatan".</p><p>Dalam kritikannya, van Deventer menyoroti perilaku pemerintah Belanda yang dianggap melanggar prinsip-prinsip moral dan etika dalam hubungannya dengan koloninya, termasuk Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Ia menekankan bahwa pemerintah Belanda memiliki kewajiban moral untuk memenuhi janji-janji, menghormati hak-hak, dan menjaga hubungan yang adil dengan penduduk di koloni-koloninya.</p><p>Dengan judul "Een Eeressculd" atau "Hutang Budi dan Kehormatan", van Deventer ingin mengingatkan pemerintah Belanda akan tanggung jawab mereka untuk menghormati nilai-nilai moral dan menghargai hubungan yang adil dengan koloni-koloninya, termasuk dalam konteks hubungan dengan Hindia Belanda. Kritikan ini mencerminkan ketidakpuasan terhadap kebijakan kolonial Belanda dan menekankan pentingnya menjaga budi pekerti dan kehormatan dalam interaksi dengan pihak lain.</p>

Jawabannya adalah D. Hutang budi dan kehormatan

Pada tahun 1899, Mr. Courad Theodore van Deventer melancarkan kritikan-kritikan yang tajam terhadap pemerintah Belanda. Kritikan-kritikan tersebut ditulis dan dimuat dalam Jurnal Belanda "de Gids" dengan judul "Een Eeressculd", yang secara harfiah berarti "Hutang Budi dan Kehormatan".

Dalam kritikannya, van Deventer menyoroti perilaku pemerintah Belanda yang dianggap melanggar prinsip-prinsip moral dan etika dalam hubungannya dengan koloninya, termasuk Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Ia menekankan bahwa pemerintah Belanda memiliki kewajiban moral untuk memenuhi janji-janji, menghormati hak-hak, dan menjaga hubungan yang adil dengan penduduk di koloni-koloninya.

Dengan judul "Een Eeressculd" atau "Hutang Budi dan Kehormatan", van Deventer ingin mengingatkan pemerintah Belanda akan tanggung jawab mereka untuk menghormati nilai-nilai moral dan menghargai hubungan yang adil dengan koloni-koloninya, termasuk dalam konteks hubungan dengan Hindia Belanda. Kritikan ini mencerminkan ketidakpuasan terhadap kebijakan kolonial Belanda dan menekankan pentingnya menjaga budi pekerti dan kehormatan dalam interaksi dengan pihak lain.


RYO R

06 Juni 2023 12:22

Jan lupa 5⭐

Iklan

Salsabila M

Community

13 Maret 2024 01:01

Jawaban terverifikasi

<p>D. Hutang budi dan kehormatan</p><p>&nbsp;</p><p><br>Judul "Een Eeressculd" dalam bahasa Belanda secara harfiah diterjemahkan sebagai "Hutang Kehormatan". Dalam konteks kritikan yang dilontarkan oleh Mr. Courad Theodore van Deventer terhadap pemerintah Belanda pada tahun 1899, istilah "hutang kehormatan" ini bisa merujuk pada kritik yang dia sampaikan terkait dengan kewajiban moral atau etika yang dipercayai pemerintah Belanda harus memenuhinya terhadap warga Hindia Belanda (sekarang Indonesia) atau terhadap nilai-nilai tertentu yang mereka klaim diwakili.</p><p>Seiring dengan konteks sejarah pada waktu itu, kritik tersebut mungkin berkaitan dengan ketidaksetiaan atau pengabaian yang dirasakan oleh Van Deventer terhadap kewajiban moral yang dipercayai Belanda harus memenuhinya terhadap warga koloninya. Jadi, jawaban D, "Hutang budi dan kehormatan," merujuk pada substansi kritik yang disampaikan oleh Van Deventer.</p>

D. Hutang budi dan kehormatan

 


Judul "Een Eeressculd" dalam bahasa Belanda secara harfiah diterjemahkan sebagai "Hutang Kehormatan". Dalam konteks kritikan yang dilontarkan oleh Mr. Courad Theodore van Deventer terhadap pemerintah Belanda pada tahun 1899, istilah "hutang kehormatan" ini bisa merujuk pada kritik yang dia sampaikan terkait dengan kewajiban moral atau etika yang dipercayai pemerintah Belanda harus memenuhinya terhadap warga Hindia Belanda (sekarang Indonesia) atau terhadap nilai-nilai tertentu yang mereka klaim diwakili.

Seiring dengan konteks sejarah pada waktu itu, kritik tersebut mungkin berkaitan dengan ketidaksetiaan atau pengabaian yang dirasakan oleh Van Deventer terhadap kewajiban moral yang dipercayai Belanda harus memenuhinya terhadap warga koloninya. Jadi, jawaban D, "Hutang budi dan kehormatan," merujuk pada substansi kritik yang disampaikan oleh Van Deventer.


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

. Puncak kemarahan diponegoro terjadi dan hingga meletuslah perang setelah...

14

5.0

Jawaban terverifikasi