Aprilia A

09 Agustus 2019 09:37

Iklan

Aprilia A

09 Agustus 2019 09:37

Pertanyaan

hai kak..aku disini punya pertanyaan MTK ni..tapi gk bisa jawabnya..kira² brp ya.???ini soalnya beras seberat 93 3/4 dibagi 6,25?? tolong jwb ya

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

18

:

55

:

40

Klaim

1

2


Iklan

Flora. W

09 Agustus 2019 12:44

Halo Fat, aq Fanya, nanti q folback So jwbny kan 15 tuh kan yg td Fat_-


Iklan

Aprilia A

09 Agustus 2019 12:56

oh yayaya


Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

Roboguru Plus

Dapatkan pembahasan soal ga pake lama, langsung dari Tutor!

Chat Tutor

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

1.Bacalah kutipan drama berikut! Abah: "Kalau cari suami harus yang jelas masa depannya, jangan seperti si Kabayan!" Iteung: "Tapi Kang Kabayan mah baik nyaah sama Iteung." Abah: "Baik? Baik apanya? Kalau memang baik pasti suka ngirim uang, paling sedikit ngirim ikan kesenangan Abah. Ikan gurame!" Ambu: "Abah teh kumaha. Apa-apa selalu saja diukur pakai uang." Tokoh Iteung pada kutipan drama tersebut akan lebih menarik jika menggunakan kostum a. celana panjang dan kaos dengan rambut panjang dibiarkan terurai b. celana panjang dan kaos dengan rambut dikepang dua c. kebaya dan celana panjang dengan rambut dibiarkan terurai d. kebaya dan kain dengan rambut di kepang dua 2.Jo : "Hey, jalan yang bener dong!" (keluar dari mobil) Yuda: (tampak terkejut dan menguasai diri) "Maaf Pak." Jo: (melotot) "Maaf, maaf!" (1) Bapak: "Sudahlah Jo, dia sudah minta maaf kok, lagi pula ayah buru- buru nanti terlambat ke kantor." (cepat menyusul keluar dari mobil) Jo : "Tidak bisa, dia harus diberi pela- jaran!" (nyaris melayangkan tinju) (2) Bapak : "Sabar Jo. (melihat kasihan pada Yuda) "Kau pergilah, Nak!" Yuda : "Terima kasih, Pak!" (3) Bapak "Hey, apa yang kau bawa, Nak?" (heran) "Kamu jual lukisan?" Yuda : "lya Pak, ini lukisan kaca." (4) Bapak: "Sungguh baru kali ini aku melihat lukisan kaca, biasanya saya di rumah memajang lukisan kanvas, lukisan kertas, lukisan bulu, dan lain-lain. Tapi, lukisan ini? Ah ya berapa kamu menjual ini?" Yuda: "Yang mana Pak?" (5) Bapak: "Semuanya. Ah sudah jangan bingung, gini aja gimana kalau lukisan itu saya beli lima juta rupiah." Yuda : "Apa? Lima juta!" (6) Bapak: "Apa kurang?" Yuda : "Cu... kup, Pak." Bukti latar waktu dalam kutipan drama tersebut terdapat pada dialog nomor .... a. (1) b. (3) c. (4) d. (6) 3.Perhatikan penggalan drama berikut! "Dari mana saja kau, Badar? Hari sudah petang tapi kau baru pulang," tanya ayah sambil berkacak pinggang. Dialog tersebut diucapkan dengan nada a. keras sambil bercanda b. marah dan serius c. rendah dan penuh tanya d. penuh kasih sayang 4.Cermati kutipan bacaan berikut! "Mohammad-san inilah rumahku." Toshihiko berkata ketika kami sampai di depan sebuah rumah kayu yang sederhana. Lalu berteriak, "Ibu! Ibu! Inilah tamu yang kita tunggu. Lihatlah, seorang Indonesia yang tersesat di kebun anggur Katsunuma. Bukankah ini suatu kehormatan bagi kita?" Bacaan tersebut termasuk teks fiksi karena a. memiliki unsur tema dan tokoh b. bersifat sistematis berdasarkan fakta yang ada c. narasi dan dialog menggunakan ragam bahasa baku d. menggunakan peribahasa untuk membandingkan suatu hal 5.Perhatikan teks berikut! Perkembangan teknologi informatika dalam satu dekade terakhir mengalami lonjakan luar biasa. Munculnya internet memudahkan setiap orang mendapat akses informasi. Tidak hanya sekadar berita, melalui internet orang bisa ber- jualan, memasang iklan, menikmati musik, dan memungkinkan individu mengetahui berbagai peristiwa secara intensif. Berdasarkan wacana tersebut, istilah yang dapat dideretkan dalam indeks dengan tepat adalah a. akses-individu-informatika-informasi- teknologi b. akses-iklan-individu-intensif-internet C. iklan-individu-informasi-intensif-internet d. individu-informasi-intensif-internet-iklan 6.Perhatikan kutipan indeks berikut! Gaib 8 Ilmu Fisika 7 Ilustrasi 57 Imajinasi 59 Implikasi 54 Magnetis 65 Pengetahuan eksakta 46 Pengetahuan keras 47 Pengetahuan lunak 48 Pengetahuan non-eksakta 45 Berikut ini pernyataan yang tidak benar berdasarkan indeks tersebut adalah a. Di halaman 46, kita dapat mempelajari materi pengetahuan keras. b. Materi tentang implikasi dapat kita jumpai di halaman 54. C. Di halaman 45 kita dapat mempelajari pengetahuan non-eksakta d. Pengetahuan eksakta dapat kita pelajari di halaman 46. *kutipan teks drama berikut untuk soal nomor 7 - 9* (1) Mayor: "Berapa lama lagi aku harus menunggu? Lihat semburat matahari sudah terlihat." (sambil menggebrak meja) (2) Kopral: "Sabarlah sedikit, Pak." (3) Mayor "Jangan ditawar lagi." (4) Kopral: "Apanya, Pak?" (5) Mayor: "Kesabarannya! Sejak kemarin kesabaran saya habis. Sabar itu prinsip. Tidak bisa ditawar- tawar, ngerti?" (6) Kopral: "Kalau begitu kuralat ucapanku tadi." (7) Mayor: "Ya, tapi pertanyaanku belum Bung jawab. Berapa lama lagi? Semburat matahari sudah terlihat tu!" 7.Dialog pada kutipan teks drama tersebut yang berisi kramagung ditandai dengan nomor a. (1) b. (3) c. (4) d. (5) 8.Latar disertai bukti nomor pada kutipan drama tersebut adalah .... a.. siang hari, bukti pada dialog nomor (7) b. menjelang maghrib, bukti pada dialog nomor (5) c.pagi hari, bukti pada dialog nomor (7) d. sore hari, bukti pada dialog nomor (1) 9.Amanat yang sesuai dengan kutipan teks drama tersebut adalah .... a. Kemarahan bukanlah cara penyelesaian masalah yang bijak. b. Seorang bawahan tidak sepatutnya melawan atasan sekalipun untuk membela kebenaran. c. Kita harus lebih banyak bersabar menghadapi apa pun. d. Kita harus mengikuti keinginan atasan walaupun tidak sejalan dengannya. *kutipan drama berikut untuk soal nomor 10-13* Fikri: "Hai sobat. Lho ada apa ini? Kamu kok kelihatan sedih?" Bayu: "Enggak. Perasaan kamu saja." Fikri: "Ayolah... Aku kenal kamu dari kecil. Aku bisa tahu kamu sedih, senang, malas, atau marah? Ayo katakan padaku siapa tahu aku bisa membantu." Bayu: "Kamu ini tau aja. Hari ini hari terakhir aku harus membayar SPP. Bapakku masih di luar kota. Ibuku sakit. Aku bingung harus bagaimana." Fikri :"Kenapa harus bingung. Aku bisa membantumu." Bayu: "Maksudmu?" Fikri: "Ya... membantumu. Aku punya uang tabungan dan cukup untuk membayar SPP mu." Bayu: "Wah... enggak ... enggak ... enggak aku tidak bisa menggunakan uang tabunganmu." Fikri: "Ayolah teman... aku tulus... kapan-kapan kamu dapat mengembalikannya." 10. Tema yang digambarkan pada kutipan drama tersebut adalah a. persahabatan antara kedua orang b. tolong-menolong antarteman yang mem- butuhkan c. persahabatan yang didukung oleh kedua orang tua d. masalah ekonomi keluarga yang tak kunjung reda 11.Tokoh Fikri dalam kutipan drama tersebut memiliki watak a. rendah hati b. tinggi hati c. baik hati d. kecil hati 12. Kutipan drama suasana tersebut menceritakan a. haru b. kaget c. kecewa d. sedih 13.(sambil terpogoh-pogoh masuk kamar tamu, Naja menangis) Naja: "Bu, aku sudah tidak kuat lagi kalau begini." Ibu: "Percayalah, Nak, masalah ini akan segera teratasi. Tuhan Maha Pengatur dan Mahabaik." Naja: "Tapi kapan? Kapan? Aku bosan sudah!" Ibu: "Bersabarlah, Nak. Jika sabar, masalah akan terurai satu per satu." (sambil membelai rambut Naja dengan penuh Kesabaran). Dalam struktur teks drama, kutipan tersebut merupakan bagian .... a. orientasi b. resolusi c. komplikasi d. epilog *kutipan buku berikut untuk soal nomor 14 dan 15* Bumi adalah tempat di mana kita, manusia, dan makhluk hidup lainnya berada. Bumi sering disebut juga sebagai planet biru. Kenapa? Karena bumi kalau dilihat dari luar angkasa terlihat dengan warna dominan biru. Tahukah kamu warna biru bumi yang terlihat dari angkasa raya itu? Itu adalah lautan. Karena sekitar 70% permukaan bumi merupakan lautan yang sangat luas. Sisanya 30% merupakan daratan yang tersusun atas dataran, gunung, dan lembah. Bumi juga dikelilingi oleh lapisan atmosfer yang merupakan pelindung bumi. 14. Teks tersebut tergolong sebagai karya nonfiksi karena .... a. berisi cerita karangan manusia b. bersifat informatif dan berisi kenyataan c. berasal dari imajinasi pengarang d. memiliki makna ganda 15. Inti dari kutipan buku tersebut adalah .... a. memaparkan tentang alam dan kerusakannya b. memaparkan secara detail tentang bumi c. menggambarkan tentang jenis-jenis atmosfer d. menjelaskan jenis-jenis planet 16.Bacalah kutipan teks fiksi berikut! Kehidupan keluarga ini sangat sederhana. Ayah dan Ibu setiap hari membanting tulang di ladang, seolah-olah kepala jadi betis, betis jadi kepala demi beberapa mulut yang harus dipenuhi. Orang tua ini ikhlas bekerja dengan tanggung jawab demi keluarga dan anak-anaknya kelak supaya jadi orang. Tak ada rotan akar pun jadi, begitulah kata orang tua itu. Daya tarik cuplikan teks fiksi tersebut tampak pada..... a. konflik dalam cerita b. latar cerita c. gaya bahasa penulis d. tema cerita 17.Perhatikan cuplikan teks berikut! Perempuan memang paling rentan terhadap anemia, terutama anemia karena kekurangan zat besi. Darah memang sangat penting bagi perempuan. Hal ini terutama pada saat hamil, zat besi itu dibagi dua, yaitu bagi si ibu dan janinnya. Apabila si ibu mengalami anemia, bisa terjadi abortus, lahir prematur, dan juga kematian saat melahirkan. Bahkan, bagi janin, zat besi juga dibutuhkan, terutama juga ada kaitannya dengan kecerdasan. Topik untuk diskusi berdasarkan bacaan tersebut adalah a. manfaat zat besi bagi bayi b. kesehatan ibu dan janin C. anemia sebagai penyakit berbahaya bagi perempuan d. sebab-sebab tingginya kernatian bayi dan anak di Indonesia *indeks berikut untuk soal nomor 18 dan 19* Aliterasi, 89, 93 Amanat, 5, 70 Arbitrer, 3, 65 Artikel, 8, 90 Balada, 25, 75 Drama, 89, 99 Epilog, 34, 36, 74 Fiksi, 3, 25, 90 18. Berdasarkan indeks buku nonfiksi tersebut, kita dapat menemukan istilah epilog di halaman.... a. 3,65 b. 25,75 c. 34, 36, dan 74 d. 3, 25, dan 90 19. Berdasarkan indeks buku tersebut, saat membuka halaman 25 kita dapat menemukan kata .... a. balada dan epilog b. balada dan fiksi c. balada dan drama d. balada

5

1.0

Jawaban terverifikasi

CATATAN DALAM BOTOL Andi Mutiara Muthahharah Namaku Pelangi. Aku sangat suka menulis. Aku selalu menulis catatan harianku di kertas cantik dan memasukkan gulungan kertas itu ke dalam botol. Botol itu akan kulempar ke laut. Di belakang rumahku memang ada pantai yang indah. Selain menulis, aku juga sangat suka melihat pelangi. Aku melempar botol setiap kali muncul pelangi. Itu kulakukan agar kisahku dan kehidupanku di masa depan akan berwarna seperti pelangi. Suatu hari, ayah dan bunda pergi ke Paris karena urusan penting. Mereka memang selalu pergi, sampai-sampai tidak punya waktu untuk kami. Bunda menyuruhku menjaga Rindu, adikku, yang sudah kelas 3. Aku anak cukup berada. Rumahku besar. Tapi, jujur saja, aku sudah bosan hidup seperti ini. Kami hanya berdua setiap hari. Beruntung, aku mempunyai tetangga yang baik. Aku biasa memanggilnya Bibi Hani. Beliau mempunyai warung bakso. Beliau selalu memperhatikanku dan Rindu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa Bibi Hani. Sudah seminggu, orang tuaku belum pulang. Apakah mereka sesibuk itu? Tapi, barusan, aku mendapat sms dari Bunda bahwa sore ini mereka akan pulang. “Eh, Kak, ada pelangi tuh,”tunjuk Rindu lewat jendela. “Benar! Saatnya menulis…!” seruku sambil mengambil kertas, pulpen, dan botol. Lalu, aku menuju pantai di belakang rumah. Aku mencari tempat yang teduh dan mulai menulis. Namaku Pelangi. Aku sangat suka menulis dan melihat pelangi. Setiap hari, orang tuaku pergi. Aku terpaksa tinggal bersama adikku, Rindu. Beruntung aku mempunyai tetangga yang baik hati. Namanya Bibi Hani. Beliau selalu membantuku. Sekarang, ayah dan bunda pergi ke Paris. Tapi, kabarnya, sore ini mereka akan segera pulang. Aku sudah tidak sabar! Pelangi Itulah catatanku. Aku menggulung kertas catatan itu dan memasukkannya ke dalam botol plastik yang sudah kuhias semenarik mungkin. Sejenak, aku menatap pelangi sambil tersenyum. Lalu, aku melempar botol itu jauh-jauh. Setelah itu, aku kembali ke rumahku. Aku menemui Rindu yang sedang menonton TV. Namun, ia terlihat sangat sedih. “Rindu, ada apa?” tanyaku lembut sambil membelai rambutnya yang panjang. “Pesawat tujuan Paris-Indonesia jatuh, Kak. Pasti, ayah dan bunda juga ada di pesawat itu,” kata Rindu sambil terisak-isak. 2 Jantungku seperti berhenti berdetak mendengarnya. Kata-kata itu, terasa membuat darahku berhenti mengalir. “Ayah, Bunda, jangan tinggalin kami. Sudah cukup kami kesepian setiap kalian pergi. Tapi, kami enggak mau kesepian untuk selamanya, tanpa Ayah dan Bunda. Ya Allah, semoga ayah dan bunda segera ditemukan. Selamatkanlah mereka.” Airmataku mengalir deras sambil terus berdoa dalam hati. “Assalamu’alaikum, Pelangi, Rindu?” ucap Bibi Hani sambil membuka pintu rumahku. Lalu, beliau masuk. Beliau melihat kami menangis. “Iya. Bibi sudah tahu semuanya,” kata Bibi Hani sambil membelai rambutku dan Rindu. “Kalian sabar ya. Orangtua kalian pasti akan segera ditemukan. Bibi Hani akan selalu ada untuk kalian.” Esoknya, aku dan Rindu pergi ke sekolah seperti biasanya. Namun, hari ini, aku tidak begitu bersemangat untuk ke sekolah. Apalagi, Rindu. Dari tadi malam, ia terus membisu meski sudah dibujuk oleh Bibi Hani. Tadi pagi, ia juga tidak sarapan. Aku khawatir, kesehatannya akan terganggu. Malamnya, aku mendengar Rindu memanggilku. Aku langsung bangun dan membangunkan Bibi Hani yang memang menginap di rumahku. Aku dan Bibi Hani segera ke kamar Rindu. Badan Rindu sangat panas. Akhirnya, aku terus menunggui Rindu hingga pagi datang. Paginya, aku dan Bibi Hani membawa Rindu ke rumah sakit. Aku terpaksa memberi surat izin kepada guruku untuk tidak sekolah dulu sampai kondisi adikku kembali normal. Setelah itu, Bibi Hani pulang karena masih harus menjaga warungnya. Tidak berapa lama, suster datang memeriksa Rindu. “Adikmu belum bangun ya?” “Belum, Sus. Oya, Rindu sakit apa, Sus?” “Adikmu terkena penyakit thypus. Nanti, kalau adikmu bangun, suapin ya.” Esoknya, aku dan Rindu makan bersama. Tapi, Rindu terlihat tidak nafsu makan. Malamnya, Rindu terlihat pucat. Demamnya sangat tinggi. “Kak, aku mau keluar sebentar,” pinta Rindu. “Tidak bisa, Rindu. Kamu harus banyak istirahat. Jangan banyak bergerak dulu.” “Tolong, Kak. Sebentar saja kok.” Aku pun mengantarnya keluar sebentar. Namun, tiba-tiba Rindu pingsan. Aku melihat Rindu terbaring lemas di tempat tidur. Ia tidak sadar-sadar. “Kak,” panggil Rindu pelan. Ia membuka matanya. “Rindu, jangan banyak gerak dulu ya,” cemasku. “Kak, jangan berhenti menulis ya. Terus menulis bersama pelangi,” ucap Rindu. “Tentu. Kakak akan selalu menulis.” 3 “Kakak memang bagaikan pelangi. Semoga hidup Kakak menyenangkan!” “Rindu, kamu kenapa?” “Aku ingin pergi bersama ayah dan bunda. Selamat tinggal, Kak.” Akhirnya, Rindu mengembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman manis. “Rindu, jangan tinggalin Kakak. Kakak harus bagaimana?” tangisku kencang. Bibi Hani mencoba menenangkan. Sebelum meninggalkan pemakaman, aku mencium nisan Rindu. Rindu, sampaikan salamku untuk ayah dan bunda…. Seminggu setelah kematian Rindu telah berlalu. Aku menjalani hari seperti biasanya. Namun, aku masih tidak ke sekolah. Kematian Rindu membuatku lebih tertutup. Gerimis turun lagi sore ini. Seperti biasa, pelangi kembali muncul dan aku kembali menulis. Namaku Pelangi. Aku sangat suka menulis dan melihat pelangi. Seminggu yang lalu, Rindu mengakhiri perjalanannya. Ia berpesan agar aku terus menulis bersama pelangi. Rindu sekarang sudah bahagia bersama Ayah dan Bunda. Dan aku di sini sendiri dan kesepian…. Pelangi Aku melempar botol itu jauh-jauh. Aku masuk ke rumah dengan perasaan kesal. Aku membanting pintu dan mengacak-acak kamarku sambil menangis. “Huh, percuma namaku Pelangi. Kehidupanku juga tidak berwarna seperti pelangi. Kenapa sih mereka memberiku nama Pelangi? Benar-benar tidak cocok! Orangtuaku mengalami kecelakaan dan aku dan Rindu ditinggalin. Sekarang, Rindu juga ninggalin aku. Ayah, bunda, dan Rindu sudah bahagia bersama di sana. Sedangkan aku sendirian! Aku harus bagaimana? Huuuuhhh,” isakku kencang. Lalu, Bibi Hani masuk dan menemuiku. “Pelangi, tenang, Nak,” hibur Bibi Hani. “Allah memang tidak pernah berhenti memberikan ujian untuk hamba-Nya. Allah melakukan itu agar hamba-Nya selalu tegar dan sabar meghadapi ujian apapun. Percayalah, cobaan itu yang terbaik untuk hamba-Nya.” “Yang terbaik apanya? Ayah dan bunda pergi ninggalin aku. Rindujuga. Apa itu yang terbaik?” bantahku. “Tenang, Nak. Bibi akan selalu bersama Pelangi kok.”Aku menatap Bibi Hani, lalu memeluknya erat. Beberapa hari kemudian, aku mulai mengikhlaskan semuanya. Tapi, kemarin, Bibi Hani bilang akan membawaku ke Panti Asuhan. “Apa Bibi tidak sayang lagi sama aku?” tanyaku setelah mengetahuinya. “Bukan begitu, Pelangi. Bibi harus menjual dan mengurus keluarga Bibi. Tenang saja, Bibi akan selalu melihat kamu kok. Lagipula, pemilik Panti itu adalah saudara Bibi.” “Tapi, tolong Bibi jaga rumahku ya. Rumah itu menyimpan banyak kenangan,” kataku. Bibi Hani mengangguk sambil tersenyum. Jadi, untuk terakhir kalinya, aku pergi ke pantai belakang rumahku. Saat itu, pelanginya tampak jelas dan indah di atas pantai. Namaku Pelangi. Aku sangat suka menulis dan melihat pelangi. Setelah kehilangan keluargaku, aku sangat kesal dan putus asa. Aku hampir saja menyalahkan takdir Allah. Namun, Bibi Hani tidak berhenti menghiburku. Hari ini juga, aku akan ke panti asuhan milik 4 saudara Bibi Hani. Jadi, mungkin ini adalah hari terakhirku tinggal di rumahku yang penuh kenangan…. Pelangi Aku dan Bibi Hani berangkat ke panti asuhan. Kata Bibi, di dekat panti itu ada sungai. Tentu saja aku sangat senang. Setelah sebulan, aku mulai terbiasa dengan lingkungan panti. Teman-temanku juga semua baik dan ramah. Di sini, kami seperti satu keluarga yang saling menyayangi. Seperi biasa, aku ingin menulis. Pelangi telah tampak. Aku duduk di batu dan menulis. Namaku Pelangi. Aku sangat suka menulis dan melihat pelangi. Sudah sebulan, aku tinggal di panti. Aku juga mulai akrab dengan teman temanku. Di sini, aku sangat bahagia. Aku dapat merasakan hangatnya rasa kekeluargaan. Kuharap, selanjutnya akan ada kejadian luar biasa dari sekarang.... Pelangi Seminggu kemudian, Bibi Hani datang bersama pria yang tidak kukenal. Tapi, sepertinya, aku pernah melihatnya sebelumnya. Ternyata, pria itu adalah Paman Rusdi. Beliau ingin mengajakku tinggal di rumahnya di Solo. Tentu saja, aku sangat senang mendengarnya. “Bibi, selamat tinggal. Aku tidak akan bisa seperti ini tanpa Bibi. Bibi benar-benar malaikatku. Maaf kalau selama ini Pelangi ngerepotin Bibi,” kataku sambil menangis. “Pelangi, kamu anak yang baik. Kamu bisa tegar dan bersabar meskipun telah kehilangan orang tua dan adikmu. Justru, Bibi belajar banyak hal dari kamu. Kamu adalah seorang pelangi yang sesungguhnya. Bibi yakin, kehidupanmu selanjutnya akan penuh warna seperti pelangi. Ibumu tidak salah memberimu nama pelangi. Keluargamu di sana juga pasti bahagia melihatmu,” kata Bibi Hani sambil menyeka airmataku. “Selamat tinggal, Bi. Aku akan selalu ingat Bibi,” ucapku sambil melambaikan tangan. “Selamat jalan, Pelangi. Ikuti terus cahayamu, dan kau akan bahagia. ” Aku menyeka air mataku dan berusaha tersenyum. Jelaskan watak tokoh pelangi pada cerpen catatan dalam botol!berikan bukti

1

5.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

SAHABAT UNTUK SALMA Adegan 1 Ruang kelas masih sepi, Naira sudah masuk kelas. Dia sedang berbincang-bincang dengan Yusuf dan Rahmi. Naira : Akhir-akhir ini kulihat Salma sering datang terlambat Rahmi : lya, ada apa ya? Biasanya dia terkenal paling disiplin. Kita belum datang saja dia sudah di kelas. Ini sejak dua hari yang lalu dia terlambat terus? Naira : Entahlah, Salma jadi aneh belakangan ini. Dia lebih suka menyendiri. Kita seharusnya sebagai sahabat yang baik mengetahui apa yang diderita Salma saat ini. Yusuf : (Mendekati Naira & Rahmi) lya, betul itu. Tidak beriman seseorang sebelum mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. Rahmi : Baiklah, nanti kita tanyakan saja ke Salma tentang masalah apa yang dia hadapi hingga sering terlambat sekolah Yusuf : Jangan, lebih baik kita cari tahu sendiri. Naira : Caranya? Yusuf : Kebetulan kemaren sore aku lihat Salma baru keluar dari rumah Zaza. ltulah, teman kita yang sok kaya dan kecentilan itu? Rahmi : Hah, yang bener? Naira : Wah, kita harus bertindak cepat. Aku merasa ada hal yang aneh dengan mereka. Pantas saja Salma semakin akrab dengan Zaza. Adegan 2 Salma membereskan kamar Zaza yang berserakan. Dia punguti sampah dan kertas bekas bungkus makanan di kamar Zaza kemudian Zaza masuk bersama Ayudya. Zaza : Eh, ada pembantu baru di rumah ini! Ayudya : Hahahaha, kerja ya Bu? Kasihan amat . . . Salma : (Diam , memunguti sampah di kamar Zaza) Zaza : (mendekat) Hei, kau tuli? Disapa malah diam! Jarang-jarang kita sapa pembokat seperti kamu. Ayudya : (menarik kerudung Salma) Hai, kamu' Kalau ada orang yang ajak bicara ya tatap dong? Diam saja. Bisu apa? Kita buka saja jilbabnya si Salma itu. Kita gunduli rambutnya. Bagaimana, Zaza? Salma : Ampun, jangan lakukan itu. Jangan .. Zaza : Ampun? Hahaha .. sepertinya ide kamu bagus juga Ayudya . Kamu pegangi dia. Ayudya : (mendekat dan memegangi tangan Salma) Salma : Tolong, jangan lakukan itu. Tolong .. Rambut itu mahkota wanita, Allah tidak menyukai wanita yang mempunyai rambut pendek. Aku tidak mau itu. jadi tolong, jangan lakukan .. Zaza : Sudah, diam! Kamu mau dibayar berapa untuk rambut gundul nanti? Uang bagiku tak masalah. Salma : (meronta) Tidak! Aku tidak butuh uang. Ayudya : Huuuh, sudah miskin saja sombong Salma : Tolong, jangan lakukan itu padaku Zaza : Kamu pegangi yang kuat. Aku ambil gunting dulu Ayudya : Siip .. Salma : (berusaha melepaskan diri dari pegangan Ayudya namun tak mampu) Zaza : (mendatangi Salma, menggunting rambut Salma) Hahaha, rasakan kamu Salma. Salma : Tolong, jangan lakukan ini (menangis) Adegan 3 Yusuf, Naira dan Rahmi berdiri di depan rumah Zaza. Mereka mendengar suara Salma yang menjerit meminta pertolongan. Salma : (keluar dari rumah dan lari) Naira : Salma, tunggu!! (mengejar Salma kemudian diikuti Yusuf dan Rahmi) Rahmi : Salma !!! Adegan 4 Sebuah mobil menabarak Salma yang sedang lari di tepi jalan. Salma tergeletak tak berdaya. Naira, Yusuf, dan · Rahmi mengejar Salma yang sudah tergeletak tak berdaya. Naira : Salmaaaaaaaaaaaaaaaa!!! (mendekap Salma) Rahmi : Salma, bangun! Bangun Salma! Salma : (tergeletak tak berdaya namun masih bernafas) Maafkan aku sahabat, akuu .. Naira : Sudahlah, jangan bicara lagi. Kita bawa ke rumah sakit terdekat. Rahmi : Yusuf, bantu kami membawa Salma ke Rumah sakit Yusuf : Ba. Ba. Ba. Baiiik.. Adegan 5 Salma berbaring di ranj ang, tak berdaya. Naira dan Rahmi mendampingi Salma. Rahmi : Tapi perbuatan mereka melewati batas . Kami tidak terima! Salma : Sudah .. jangan diperpanjang. Yusuf : (mendekati Salma) maaf, memangnya kamu di rumah Zaza sedang apa? Salma : Aku kerja di rumah Zaza Naira : Hah, kerja? Untuk apa? Salma : Kebetulan uang jatah bulananku habis. Aku belum mendapat kiriman uang dari Ayah di kampong Naira : Mengapa kamu tidak jujur dengan kami? Salma : Maaf, aku tidak mau merepotkan teman-teman Naira : Setidaknya kami bisa meminjamimu uang. Rahmi : Iya, kami bisa bantu kamu Salma Yusuf : Sahabat itu lebih indah. Harusnya kamu jujur kepada kami. Di bulan Ramadhan ini akan dilipatgandakan pahala kebaikannya, dan akan dimaafkan segala kesalahan kita. Salma : Baiklah, aku minta maaf atas kesalahanku Naira : Sudahlah, yang penting kamu jangan seperti itu lagi . Salma : Iya, aku janji. Rahmi : Alhamdulillah ... (Sumber: Naskah drama diunduh pada h ttp://turisqoh-fu ticha.blogspot.eo.id/20 l l/07 /naskah-drama-untuk-anak-smp.html) Berdasarkan naskah drama di atas, jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini! Siapa sajakah tokohnya?

1

0.0

Jawaban terverifikasi

Judul : Rindu Penulis : Tere Liye Editor : Andriyati Penerbit : Republika Tebal Buku : ii + 544 hal; 13.5x20.5 em Kota Terbit : Jakarta Tahun Terbit : 2014 Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalah arti cinta, ketika menangis terluka atas perasaan yg seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yg seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun? Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja"" Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan. Perjalanan panjang penuh kerinduan dimulai ketika sebuah kapal besar bernama Blitar Holland mendarat di Pelabuhan Makassar. Kapal tersebut nantinya akan berhenti dan menaikkan penumpang di Pelabuhan Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang, Banda Aceh. Kapal itu akan terus melaju hingga Jeddah karena para penumpang kapal tersebut adalah calon jamaah haji. Setelah berhenti di beberapa pelabuhan , rupanya kapal Blitar Holland ditumpangi oleh sepasang kakek - nenek yang saling mencintai. Mbah Kakung dan Mbah Putri beserta satu anak perempuannya naik dari Pelabuhan Semarang, keromantisan pasangan yang tidak lagi muda itu membuat iri seluruh penghuni kapal. Mereka bisa saling mengenal karena setiap solat berjamaah, atau makan di kantin selalu bertemu dan akrab begitu saja, terlebih pada keluarga Daeng Andipati yang memiliki dua putri bertingkah menggemaskan. Hari demi hari berlalu. Kisah perjalanan panjang itu mulai terangkai dan ertanyaan-pertanyaan itu satu per satu hadir. Ya, ada lima pertanyaan yang dibawa oleh penumpang dalam kapal Blitar Holland. Pertanyaan pertama dari Banda Upe, tentang masa lalu yang memilukan. Ternyata di balik pendiamnya Banda Upe yang sering mengurung diri di dalam kabin, memiliki masa lalu yang *memilukan. Siapa sangka Guru mengaji di atas kapal ini dahulunya pernah *terjerumus dalam lubang kemaksiatan. Meski itu sangat terpaksa, karena memang dipaksa. Nasibnya masih untung, karena diselamatkan lelaki yang mencintainya sejak kecil, lelaki yang saat ini menjadi suami tercintanya. Cara terbaik menghadapi masa Lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa Lalumu? Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk* semua kisah itu.Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. (hal 312) Pertanyaan kedua berkaitan tentang kebencian pada seseorang yang seharusnya kita sayangi. Siapa sangka Daeng Andipati yang memiliki kekayaan di usia muda melalu kerja keras dari keringat sendiri ini memiliki kebencian pada seseorang, Daeng Andipati yang terlihat tak memiliki masalah karena selalu terlihat bahagia bersama kedua putri dan istrinya itu ternyata memiliki kebencian pada seseorang, bahkan setelah 5 tahun kemeninggalan orang tersebut malah semakin membencinya, membenci orang yang seharusnya kita sayangi. ".. aku membencinya. Aku membenci ayahku sendiri." (hal. 370)" Ada orang-orang yang kita benci. Ada pula orang-orang yang kita sukai. Hilir mudik datang dalam kehidupan kita. Tapi apakah kita berhak membenci orang lain? ... Pikirkan dalam-dalam, kenapa kita harus *benci? Kenapa? Padahal kita bisa saja mengatur hati kita, bilang saya tidak akan membencinya. Toh itu hati kita sendiri. Kita berkuasa penuh mengatur-aturnya. Kenapa kita tetap memutuskan *membenci? Karena boleh jadi, saat kita *membenci orang Lain, kita sebenarnya sedang *membenci diri sendiri." (hal. 373) "Maka ketahuilah Andi, kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih,atau dengan apapun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong.Buka lembaran baru, tutup lembaran lama yang pernah *tercoret. Jangan diungkit-ungkit lagi. Jangan ada tapi, tapi, dan tapi. Tutup lembaran tidak menyenangkan itu. Apakah mudah melakukannya? Tidak mudah. Tapi jika kau sungguh-sungguh, jika kau berniat teguh, kau pasti bisa melakukannya, Andi. Berjanjilah kau akan menutup lembaran lama itu. Mulai membuka lembaran baru yang benar-benar kosong. Butuh waktu untuk melakukannya. Tapi aku percaya, saat kapal ini tiba di Jeddah, hati kau sudah lapan*g seperti halaman baru ... " Kembali ke pertanyaan ketiga yang ternyata datang dari tokoh Mbah Kakung dan Mbah Putri, dalam perjalanan di tengah lautan, Mbah Putri *meninggal. Ini membuat Mbah kakung yang hampir selama hidupnya bisa menjawab semua pertanyaannya sendiri, kini tak bisa menjawab pertanyaan dari kenyataan. Keinginan Mbah Kakung agar kelak ketika *meninggal agar *dikuburkan berdampingan , sepertinya tidak mungkin terjadi, Mbah Putri *dikuburkan seperti para pelaut sejati. Tetap dibungkus kain *kafan, setelah disholati, kemudian *ditenggelamkan dengan diberi beberapa *bandul supaya tubuhnya tidak *mengambang dan jatuh ke dasar lautan. Pertanyaan ketiga terucap ketika Anak Mbah Kakung memutuskan untuk meminta tolong Daeng Andipati, karena seharian Mbah kakung tidak makan apapun. Daeng Andipati datang bersama Guruta. Dan pertanyaan tentang kehilangan kekasih hati terucap, juga terjawab menjadi tiga jawaban dengan pemahaman terbaik. Mulailah menerima dengan Lapang hati, karena kita menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Takdir bahkan basa basi menyapa pun tidak. Tidak peduli. Nah kabar baiknya karena kita tidak bisa mngendalikannya, bukan berarti kita jadi makhluk tak berdaya. Kita tetap bisa menaklukan diri sendiri bagaimana menyikapinya, apakah bisa menerima atau mendustakannya. Biarkan waktu mengobati seluruh kesedihan. Ketika kita tidak tahu mau melakukan apa lagi. Ketika kita merasa semua sudah hilang, musnah, habis sudah, maka itulah saat untuk membiarkan waktu menjadi obat terbaik ... Pertanyaan ke empat, Tentang Cinta sejati,Jawaban dari pertanyaan ini begitu terurai panjang. ""Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tutus kau melepaskannya. Persis seperti anak kecil yang menghanyutkan botol tertutup di lautan, dilepas dengan rasa suka-cita. Aku tahu, kau akan prates, bagaimana mungkin? Kita bilang itu cinta sejati, tapi kita justru melepaskannya. Tapi inilah rumus terbalik yang tidak pernah dipahami para pencinta. Mereka tidak pernah mau mencoba memahami penjelasannya, tidak bersedia."" (hal.492) Dan pertanyaan kelima justru datang dari Guruta sendiri, Seorang ulama termashyur, memiliki karya hingga ratusan buku. Bisa menjawab bijak 4 pertanyaan sebelumnya. Tapi dia sendiri tak bisa menjawab pertanyaan yang bersemayam pada dirinya. Dari Ambo Uleng lah pertanyaan Guruta terjawab. Bukan dengan tulisan, bukan dengan lisan, tapi dengan perbuatan ... Terjawab sempurna ketika klimaks cerita terjadi, sebuah klimaks yang tak terduga. Sama sekali tak terduga. Bahkan Guruta sempat dipenjara ketika ketahuan oleh tentara Hindia Belanda yang bertugas mengawal BLITAR HOLLAND saat menyelesaikan sebuah buku karya terbarunya tentang KEMERDEKAAN ADALAH HAK SETIAP BANGSA DAN NEGARA. Sumber: http:/jandikafajar56 blogspot.com/2014/11/bedah-nave/-rindu-tere/iye.html 2d. Hikmah apakah yang dapat kita ambit dari novel Rindu karya Tere Liye?

3

0.0

Jawaban terverifikasi