Faizal P

09 Januari 2024 13:18

Iklan

Faizal P

09 Januari 2024 13:18

Pertanyaan

Makna Puisi ini apa ya sira tetruka neng ngriku, unggyaning wreksa Tembaga. Kau akan menemukanku di lipat babad dalam jasad syair-syair Asmaradana itu. Menunggu takdirku sendiri; menepati takdirku untuk menyendiri. Aroma-aroma ajaib menguar ke udara, sebab terkadang untuk memeluk takdir kita mesti menjauh dari semoga.

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

04

:

58

:

43

Klaim

1

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Miftah B

Community

10 Januari 2024 04:35

Jawaban terverifikasi

Halo sobat 👋 Jawaban: Puisi ini tampaknya menggambarkan perasaan seseorang yang menyadari bahwa takdirnya terletak dalam lipatan babad dalam jasad syair-syair Asmaradana. Puisi menyiratkan tentang menemukan diri sendiri dalam pengalaman hidup dan menerima takdir dengan kesendirian. Ada nuansa romantis dan misterius dalam penggambaran aroma-aroma ajaib yang menguar ke udara, mungkin sebagai metafora dari perjalanan hidup yang penuh dengan keajaiban dan pengorbanan


Iklan

Mercon M

Community

30 April 2024 11:55

Jawaban terverifikasi

<p>Jawaban:</p><p>Puisi ini tampaknya merujuk pada pengalaman seseorang yang menemukan makna atau pemahaman tentang dirinya sendiri melalui refleksi dalam keheningan dan keindahan sastra. Kata-kata "sira tetruka neng ngriku, unggyaning wreksa Tembaga" mungkin menggambarkan pencarian atau penemuan diri yang mendalam, seperti menemukan "jati diri" di balik keheningan dan keindahan sastra.</p><p>&nbsp;</p><p>Dengan ungkapan "Menunggu takdirku sendiri; menepati takdirku untuk menyendiri," puisi ini mungkin juga menyoroti perjalanan menuju pemahaman diri yang lebih dalam, yang kadang-kadang memerlukan waktu sendiri untuk merenung dan merenungkan takdir atau nasib sendiri.</p><p>&nbsp;</p><p>Aroma-aroma ajaib yang menguar ke udara bisa menjadi metafora untuk pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri yang muncul melalui pengalaman dan refleksi. Dan "menjauh dari semoga" mungkin merujuk pada kebutuhan untuk meninggalkan harapan-harapan eksternal atau ekspektasi masyarakat untuk menemukan kebenaran atau identitas pribadi yang lebih dalam.</p>

Jawaban:

Puisi ini tampaknya merujuk pada pengalaman seseorang yang menemukan makna atau pemahaman tentang dirinya sendiri melalui refleksi dalam keheningan dan keindahan sastra. Kata-kata "sira tetruka neng ngriku, unggyaning wreksa Tembaga" mungkin menggambarkan pencarian atau penemuan diri yang mendalam, seperti menemukan "jati diri" di balik keheningan dan keindahan sastra.

 

Dengan ungkapan "Menunggu takdirku sendiri; menepati takdirku untuk menyendiri," puisi ini mungkin juga menyoroti perjalanan menuju pemahaman diri yang lebih dalam, yang kadang-kadang memerlukan waktu sendiri untuk merenung dan merenungkan takdir atau nasib sendiri.

 

Aroma-aroma ajaib yang menguar ke udara bisa menjadi metafora untuk pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri yang muncul melalui pengalaman dan refleksi. Dan "menjauh dari semoga" mungkin merujuk pada kebutuhan untuk meninggalkan harapan-harapan eksternal atau ekspektasi masyarakat untuk menemukan kebenaran atau identitas pribadi yang lebih dalam.


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

TEKS 1 Pada Suatu Hari Nanti Karya Sapardi Djoko Damono Pada suatu hari nanti, Jasadku tak akan ada lagi, Tapi dalam bait-bait sajak ini, Kau tak akan kurelakan sendiri. Pada suatu hari nanti, Suaraku tak terdengar lagi, Tapi di antara larik-larik sajak ini. Kau akan tetap kusiasati. Pada suatu hari nanti, Impianku pun tak dikenal lagi, Namun di sela-sela huruf sajak ini, Kau tak akan letih-letihnya kucari. TEKS 2 Setelah Dibawa ke Ruangan Besar Karya Wildan Pradisyta Putra Kata ibuku, pagi adalah hari yang paling dinantikan banyak orang di dunia. Tapi, aku dan teman-temanku di sini sepakat, kami benci pagi. Karena di waktu pagi, kami harus berpisah dengan ibu-ibu kami. Berpisah dengan orang yang paling kami sayangi. Teman-temanku selalu menantikan waktu sore tiba. Atau, kata Mbak Ratih, waktu senja. Tapi, kami lebih suka menyebut sore saja. Kami tak begitu sering mendengar orang mengucapkan kata senja. Di waktu pergantian cerah dan gelap itulah, kami bersukaria. Karena, ada sepasang tangan cantik yang mengendong kami dan membawa kami kembali ke rumah. Kadang, saking tak sabarnya menunggu dijemput ibu, aku menangis. Seperti sore ini. Mbak Ratih pun selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ia memberiku mainan dan permen agar air mataku tak jatuh lagi. Tapi, aku tetap menangis. Aku berjanji pada diriku sendiri akan menghentikan tangisanku jika ibu sudah menjemputku. Kupandangi terus pintu ruangan yang berwarna-warni dan ada berbagai lukisan- lukisan dan gambar-gambar lucu itu. Ibu belum juga datang. Ibu mengatakan, sayang sekali padaku setiap waktu. Katanya, aku anak paling ganteng sedunia. Berkulit putih, berambut lurus, dan calon pilot yang menerbangkan pesawat yang amat besar. Tapi, kenapa setiap hari ia meninggalkanku dan menitipkanku di tempat ini. Walaupun tempat ini lebih indah daripada rumahku, tapi akan lebih indah jika bersama ibu saja, bukan bersama Mbak Ratih. Ibuku bekerja di bank. Kata ibu, ia bekerja untuk membelikanku mainan yang banyak, permen, dan cokelat kesukaanku. Aku senang sekali mendengar itu. Dulu, aku sempat dititipkan di rumah kakek dan nenek di kampung. Yang jaraknya jauh sekali dan berjam-jam kalau naik bus. Tapi, aku tak ingin bersama kakek dan nenek, aku tetap ingin Bersama ibu. Jadi, kukeluarkan teriakan dan air mata selama dua hari berturut-turut. Akhirnya, usahaku berhasil, ibu menjemputku lagi. Dan membawaku kembali ke kota. Ayahku sudah tak pernah kelihatan lagi. Suatu ketika, aku sangat kangen dengan ayahku. Di ruang tamu rumah kakek dan nenek, kami berkumpul. “Ibu, di mana ayah?” tanyaku. “Ayah pergi bekerja jauh sekali,” jawab ibu. “Bekerja ke mana kok ayah tidak pulang, Bu?” tanyaku lagi “Ayahmu bekerja ke negeri yang jauh, pulangnya lama sayang,” kata nenek. “Ayah ingin membangunkan kita rumah yang terbuat dari permen dan cokelat sayang, sambung ibu, Mari kita doakan ayah semoga ayah selalu bahagia di sana!” kata ibu sambil mengusap-usap kepalaku. Aku hanya mengangguk-angguk. Dan tak mau bertanya lagi kepada mereka. Sebab, aku tidak ingin melihat kakek, nenek, dan ibu menangis. Aku heran, kenapa orang yang bekerja harus ditangisi? Mungkin mereka kangen sama seperti rasa kangenku pada ayah. Kenapa orang dewasa juga suka menangis sama sepertiku? Yang jelas, ketika ayah pergi, ibu tak pernah berhenti bekerja. Tak ada hari libur bagi ibu. Aku heran, apa ayah tidak pernah memberikan uang kepada ibu? Lalu, uang siapa yang digunakan ibu untuk membeli cokelat dan mainanku setiap hari? Apa ayah jahat? Tapi, tidak mungkin ah, ayah orang baik dan menyayangi kami. Ayah tidak mungkin menelantarkan kami. Dan membiarkan ibu membiayai hidupku sendirian. (Sumber: https://www.republika.co.id/berita/qcseoo282/setelah-dibawa-ke-ruangan-besar) 1. Teks manakah yang disebut sebagai teks puisi? Jelaskan alasan dan buktinya!

6

0.0

Jawaban terverifikasi