Roboguru

Mutiara R

29 November 2021 11:36

Contoh cerpen

7

1


Gusti Z

29 November 2021 15:20

cerpen remaja ,cerpen anak-anak,cerpen dewasa


ask to forum

Ingin kirim pertanyaan?

Yuk, tanyakan soalmu dan dapatkan jawaban dari teman-teman forum

Tanya Sekarang

Pertanyaan serupa

Pilihlah pasangan kata yang paling tepat untuk mengisi titik-titik (...) pada setiap nomor soal, sehingga hubungan antara dua kata di bagian kiri tanda "=" sepadan dengan hubungan antara dua kata di bagian kanan tanda "=" ... : mobil = angin : ... A. kendaraan - udara B. sedan - dingin C. bensin - kincir D. jalan - baling-baling E. roda - kipas

5

0.0

Jawaban terverifikasi

(1) Dalam beberapa tahun terakhir, mulai banyak pasien anak dan remaja yang memiliki keluhan pada tulang belakang. (2) Padahal, rasa sakit seperti ini biasanya dialami orang yang berusia 40 tahun ke atas. (3) Anak dan remaja ini ternyata gemar menggunakan gadget, se~i telepon pintar, komputer, dan tablet. (4) Banyak dari mereka yang bermain gadget sambil tengkurap, membungkuk, atau lehernya ke bawah untuk menatap layar monitor, sehingga kepala membebani leher. (5) Ada pula yang badannya bersandar di kursi dengan posisi layar lebih tinggi dari pada mata. (6) Di samping· itu, juga ada yang memiringkan kepala ke satu sisi untuk menjepit gadget di antara telinga dan pundak ketlka menelepon. (7) Apabila ini dilakukan terus menerus, tul,ang belakang akan "protes" dengan mengirimkan sinyal nyeri. (8) Ada berbagai macam sens.asi nyeri pada tulang belakang, seperti ditusuk~rusuk, kesemutan, tersetrum, dan nyeri cenat-cenut seperti sakit gigi. (9) Pada nyeri yang diakibatkan gadget, biasanya sensasinya seperti tersetrum. (1 O) Nyeri ini memang tak berbahaya. (11) Tetapi, jika dibiarkan terus menerus, nyeri ini bisa merusak postur tulang. (12) Ada tiga tahapan nyeri pada tulang belakang, yaitu rasa nyeri yang dialami otot, kemudian menjalar ke sendi, dan terakhir mengenai tulang. Kesalahan penggunaan tanda baca ditemukan pad a kalimat .... A. (2) B. (3) C. (4) D. (6) E. (8)

8

0.0

Jawaban terverifikasi

Bacaan kedua untuk soal nomor 1 – 8. [...] Hal ini disebabkan oleh berkurangnya nilai belanja Pemerintah Pusat, terutama untuk belanja barang dan belanja lainnya yang terkontraksi masing-masing porsinya sebesar 3,9% dan 30,4% pada 2019. Namun demikian, hal tersebut disertai dengan peralihan sebagian pos kepada pos belanja lainnya, yakni belanja untuk kesejahteraan sumber daya manusia (SDM), seperti belanja pegawai dan bantuan sosial (bansos). Pada 2019, porsi belanja pegawai meningkat dari 23% menjadi 25%, sementara bansos meningkat dari 6% ke 8% terhadap total belanja Pemerintah Pusat. Perkembangan berbeda terlihat pada investasi nonbangunan yang tumbuh terbatas pada 2019. Perkembangan ini tidak terlepas dari dampak kontraksi kinerja ekspor sektor pertambangan, termasuk dampak harga batu bara yang rendah, sehingga menyebabkan perusahaan-perusahaan batu bara menahan investasi alat berat.lnvestasi nonbangunan yang tertahan juga dipengaruhi oleh keyakinan berusaha yang belum kuat sejalan dengan perkembangan ekonomi global. Perlambatan pertumbuhan investasi nonbangunan dapat tertahan akibat berlanjutnya proyek kelistrikan Pemerintah pada 2019, dengan target pembangunan pembangkit listrik sebesar 3.940 MW, transmisi 5.065 Kms, dan gardu 11.186 MVA. Target dan realisasi pembangunan pembangkit dan trasmisi tersebut tercatat lebih tinggi dari target pada 2018. Ekspor yang menurun, investasi nonbangunan yang terbatas, dan beberapa faktor kebijakan berdampak pada kinerja impor yang terkontraksi pada 2019. Kontraksi ekspor industri pengolahan berdampak pada penurunan impor bahan baku, terutama bahan baku industri yang terkontraksi 4,5%. Sementara itu, pertumbuhan investasi nonbangunan yang menurun tajam berpengaruh pada impor barang modal yang terkontraksi sebesar 8,28%. Pertumbuhan impor barang konsumsi juga terkontraksi sebesar 8,13% (Grafik 1.13). Selain faktor siklikal, kontraksi impor juga dipengaruhi kebijakan substitusi impor dalam mendukung perbaikan neraca perdagangan migas. Kebijakan pemerintah menggunakan produk minyak domestik untuk kebutuhan domestik serta kebijakan B20 berkontribusi pada kontraksi impor minyak mentah sebesar 37,73%. Kinerja investasi bangunan juga tetap tinggi dan menopang permintaan domestik. lnvestasi bangunan 2019 tumbuh 5,37%, tidak banyak berbeda dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2018 sebesar 5,41%. Perkembangan ini terutama didorong pembangunan infrastruktur terkait pembangunan proyek strategis nasional (PSN), serta kinerja konstruksi swasta yang meningkat. Pertumbuhan investasi bangunan juga diikuti dengan peningkatan pembangunan rumah tinggal dan prasarana lainnya sehingga menopang tetap positifnya penjualan pengembang besar pada 2019. [...) (Sumber: Laporan Perekonomian Indonesia 20 79, 81) 1. Pernyataaan yang relevan untuk mengambarkan konsumsi pemerintah pusat tahun 2019.... A. Konsumsi pemerintah turut menopang permintaan domestik 2019, meskipun melambat dibandingkan dengan kondisi 2018. b. Belanja barang mengalami kenaikan sebesar 3,9% c. Porsi belanja pegawai mengalami kenaikan 23% d. Bansos mengalami kenaikan sebesar 6% E. Penurunan konsumsi pemerintah pusat linear dengan penurunan pos belanja yang terkait kesejahteraan SDM.

7

0.0

Jawaban terverifikasi

Perhatikan teks di bawah ini untuk menjawab soal nomor 1 sampai nomor 4. Dunia sepakbola Indonesia bagai dihantam badai yang tak berkesudahan. Setelah melanggar regulasi FIFA (Federation lnternationale de Football Association) karena pemerintah melakukan intervensi terhadap PSSI pada musim 2011 - 2012, kini hadir kembali isu pengaturan skor yang diduga melibatkan eksekutif PSSI dan perangkat pertandingan, termasuk wasit. Tingginya tingkat kasus bernada negatif yang melanda sepakbola negeri ini sejalan dengan minimnya prestasi Indonesia dalam kancah internasional, baik Timnas Indonesia maupun klub yang berlaga di AFC Cup ataupun AFC Champions Cup. Dilihat dari grafik timnas Indonesia di level dunia sejak 1993 (tahun dimulainya survei) hingga 2019, dunia persepakbolaan Indonesia menunjukkan tren negatif. Antusiasme yang ditunjukkan masyarakat pun turun melihat sepakbola Indonesia yang carut - marut dan nirgelar. Sikap skeptis kerap kali muncul saat membicarakan sepakbola Indonesia. Publik terkesan lebih menyukai pembicaraan mengenai liga - liga Eropa seperti EPL (English Premier League), La Liga, Bundesliga, dan Ligue 1. Saat diskusi diarahkan ke liga Indonesia antusiasme diskusi meredup, persis yang terjadi di ltalia pada tahun 2006. Dahulu, ltalia mempunyai liga dengan nilai komersial tertinggi di dunia. Diisi dengan pemain - pemain top dunia seperti Ronalda Nazario (lnternazionale), Paulo Maldini (AC Milan), dan David Trezeguet (Juventus), publik seakan terpukau dengan kualitas permainan tim - tim Serie A (liga kasta tertinggi ltalia). Namun, sejak skandal pengaturan skor (Calciopoli) terkuak di Serie A, kepercayaan publik meredup. Secara cepat, tingkat komersialisasi Serie A disalip oleh liga lnggris yang melakukan "ekspansi" bisnis besar- besaran, La Liga yang menghadirkan dua pemain terbaik dunia dengan bumbu rivalitas diatasnya, dan Bundesliga yang kerap memberikan kejutan di tiap laga kontinental, baik Europe League maupun Champions League. Gejolak perpolitikan sepakbola yang sulit ditarik akar masalahnya menjadi sebab musabab kacaunya dunia sepakbola di Indonesia terjadi. Jika mengamati isu belakangan, salah satu acara talkshow Mata Najwa mengangkat tema "Revolusi PSSI". Alasan dibalik timbulnya gerakan revolusi ini tak lain adalah PSSI yang kini memegang hak dan kewajiban sebagai regulator sepakbola Indonesia, dianggap tidak mampu memajukan prestasi liga dan Timnas Indonesia. Publik semakin gerah ketika mengetahui bahwa terdapat conflict of interest dari para executive coordinator atau exco yang menguasai aset tim di Liga 1 Indonesia. Dikarenakan governing body PSSI yang tidak dapat diintervensi oleh pemerintah, penyelesaian konflik kerap lebih suiit. Lalu bagaimanakah strategi memajukan persepakbolaan Indonesia dengan cara yang sustainable seperti liga - liga Eropa ? mari kita ulas dalam pendekatan ekonomi dan manajemen. Untuk mengembangkan sepakbola dalam segi ekonomi, kita tidak dapat secara langsung menerapkan teori ekonomi klasik untuk mengatasi masalah - masalah yang ada, seperti supply- demand pemain sepakbola, market value suatu klub dan ticketing suatu pertandingan sepakbola. Perlu dilakukan pendekatan yang berbeda, dikarenakan ekonomi sepakbola memiliki struktur yang asimetris, inelastis, dan terkadang irasional (Terekli, 2018). Dalam ekonomi sepakbola, klub, pemain, dan fans hanyalah sebagian dari "orchestra untuk menghasilkan musik berkualitas'~ Di sisi lain, pendapatan dari varia bel yang ada, seperti tiket dan penjualan merchandise, sponsor, pembayaran live broadcast, dan pasar taruhan menunjukkan bahwa sepakbola adalah pekerjaan yang profesional. Performa pemain dan klub di lapangan perlu dicatat sebagai hal terpenting yang berkorelasi dengan kesuksesan ekonomis. Transparansi finansial juga perlu dikedepankan untuk menghasilkan good governance policy. Transparansi finansial berupa data finansial suatu klub dan statistik finansial liga di Indonesia belum diterapkan karena masyarakat atau pihak- pihak terkait tidak dapat diakses secara publik. Setelah menganalisis elemen - elemen yang penting dalam pengembangan ekonomi sepakbola, tahap - tahap yang mantap atau distinguished juga perlu diterapkan. Hal ini dikarenakan kemajuan yang berkelanjutan tidak dapat hadir dalam semalam. Mengutip perkataan Prof.Dr.Simon Chadwick dalam tulisan Amal Ganesha (2014), fase perkembangan industri olahraga dimulai dari amatir, profesional, lalu komersialisasi. Di Indonesia, pengembangan pemain muda yang sudah cukup baik (dilihat dari prestasi Timnas Indonesia U-16 hingga U - 23) tidak dijembatani secara serius oleh klub - klub di Indonesia, sehingga saat fase profesional di klub, pemain muda Indonesia sulit berkembang dan kalah bersaing dengan pemain impor dari Brazil, Spanyol, Jepang, dan lainnya. Selain elemen pertama yaitu pemain, ada juga elemen kedua yang penting, yaitu infrastruktur. lnfrastruktur, seperti kualitas lapangan dan fasilitas pendukung ruang ganti dan bangku tim cadangan dan jajaran pelatih berpengaruh pula dalam menunjang kualitas permainan. Riset membuktikan (De Bosscher et all 2009). bahwa semua good performers dalam dunia olahraga memiliki standar infrastruktur olahraga yang sangat baik. Di Negara berkembang beriklim tropis seperti Brazil, lapangan sepakbola dibuat rata dan memiliki kualitas rumput yang baik. Ketiga, klub perlu melakukan langkah independensi dengan perlahan lepas dari bantuan finansial pemerintah daerah. Di Belanda, lnggris, Spanyol, Jerman, dan ltalia, klub - klub sudah lepas dari bantuan pemerintah daerah. Shifting dari public sector football club menjadi private sector football club memberikan pintu bagi klub untuk mandiri, seperti meraih sponsor dengan memperlihatkan kualitas permainan sehingga mampu bersaing di Liga. Terakhir dan paling utama adalah menciptakan engagement ke para supporter. Di Indonesia, supporter tidaklah menjadi suatu masalah karena Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam persentase penggemar sepakbola terbesar di dunia dengan 77 persen. Indonesia hanya kalah dari Nigeria yang mencapai 83 persen. Dengan estimasi penduduk berjumlah 264 juta pada 2017, pangsa pasar penggemar sepakbola Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Pegiat sepakbola dan pemerintah perlu meningkatkan kembali animo masyarakat Indonesia terhadap sepakbola Indonesia dengan menyuguhkan sepakbola indah yang mampu bersaing di ranah internasional. Demikian, realistis atau utopis, kini tergantung kepada governing body PSSI yang memiliki kuasa dalam regulasi sepakbola Indonesia. Publik memiliki andil yang besar dalam menekan PSSI untuk merevolusi dirinya sendiri, karena alasan lex specialis. Namun, jika s-udah tidak ada cara lain, lex sportive semestinya patut dilaksanakan demi menciptakan governing body yang mengerti akan pentingnya komersialisasi sepakbola Indonesia yang berdampak pada hajat orang banyak ini. 1. Berdasarkan paragraf 5, manakah simpulan yang BENAR? A. Riset membuktikan (De Bosscher et all 2009), bahwa semua good performers dalam dunia olahraga belum tentu memiliki standar infrastruktur olahraga yang baik B. Mengutip perkataan Prof.Dr.Simon Chadwick dalam tulisan Amal Ganesha (2014), fase perkembangan industri olahraga dimulai dari amatir, komersialisasi, lalu profesional C. lnfrastruktur, seperti kualitas lapangan dan fasilitas pendukung ruang ganti dan bangku tim cadangan dan jajaran pelatih berpengaruh dalam menunjang kualitas permainan D. Pemain muda Indonesia t idak kalah bersaing dengan pemain impor dari Brazil, Spanyol, Jepang, dan lainnya E. Pemain muda yang sudah cukup baik sudah dijembatani secara serius oleh klub - klub di Indonesia

7

0.0

Jawaban terverifikasi

Dunia sepakbola Indonesia bagai dihantam badai yang tak berkesudahan. Setelah melanggar regulasi FIFA (Federation lnternationale de Football Association) karena pemerintah melakukan intervensi terhadap PSSI pada musim 2011 - 2012, kini hadir kern bali isu pengaturan skor yang diduga melibatkan eksekutif PSSI dan perangkat pertandingan, termasuk wasit. Tingginya tingkat kasus bernada negatif yang melanda sepakbola negeri ini sejalan dengan minimnya prestasi Indonesia dalam kancah internasional, baik Timnas Indonesia maupun klub yang berlaga di AFC Cup ataupun AFC Champions Cup. Dilihat dari grafik timnas Indonesia di level dunia sejak 1993 (tahun dimulainya surveil hingga 2019, dunia persepakbolaan Indonesia menunjukkan tren negatif. Antusiasme yang ditunjukkan masyarakat pun turun melihat sepakbola Indonesia yang carut-marut dan nirgelar. Sikap skeptis kerap kali muncul saat membicarakan sepakbola Indonesia. Publik terkesan lebih menyukai pembicaraan mengenai liga - liga Eropa seperti EPL (English Premier League), La Liga, Bundesliga, dan Ligue 1. Saat diskusi diarahkan ke liga Indonesia antusiasme diskusi meredup, persis yang terjadi di ltalia pada tahun 2006. Dahulu, ltalia mempunyai liga dengan nilai komersial tertinggi di dunia. Diisi dengan pemain-pemain top dunia seperti Ronaldo Nazario (lnternazionale), Paulo Maldini (AC Milan), dan David Trezeguet (Juventus), publik seakan terpukau dengan kualitas permainan tim - tim Serie A (liga kasta tertinggi ltalia). Namun, sejak skandal pengaturan skor (Calciopoli) terkuak di Serie A, kepercayaan publik meredup. Secara cepat, tingkat komersialisasi Serie A disalip oleh liga lnggris yang melakukan "ekspansi" bisnis besar-besaran, La Liga yang menghadirkan dua pemain terbaik dunia dengan bumbu rivalitas diatasnya, dan Bundesliga yang kerap memberikan kejutan di tiap laga kontinental, baik Europe League maupun Champions League. Gejolak perpolitikan sepakbola yang sulit ditarik akar masalahnya menjadi sebab musabab kacaunya dunia sepakbola di Indonesia terjadi. Jika mengamati isu belakangan, salah satu acara talks how Mata Najwa mengangkat tema "Revolusi PSSI': Alasan dibalik timbulnya gerakan revolusi ini tak lain adalah PSSI yang kini memegang hak dan kewajiban sebagai regulator sepakbola Indonesia, dianggap tidak mampu memajukan prestasi liga dan Timnas Indonesia. Publik semakin gerah ketika mengetahui bahwa terdapat conflict of interest dari para executive coordinator atau exco yimg menguasai aset tim di Liga 1 Indonesia. Dikarenakan governing body PSSI yang tidak dapat diintervensi oleh pemerintah, penyelesaian konflik kerap lebih sulit. Lalu bagaimanakah strategi memajukan persepakbolaan Indonesia dengan cara yang sustainable seperti liga - liga Eropa ? mari kita ulas dalam pendekatan ekonomi dan manajemen. Untuk mengembangkan sepakbola dalam segi ekonomi, kita tidak dapat secara langsung menerapkan teori ekonomi klasik untuk mengatasi masalah - masalah yang ada, seperti supply-demand pemain sepakbola, market value suatu klub dan ticketing suatu pertandingan sepakbola. Perlu dilakukan pendekatan yang berbeda, dikarenakan ekonomi sepakbola memiliki struktur yang asimetris, inelastis, dan terkadang irasional (Terekli, 2018). Dalam ekonomi sepakbola, klub, pemain, dan fans hanyalah sebagian dari "orchestra untuk menghasilkan musik berkualitas~ Di sisi lain, pendapatan dari varia bel yang ada, seperti tiket dan penjualan merchandise, sponsor, pembayaran live broadcast, dan pasar taruhan menunjukkan bahwa sepakbola adalah pekerjaan yang profesional. Performa pemain dan klub di lapangan perlu dicatat sebagai hal terpenting yang berkorelasi dengan kesuksesan ekonomis. Transparansi finansial juga perlu dikedepankan untuk menghasilkan good governance policy. Transparansi finansial berupa data finansial suatu klub dan statistik finansial liga di Indonesia belum diterapkan karena masyarakat atau pihak-pihak terkait tidak dapat diakses secara publik. Setelah menganalisis elemen - elemen yang penting dalam pengembangan ekonomi sepakbola, tahap -tahap yang mantapatau distinguished juga perlu diterapkan. Hal ini dikarenakan kemajuan yang berkelanjutan tidak dapat hadir dalam semalam. Mengutip perkataan Prof.Dr.Simon Chadwick dalam tulisan Amal Ganesha (2014), fase perkembangan industri olahraga dimulai dari amatir, profesional, lalu komersialisasi. Di Indonesia, pengembangan pemain muda yang sudah cukup baik (dilihat dari prestasi Timnas Indonesia U-16 hingga U - 23) tidak dijembatani secara serius oleh klub-klub di Indonesia, sehingga saat fase profesional di klub, pemain muda Indonesia sulit berkembang dan kalah bersaing dengan pemain impor dari Brazil, Spanyol, Jepang, dan lainnya. Selain elemen pertama yaitu pemain, ada juga elemen kedua yang penting, yaitu infrastruktur.lnfrastruktur, seperti kualitas lapangan dan fasil.itas pendukung ruang ganti dan bangku tim cadangan dan jajaran pelatih berpengaruh pula dalam menunjang kualitas permainan. Riset membuktikan (De Bosscher et all 2009), bahwa semua good performers dalam dunia olahraga memiliki standar infrastruktur olahraga yang sangat baik. Di Negara berkembang beriklim tropis seperti Brazil, lapangan sepakbola dibuat rata dan memiliki kualitas rumput yang baik. Ketiga, klub perlu melakukan langkah independensi dengan perlahan lepas dari bantuan finansial pemerintah daerah. Di Belanda, lnggris, Spanyol, Jerman, dan ltalia, klub - klub sudah lepas dari bantuan pemerintah daerah. Shifting dari public sector football club menjadi private sector football club memberikan pintu bagi klub untuk mandiri, seperti meraih sponsor dengan memperlihatkan kualitas permainan sehingga mampu bersaing di Liga. Terakhir dan paling utama adalah menciptakan engagement ke para supporter. Di Indonesia, supporter tidaklah menjadi suatu masalah karena Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam persentase penggemar sepakbola terbesar di dunia dengan 77 persen. Indonesia hanya kalah dari Nigeria yang mencapai 83 persen. Dengan estimasi penduduk berjumlah 264 juta pada 2017, pangsa pasar penggemar sepakbola Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Pegiat sepakbola dan pemerintah perlu meningkatkan kembali animo masyarakat Indonesia terhadap sepakbola Indonesia dengan menyuguhkan sepakbola indah yang mampu bersaing di ranah internasional. Demikian, realistis atau utopis, kini tergantung kepada governing body PSSI yang memiliki kuasa dalam regulasi sepakbola Indonesia. Publik memiliki andil yang besar dalam menekan PSSI untuk merevolusi dirinya sendiri, karena alasan lex specialis. Namun, jika sudah tidak ada cara lain, lex sportive semestinya patut dilaksanakan demi menciptakan governing body yang mengerti akan pentingnya komersialisasi sepakbola Indonesia yang berdampak pada hajat orang banyak ini. Berdasarkan Grafik 1, jika ranking Timnas Indonesia selalu menunjukkan tren negatif, pada tahun berapakah Timnas Indonesia menempati ranking terbaik ? A. 2000 B. 2001 C. 2002 D. 2003 E. 2004

6

0.0

Jawaban terverifikasi

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Produk Ruangguru

Produk Lainnya

Hubungi Kami

Ikuti Kami

©2022 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia