Sebuah Kejujuran Karya: Lisa Oktafiani
Andi duduk di kelas VI di SD Nusa Bangsa. Di sekolah, semua orang mengenal Andi sebagai sosok yang baik, sopan, dan pandai bergaul. Pada suatu harl, ada ulangan mendadak di kelas Andi. Teman-temar:i sekelas Andi banyak yang mengeluh. Namun, Andi tetap tenang karena semalam la telah belajar. Hasilnya, nilai ulangan Andi menjadl yang tertlnggl di kelas. Saat perjalanan pulang dari sekolah, Andi bertemu temafr sekelasnya. "Andi, pulang sekolah kita bermain futsal, yuk!" ajak lvan "Besok kan ada ulangan. Aku Ing In belajar," jawab Andi. "Kamu kan sudah plntar. Tanpa belajar pastl juga bagus nilalmu nanti ,"' · kata Ivan mencoba membujuk Andi. "Hm, glmana ya? Sebenarnya aku juga lngln bermaln futsal sih," kata Andi ragu-ragu. "Sudahlah, ayo, ikut" kata Ivan sambil menarlk tangan Andi.
Andi akhirnya ikut bermain futsal. Sore hari ia baru pulang. Sampai di rumah. Andi langsung mandi
dan belajar. Karena kelelahan, Andi hanya sempat belajar .30' menit. ·
Keesokan harinya, Andi bertemu Ivan di sekolah. Ivan penasaran, apakah mungkin Andi tetap
· belajar setelah kelelahan bermain futsal. Ivan pun bertanya kepada Andi.
"Andi , apakah kamu jadi belajar?" tanya Ivan .
. "lya, Van, tetapi hanya sebentar," jawab Andi sedih.
"Sudahlah, aku malah · tidak sempat belajar," kata Ivan sambil tertawa-tawa melihat wajah
. sahabatnya yang terlalu serius itu.
Tak lama kemudian, Bu Ria datang. Anak-anak berlarian ke tempat duduk mereka masing-masing.
Bu Ria men.ggelengkan kepala. "Pagi Anak-Anak, kalian sudah siap ulangan?" tanya Bu Ria. "Belum, Bu! jawab murid-murid sekelas dengan kompak
"Kemario lbu sudah bilang ada ulangan, bukan? Ayo, semua masukkan buku ke dalam tas!" kata.
Bu Ria tegas. ,
Suasana kelas ribut dipenuhi suara keluhan anak-anak. Beberapa detik kemudian, suasana sunyi.
Bu Ria membagikan kertas yang sudah berisi seal. Bu Ria meminta anak-anak untuk mengerjakan
μlangan dengan jujur.
· Andi sangat gelisah. Banyak sekali seal yang tidak bisa dikerjakannya karena materi itu belum
sempat ia pelajari kembali kemarin. "Ah, andai saja aku kemarin pelajari semua materi di subtema ini!"
teriaknya dalam hati. Dengan perasaan was-was, ia menulis jawaban seingatnya.
. . Beberapa menit kemudian, Bu Ria .meninggalkan kelas. Dengan begitu, tidak ada yang mengawasi
saat ulangan berlangsung. Setelah guru mereka berjalan agak jauh, kelas langsung dipen·uhi suara
l;>isik-bisik. Banyak yang terang-terangan membuka buku dan menyontek. Sebagian lagi melihat
pekerjaan milik teman. Meskipun sangat terdesak, Andi tidak mau menyontek seperti teman-temannya
yang lain.
Dua hari kemudian hasil ulangan dibagikan. Andi dipanggil pada urutan pertama. Andi berjalan
ke depan, jaritungnya berdebar-debar. Begitu melihat nilai di kertas yang dibagikan, Andi tersentak. la
sangat kaget karena mendapat nilai 90. Padahal, ia merasa tidak dapat mengerjaka.n ulangan dengan
maksimal. Setelah semuanya dibagikan, Bu Ria berjalan ke tengah kelas . "Kalian tahu? lbu tahu bahwa pada saat ulangan kemarin kaiian menyontek," kata Bu Ria dengan nada kecewa. "Kecuali empat orang. Fira, Annie, Ressa, dan Aadi. Bagi lbu, empat anak ini sangat baik karena mereka jujur, tidak menyontek. Terima kasih atas kejujuran kalian. Untuk anak lainnya yang menyontek,
siap-siap saja kalian akan ulangan lagi!" ucap Bu Ria ringan sambil menuju meja guru.
Suasana kelas menjadi he.ning. Anak-anak yang menyontek merasa sangat malu dan menyesal. Dalam hati, mereka berjanji tidak akan menyontek lagi. Seme11tara itu, Andi masih merasa tidak percaya. I la mendapat nilai 90 tanpa belajar dengan maksimal. Menurutnya, itu pencapaian menakjubkan.
Sepulang sekolah, Andi menceritakan kejadian itu kepada ibunya tersayang. lbunya tersenyumlembut. "Andi, kamu harus mengambil hikmah dari kejadian ini," ucap ibunya. "lya, Bu, aku mengerti ," jawab Andi masih dengari wajah berseri-seri .
"Kalau ingin tutus, kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh karena sebentar lagi ujian ketulusan. tngattah setalu untuk jujur dan tidak menyontek," nasihat ibunya. "tya, Bu, aku akan-setatu mengingat nasihat lbu," kata Andi sambil memelu_k ibunya
Sejak kejadian itu, Andi makin tekun betajar. Ujian kelutusan pun tiba. Akhirnya, pada saat pengumuman kelulusan, Andi lulus dengan nilai tertinggi. Saat menerima penghargaan dari sekolah, Andi merasa sangat bahagia Perasaan haru menyelimutinya ·karena penghargaan itu didapatkan dari
kerja kerasnya selam.a ini, bukan hasil menyontek. "Jujur itu beni;ir-benar indah dan berharga," katanya dalam hati.
Apa judul cerita tersebut?

1