Anonim A

17 Januari 2022 13:11

Pertanyaan

hukum bacaan trabtafkhim dan ra tarqiq dalam Q.S An nisa ayat 146


489

2

Jawaban terverifikasi

D. Wahyu

Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Semarang

13 Februari 2022 06:44

Jawaban terverifikasi

Halo Anonim, kakak bantu jawab ya. Hukum bacaan ra' tafkhim, yaitu pada lafadz أَجْرًا عَظِيمًا dan lafadz ra' tarqiq tidak ditemukan. Hukum bacaan ra dibagi menjadi dua, yaitu ra tafkhim dan ra tarqiq. Ra tafkhim adalah mengucapkan huruf dengan tebal sampai memenuhi mulut ketika mengucapkannya. Ra dibaca tafkhim dalam kondisi sebagai berikut: 1. Jika ra berharakat fathah atau dhammah. Contoh: لَا رَيْبَ, رَزَقْنٰهُمْ, وَبِالْاٰخِرَةِ , نَارًا , كَفَرُوْا. 2. Jika ra sukun/mati, dan huruf sebelum ra berharakat fathah atau dhammah. Contoh: فِى الْاَرْضِ, فَارْهَبُوْنِ, وَارْكَعُوْا, اَرْبَعِيْنَ ,الْحَرْثَۚ .وَالْفُرْقَانَ ,هٰذِهِ الْقَرْيَةَ ,الْقُرْبٰى ,انْظُرْنَا 3. Saat aaqaf, ra dibaca sukun, huruf sebelumnya (selain huruf ya) juga sukun, di mana sebelum huruf sukun tersebut berharakat fathah atau dhammah. Contoh: الْقَدْرِ dalam posisi waqaf, dibaca الْقَدْرْ. لَفِيْ خُسْرٍ dalam posisi waqaf, dibaca لَفِيْ خُسْرْ. 4. Ra sukun yang huruf sebelumnya berharakat kasrah ‘aridhah (bukan kasrah asli). Contoh: ارْجِعُوْا : dibaca irji’uu, hamzah di sini dinamakan hamzah washal, dan ra mati harus dibaca tafkhim karena sebelumnya berupa kasrah ‘aridhah. 5. Ra sukun yang huruf sebelumnya berharakat kasrah asli tapi setelah ra berupa huruf isti’la ( خ ص ض غ ط ق ظ) dan dalam satu kalimah (kata). Contoh, di dalam Al Quran hanya ada 5 kalimah yaitu:قِرْطَاسٍ. فِرْقَةٍ، اِرْصَادًا.مِرْصَادًا. لَبِالْمِرْصَادْ. Ra tarqiq adalah mengucapkan huruf dengan ringan (tipis) sehingga tidak sampai memenuhi mulut ketika pengucapannya. Ra dibaca tarqiq dalam kondisi sebagai berikut: 1. Huruf ra berharakat kasrah. Contohnya di surat Al-Baqarah: اَفْرِغْ ,الْكٰفِرِيْنَ 2. Ra sukun, huruf sebelumnya berharakat kasrah asli, dan setelahnya tidak bertemu huruf isti’la. Contoh: فِرْعَوْنَ. 3. Ra sukun (karena waqaf), huruf sebelumnya berupa ya sukun (يْ). Contoh: قَدِيْرٌ dibaca qadiir (tipis) saat waqaf, خَيْرٌ dibaca khaiir (tipis) saat waqaf. 4. Ra sukun karena waqaf, huruf sebelumnya sukun (selain ya), dan huruf sebelum huruf sukun ini berharakat kasrah. Contoh: الذِّكْرُ dibaca addzikr (tipis) saat waqaf, السِّحْرُ dibaca assihr (tipis) saat waqaf. الشِّعْرُ dibaca asysyi’r (tipis) saat waqaf. 5.Ra sukun jatuh setelah huruf berharakat kasrah asli, setelahnya berupa huruf isti’la, tapi ada dalam kalimah (kata) yang berbeda. Contoh: اَنْ اَنْظِرْ قَوْمَكَ meskipun ada huruf isti’la, tapi karena antara ra dan huruf isti’la berada dalam kata yang berbeda, maka dibaca tarqiq. Perhatikan surat An-Nisa ayat 146 berikut. اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللّٰهِ وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۗ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا Ditemukan ra tafkhim dalam lafadz أَجْرًا عَظِيمًا. Pada lafadz tersebut huruf ra berharakat fathah tanwin, di mana ra yang berharakat fathah tanwin dibaca tafkhim/tebal. Sedangkan hukum bacaan ra tarqiq dalam ayat tersebut tidak ditemukan. Jadi, jawaban dari soal tersebut telah sebagaimana pada penjelasan di atas. Semoga membantu ya.


Y. Nur

Mahasiswa/Alumni Universitas negeri semarang

03 Februari 2022 05:15

Halo Anonim Kakak bantu jawab ya. Hukum bacaan ra' tafkhim, yaitu pada lafadz أَجْرًا عَظِيمًا dan lafadz ra' tarqiq tidak ditemukan. Cermati pembahasan berikut. Hukum bacaan ra dibagi menjadi dua, yaitu ra tafkhim dan ra tarqiq. Ra tafkhim adalah mengucapkan huruf dengan tebal sampai memenuhi mulut ketika mengucapkannya. Ra’ dibaca tafkhim dalam kondisi sebagai berikut: 1. Jika ro’ berharakat fathah atau dhammah Contohnya sebagai berikut: لَا رَيْبَ, رَزَقْنٰهُمْ, وَبِالْاٰخِرَةِ., نَارًا., كَفَرُوْا. 2. Jika Ra’ Sukun/Mati, Dan Huruf Sebelum Ro Berharokat Fathah Atau Dhommah Contohnya: فِى الْاَرْضِ, فَارْهَبُوْنِ, وَارْكَعُوْا, اَرْبَعِيْنَ ,الْحَرْثَۚ .وَالْفُرْقَانَ,هٰذِهِ الْقَرْيَةَ ,الْقُرْبٰى ,انْظُرْنَا 3. Saat Waqaf, Ra’ Dibaca Sukun, Huruf Sebelumnya (Selain Huruf Ya’) Juga Sukun, Di Mana Sebelum Huruf Sukun Tersebut Berharakat Fathah Atau Dhommah Contohnya: الْقَدْرِ dalam posisi waqaf, dibaca الْقَدْرْ. لَفِيْ خُسْرٍ dalam posisi waqaf, dibaca لَفِيْ خُسْرْ. 4. Ra’ Sukun Yang Huruf Sebelumnya Berharakat Kasrah ‘Aridhah (Bukan Kasrah Asli) Contoh: ارْجِعُوْا : dibaca irji’uu, hamzah di sini dinamakan hamzah washal, dan ra’ mati harus dibaca tafkhim karena sebelumnya berupa kasrah ‘aridhah. 5. Ra’ Sukun Yang Huruf Sebelumnya Berharakat Kasroh Asli Tapi Setelah Ra’ Berupa Huruf Isti’la Dan Dalam Satu Kalimah (Kata) Huruf isti’la terdiri atas: خ ص ض غ ط ق ظ. Contoh, di dalam Al Quran hanya ada 5 kalimah yaitu:قِرْطَاسٍ. فِرْقَةٍ، اِرْصَادًا.مِرْصَادًا. لَبِالْمِرْصَادْ. Ra tarqiq adalah mengucapkan huruf dengan ringan (tipis) sehingga tidak sampai memenuhi mulut ketika pengucapannya. Ra’ dibaca tarqiq dalam kondisi sebagai berikut: 1. Huruf Ro Berharakat Kasrah Contohnya di surat Al Baqarah: اَفْرِغْ ,الْكٰفِرِيْنَ 2. Ro Sukun, Huruf Sebelumnya Berharakat Kasrah Asli, Dan Setelahnya Tidak Bertemu Huruf Isti’la Contohnya: فِرْعَوْنَ. 3. Ra Sukun (Karena Waqaf), Huruf Sebelumnya Berupa Ya’ Sukun (يْ) قَدِيْرٌ dibaca qadiir (tipis) saat waqaf, خَيْرٌ dibaca khaiir (tipis) saat waqaf. 4. Ra Sukun Karena Waqaf, Huruf Sebelumnya Sukun (Selain Ya), Dan Huruf Sebelum Huruf Sukun Ini Berharakat Kasrah Contohnya: الذِّكْرُ dibaca addzikr (tipis) saat waqaf, السِّحْرُ dibaca assihr (tipis) saat waqaf. الشِّعْرُ dibaca asysyi’r (tipis) saat waqaf. 5.Ra Sukun Jatuh Setelah Huruf Berharakat Kasrah Asli, Setelahnya Berupa Huruf Isti’la, Tapi Ada Dalam Kalimah (Kata) Yang Berbeda Contohnya: اَنْ اَنْظِرْ قَوْمَكَ : meskipun ada huruf isti’la, tapi karena antara ra dan huruf isti’la berada dalam kata yang berbeda, maka dibaca tarqiq. Secara sederhana, arti kata tafkhim dalam ilmu tajwid adalah membaca tebal, sedangkan tarqiq dalam ilmu tajwid adalah membaca tipis. Ditemukan ra' tafkhim dalam lafadz أَجْرًا عَظِيمًا. Pada lafadz tersebut huruf ro' berharakat fathah tanwin, di mana ra' yang berharakat fathah tanwin dibaca tafkhim/tebal. Sedangkan hukum bacaan ra' tarqiq dalam surah an-nisa ayat 146 tidak ditemukan. Jadi, jawaban dari soal tersebut telah dipaparkan di atas. Terima kasih. Semoga membantu ya.


ask to forum

Belum menemukan jawaban?

Tanya soalmu ke Forum atau langsung diskusikan dengan tutor roboguru plus, yuk

Tanya ke Forum

Pertanyaan serupa

kitab injil diturunkan pada tahun...di tempat...

29

0.0

Jawaban terverifikasi