Qotrunnada A

10 September 2024 08:10

Iklan

Qotrunnada A

10 September 2024 08:10

Pertanyaan

contoh penulisan naskah film pendek

contoh penulisan naskah film pendek

 

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

00

:

01

:

41

:

44

Klaim

1

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Ganis R

10 September 2024 08:14

Jawaban terverifikasi

<p><strong>Judul</strong>: <strong>Harapan di Senja Hari</strong></p><p><strong>Penulis</strong>: [Nama Penulis]</p><p><strong>INT. RUANG TAMU – MALAM</strong></p><p><i>(INT menunjukkan adegan di dalam ruangan. RUANG TAMU menunjukkan lokasi. MALAM menunjukkan waktu dalam adegan.)</i></p><p>KAMERA bergerak perlahan dari jendela yang terbuka ke arah <strong>BUDI</strong> (35), seorang pria dengan raut wajah lelah. Ia duduk di sofa dengan secangkir kopi yang sudah dingin di meja. Di sebelahnya, <strong>AMIR</strong> (8), putranya, sedang menggambar di atas kertas kusut.</p><p><strong>BUDI</strong></p><p>(sambil menghela nafas)<br>“Kamu nggak capek, Mir? Sudah malam, lho.”</p><p><strong>AMIR</strong><br>(tanpa menoleh, masih menggambar)<br>“Enggak, Pak. Aku pengen gambar rumah kita yang baru nanti.”</p><p>Budi tersenyum tipis, tetapi matanya menunjukkan kelelahan. Ia meraih kertas gambar Amir dan menatapnya.</p><p><strong>BUDI</strong></p><p>“Rumah yang besar, ya?”</p><p><strong>AMIR</strong><br>(antusias)<br>“Iya! Ada pohon mangga di depannya, terus kamar buat aku sendiri!”</p><p><strong>BUDI</strong><br>(lembut)<br>“Insya Allah, Mir.”</p><p>Amir menghentikan gambarnya dan memandang Budi dengan penuh harap.</p><p><strong>AMIR</strong><br>(bingung)<br>“Kapan kita pindah, Pak?”</p><p>Budi terdiam sejenak, menatap ke arah jendela yang memperlihatkan langit malam di luar.</p><p><strong>BUDI</strong></p><p>“Segera, Mir. Kalau bapak bisa kerja lebih keras lagi.”</p><p>KAMERA fokus pada Budi yang menatap kosong.</p><p><strong>INT. KAMAR TIDUR AMIR – MALAM</strong></p><p><i>(Adegan berpindah ke kamar Amir. Amir sudah tertidur pulas di ranjang kecilnya.)</i></p><p>KAMERA mendekat ke wajah Amir yang tersenyum dalam tidurnya. Budi masuk pelan-pelan ke kamar, menarik selimut Amir, dan duduk di sisi ranjang.</p><p>Budi menatap putranya, lalu menghela napas panjang.</p><p><strong>BUDI</strong></p><p>(berbisik)<br>“Maafkan bapak, Mir. Tapi kita harus sabar...”</p><p>KAMERA perlahan-lahan menjauh dari Budi yang masih duduk di samping Amir.</p><p><strong>EXT. DEPAN RUMAH – PAGI</strong></p><p><i>(EXT menunjukkan adegan di luar ruangan. DEPAN RUMAH menunjukkan lokasi.)</i></p><p>Budi berdiri di depan rumah kontrakan kecilnya. Ia menatap langit pagi yang mulai terang. Di kejauhan, suara klakson mobil terdengar.</p><p><strong>BUDI</strong></p><p>(dalam hati)<br>“Hari ini harus lebih baik. Harapan itu masih ada.”</p><p>KAMERA bergerak menjauh, memperlihatkan Budi berjalan pergi menuju jalan besar untuk memulai harinya.</p><p><strong>CUT TO BLACK</strong></p><p><strong>THE END</strong></p>

Judul: Harapan di Senja Hari

Penulis: [Nama Penulis]

INT. RUANG TAMU – MALAM

(INT menunjukkan adegan di dalam ruangan. RUANG TAMU menunjukkan lokasi. MALAM menunjukkan waktu dalam adegan.)

KAMERA bergerak perlahan dari jendela yang terbuka ke arah BUDI (35), seorang pria dengan raut wajah lelah. Ia duduk di sofa dengan secangkir kopi yang sudah dingin di meja. Di sebelahnya, AMIR (8), putranya, sedang menggambar di atas kertas kusut.

BUDI

(sambil menghela nafas)
“Kamu nggak capek, Mir? Sudah malam, lho.”

AMIR
(tanpa menoleh, masih menggambar)
“Enggak, Pak. Aku pengen gambar rumah kita yang baru nanti.”

Budi tersenyum tipis, tetapi matanya menunjukkan kelelahan. Ia meraih kertas gambar Amir dan menatapnya.

BUDI

“Rumah yang besar, ya?”

AMIR
(antusias)
“Iya! Ada pohon mangga di depannya, terus kamar buat aku sendiri!”

BUDI
(lembut)
“Insya Allah, Mir.”

Amir menghentikan gambarnya dan memandang Budi dengan penuh harap.

AMIR
(bingung)
“Kapan kita pindah, Pak?”

Budi terdiam sejenak, menatap ke arah jendela yang memperlihatkan langit malam di luar.

BUDI

“Segera, Mir. Kalau bapak bisa kerja lebih keras lagi.”

KAMERA fokus pada Budi yang menatap kosong.

INT. KAMAR TIDUR AMIR – MALAM

(Adegan berpindah ke kamar Amir. Amir sudah tertidur pulas di ranjang kecilnya.)

KAMERA mendekat ke wajah Amir yang tersenyum dalam tidurnya. Budi masuk pelan-pelan ke kamar, menarik selimut Amir, dan duduk di sisi ranjang.

Budi menatap putranya, lalu menghela napas panjang.

BUDI

(berbisik)
“Maafkan bapak, Mir. Tapi kita harus sabar...”

KAMERA perlahan-lahan menjauh dari Budi yang masih duduk di samping Amir.

EXT. DEPAN RUMAH – PAGI

(EXT menunjukkan adegan di luar ruangan. DEPAN RUMAH menunjukkan lokasi.)

Budi berdiri di depan rumah kontrakan kecilnya. Ia menatap langit pagi yang mulai terang. Di kejauhan, suara klakson mobil terdengar.

BUDI

(dalam hati)
“Hari ini harus lebih baik. Harapan itu masih ada.”

KAMERA bergerak menjauh, memperlihatkan Budi berjalan pergi menuju jalan besar untuk memulai harinya.

CUT TO BLACK

THE END


Iklan

Rendi R

Community

16 September 2024 22:58

Jawaban terverifikasi

<p>Berikut adalah contoh penulisan naskah film pendek dengan format dasar, termasuk deskripsi adegan, dialog, dan instruksi kamera:</p><p><strong>Judul: "Sepeda di Ujung Jalan"</strong></p><p><strong>Penulis</strong>: [Nama Penulis]<br><strong>Durasi</strong>: 5-7 menit</p><p><strong>ADEGAN 1</strong><br><strong>EXT. JALAN KAMPUNG – PAGI</strong></p><p><i>Kamera menyorot seorang anak laki-laki, BAYU (10), sedang menuntun sepedanya di jalan kampung yang sepi. Matahari pagi mulai muncul, menciptakan bayangan panjang di jalan tanah berkerikil. Bayu sesekali menatap sepeda barunya dengan bangga.</i></p><p><strong>BAYU</strong><br>(Sambil bergumam)<br>Ini sepeda baru, pasti teman-teman bakal suka...</p><p><i>Kamera perlahan mengikuti Bayu dari belakang, menampilkan suasana kampung yang tenang dengan rumah-rumah kayu di sekelilingnya.</i></p><p><strong>ADEGAN 2</strong><br><strong>EXT. LAPANGAN SEPAK BOLA KAMPUNG – SIANG</strong></p><p><i>Bayu tiba di lapangan tempat teman-temannya bermain. Mereka berhenti dan menatap sepeda Bayu dengan takjub.</i></p><p><strong>TEMAN 1</strong><br>(terkejut)<br>Wah, Bayu! Keren banget sepedamu! Baru ya?</p><p><strong>BAYU</strong><br>(sambil tersenyum bangga)<br>Iya, baru dibelikan Ayah kemarin.</p><p><i>Kamera menyorot sepeda Bayu secara dekat, menampilkan detail sepeda yang masih bersih dan mengkilap.</i></p><p><strong>TEMAN 2</strong><br>Boleh pinjam nggak?</p><p><i>Bayu ragu-ragu sejenak. Dia menatap sepeda barunya dan kemudian mengangguk pelan.</i></p><p><strong>BAYU</strong><br>(takut-takut)<br>Tapi hati-hati, ya...</p><p><i>Teman 2 mulai mengayuh sepeda Bayu dengan penuh semangat. Kamera mengikuti gerakan sepeda dengan steadycam, memperlihatkan kecepatan sepeda di lapangan.</i></p><p><strong>ADEGAN 3</strong><br><strong>EXT. JALAN KAMPUNG – SORE</strong></p><p><i>Sepeda Bayu jatuh ke dalam selokan kecil di tepi jalan. Rodanya terbalik, lumpur menempel di seluruh tubuh sepeda. Bayu tertegun melihatnya.</i></p><p><strong>BAYU</strong><br>(panik)<br>Aduh, sepeda baruku!</p><p><i>Kamera menyorot wajah Bayu yang panik, lalu bergeser ke arah sepeda yang terjebak di selokan. Teman-temannya mencoba membantu menarik sepeda.</i></p><p><strong>TEMAN 1</strong><br>(sambil meminta maaf)<br>Maaf, Bayu... aku nggak sengaja...</p><p><i>Bayu terdiam sejenak, tatapannya kosong.</i></p><p><strong>ADEGAN 4</strong><br><strong>EXT. HALAMAN RUMAH BAYU – MALAM</strong></p><p><i>Bayu membersihkan sepedanya dengan lap basah di halaman rumahnya yang sederhana. Ayahnya, PAK ANTO, duduk di bangku kayu di dekat pintu sambil mengawasi dengan senyum kecil.</i></p><p><strong>PAK ANTO</strong><br>(sambil tersenyum)<br>Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Sepeda bisa rusak, tapi persahabatan lebih penting, kan?</p><p><i>Bayu menghentikan usahanya sejenak, kemudian menatap ayahnya.</i></p><p><strong>BAYU</strong><br>(ragu)<br>Tapi Ayah, sepeda ini mahal...</p><p><strong>PAK ANTO</strong><br>(menepuk pundak Bayu)<br>Kita bisa perbaiki lagi. Yang penting kamu tetap baik sama teman-temanmu. Itu jauh lebih berharga.</p><p><i>Bayu tersenyum kecil, kemudian melanjutkan membersihkan sepedanya.</i></p><p><strong>ADEGAN 5</strong><br><strong>EXT. JALAN KAMPUNG – PAGI</strong></p><p><i>Hari berikutnya, Bayu kembali menuntun sepedanya melewati jalan yang sama. Namun kali ini, sepeda terlihat lebih kotor dan sedikit penyok, tapi Bayu tampak lebih tenang. Teman-temannya menyapanya dari kejauhan.</i></p><p><strong>TEMAN 2</strong><br>(berteriak)<br>Bayu! Main bareng lagi yuk!</p><p><i>Bayu mengayuh sepedanya perlahan menuju teman-temannya, tersenyum.</i></p><p><strong>BAYU</strong><br>(sambil tersenyum)<br>Ayo, tapi hati-hati kali ini!</p><p><i>Kamera mengambil wide shot, menampilkan Bayu yang bersepeda bersama teman-temannya di sepanjang jalan kampung yang cerah.</i></p><p><strong>FADE OUT</strong><br><strong>SELESAI</strong></p><p>Naskah ini menggambarkan cerita sederhana tentang persahabatan, kepemilikan, dan nilai-nilai kebersamaan. Dalam penulisan naskah, deskripsi adegan, dialog, dan instruksi kamera ditulis dengan jelas agar dapat dipahami oleh semua tim produksi.</p>

Berikut adalah contoh penulisan naskah film pendek dengan format dasar, termasuk deskripsi adegan, dialog, dan instruksi kamera:

Judul: "Sepeda di Ujung Jalan"

Penulis: [Nama Penulis]
Durasi: 5-7 menit

ADEGAN 1
EXT. JALAN KAMPUNG – PAGI

Kamera menyorot seorang anak laki-laki, BAYU (10), sedang menuntun sepedanya di jalan kampung yang sepi. Matahari pagi mulai muncul, menciptakan bayangan panjang di jalan tanah berkerikil. Bayu sesekali menatap sepeda barunya dengan bangga.

BAYU
(Sambil bergumam)
Ini sepeda baru, pasti teman-teman bakal suka...

Kamera perlahan mengikuti Bayu dari belakang, menampilkan suasana kampung yang tenang dengan rumah-rumah kayu di sekelilingnya.

ADEGAN 2
EXT. LAPANGAN SEPAK BOLA KAMPUNG – SIANG

Bayu tiba di lapangan tempat teman-temannya bermain. Mereka berhenti dan menatap sepeda Bayu dengan takjub.

TEMAN 1
(terkejut)
Wah, Bayu! Keren banget sepedamu! Baru ya?

BAYU
(sambil tersenyum bangga)
Iya, baru dibelikan Ayah kemarin.

Kamera menyorot sepeda Bayu secara dekat, menampilkan detail sepeda yang masih bersih dan mengkilap.

TEMAN 2
Boleh pinjam nggak?

Bayu ragu-ragu sejenak. Dia menatap sepeda barunya dan kemudian mengangguk pelan.

BAYU
(takut-takut)
Tapi hati-hati, ya...

Teman 2 mulai mengayuh sepeda Bayu dengan penuh semangat. Kamera mengikuti gerakan sepeda dengan steadycam, memperlihatkan kecepatan sepeda di lapangan.

ADEGAN 3
EXT. JALAN KAMPUNG – SORE

Sepeda Bayu jatuh ke dalam selokan kecil di tepi jalan. Rodanya terbalik, lumpur menempel di seluruh tubuh sepeda. Bayu tertegun melihatnya.

BAYU
(panik)
Aduh, sepeda baruku!

Kamera menyorot wajah Bayu yang panik, lalu bergeser ke arah sepeda yang terjebak di selokan. Teman-temannya mencoba membantu menarik sepeda.

TEMAN 1
(sambil meminta maaf)
Maaf, Bayu... aku nggak sengaja...

Bayu terdiam sejenak, tatapannya kosong.

ADEGAN 4
EXT. HALAMAN RUMAH BAYU – MALAM

Bayu membersihkan sepedanya dengan lap basah di halaman rumahnya yang sederhana. Ayahnya, PAK ANTO, duduk di bangku kayu di dekat pintu sambil mengawasi dengan senyum kecil.

PAK ANTO
(sambil tersenyum)
Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Sepeda bisa rusak, tapi persahabatan lebih penting, kan?

Bayu menghentikan usahanya sejenak, kemudian menatap ayahnya.

BAYU
(ragu)
Tapi Ayah, sepeda ini mahal...

PAK ANTO
(menepuk pundak Bayu)
Kita bisa perbaiki lagi. Yang penting kamu tetap baik sama teman-temanmu. Itu jauh lebih berharga.

Bayu tersenyum kecil, kemudian melanjutkan membersihkan sepedanya.

ADEGAN 5
EXT. JALAN KAMPUNG – PAGI

Hari berikutnya, Bayu kembali menuntun sepedanya melewati jalan yang sama. Namun kali ini, sepeda terlihat lebih kotor dan sedikit penyok, tapi Bayu tampak lebih tenang. Teman-temannya menyapanya dari kejauhan.

TEMAN 2
(berteriak)
Bayu! Main bareng lagi yuk!

Bayu mengayuh sepedanya perlahan menuju teman-temannya, tersenyum.

BAYU
(sambil tersenyum)
Ayo, tapi hati-hati kali ini!

Kamera mengambil wide shot, menampilkan Bayu yang bersepeda bersama teman-temannya di sepanjang jalan kampung yang cerah.

FADE OUT
SELESAI

Naskah ini menggambarkan cerita sederhana tentang persahabatan, kepemilikan, dan nilai-nilai kebersamaan. Dalam penulisan naskah, deskripsi adegan, dialog, dan instruksi kamera ditulis dengan jelas agar dapat dipahami oleh semua tim produksi.


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

apa saja contoh perubahan energi?.......

5

5.0

Jawaban terverifikasi