Anthony B

26 Mei 2022 13:26

Iklan

Anthony B

26 Mei 2022 13:26

Pertanyaan

Bacalah cerita pendek di bawah ini! Kemarau Panjang Sudah berbulan-bulan lamanya musim kemarau panjang datang. Hujan belum menampakkan tanda-tanda akan turun. Siapa pun pasti akan tersiksa, terutama warga rawa. Lompatan Kodi Kodok jadi tak selincah biasanya. Cica si Cacing juga setengah mati menggali tanah. Semua lesu dan yang tampak paling tersiksa adalah Bidi si Badak, karena kulitnya yang tebal harus direndam di dalam air agar suhu tubuhnya tidak kepanasan. Meskipun begitu, mereka tidak ada yang mengeluh. Karena semua somasoma memahami, yang lain pasti soma tersiksanya. Sebagai pemimpin di rawa, Bidi Badak mengkhawatirkan nasib teman-temanya. Bidi Badak mulai gelisah mencari kolam baru. Tanpa sepengetahuan warga rawa lain, ia menyusuri pinggiran hutan yang jauh dari rawa. "Hai, kalian tahu di mana Bidi? Hari ini jadwalku makan kutu sekaligus membersihkan kulitnya," tanya Joli Gelatik kepada Cica Cacing dan Kodi Kodok yang kebetulan tinggal tidak jauh dari kolam Bidi. "Kwookkk! Aku tidak tahu," jawab Kodi Kodok. "Dari subuh Bidi sudah tidak ada di kolam" "Kira-kira ke mana, ya?" "Entahlah, tapi kalau diperhatikan, belakangan ini dia tampak gelisah," jawab Cica Cacing. "Mungkin karena air rawa mulai menyusut. Sampai setengah lututnya Bidi pun tidak!" "Wah jangan-jangan dia mencari rawa baru dan meninggalkan kita!" "Bidi itu pemimpin yang bertanggung jawab, tahu! Dia tidak mungkin meninggalkan kita begitu saja.” "Bidiiiii!!!! Kamu di mana?" Semua warga rawa mulai sibuk mencarinya. Menjelang malam Bidi baru tampak lagi di kolamnya. Teman-teman Bidi banyak bertanya. "Maaf sudah membuat kalian semua khawatir. Tadi aku mencari rawa yang lebih banyak airnya," jawab Bidi. "Kwookkk, kamu tidak akan meninggalkan kami ke tempat baru, bukan?" tanya Kodi Kodok khawatir. "Tidak kok, justru aku akan mencari rawa yang banyak airnya untuk kita semua. Tapi rasanya, tidak ada rawa yang lebih nyaman dari tempat kita.” "Cippp ... Cippp ... betul itu! Duh, kami kira kamu akan meninggalkan kami…” "Ya ampun, aku justru mengkhawatirkan kalian! Sudah lama rasanya aku tidak melihat Kodi melompat dan berenang riang. Cica Cacing juga tampak kepayahan menggali tanah. benar, bukan?" "Ah, kau baik sekali sudah memikirkan kami. Tapi, kami juga yakin kulitmu juga butuh air, bukan?" tanya teman yang lain. Bidi hanya tersenyum Iebar, memperlihatkan gigi-gigi gendutnya. "Kemarau kali ini memang parah sekali, kawan-kawan," tiba-tiba Gala Gajah muncul dari balik semak-semak. "Harusnya pertengahan bulan ini hujan sudah turun.” "Eh, bagaimana kalau kita tambah saja air rawa ini?" usul Bidi spontan. "Tadi sewaktu jalan-jalan, aku sempat melewati air sungai di kaki bukit. Di sana, air masih mengalir meskipun tidak sederas biasanya.” "Boleh juga idemu! Tapi, bagaimana cora membawa airnya, ya?" Caca Cacing membayangkan joroknyo. "Eh, Gala ... belalaimu panjang dan bisa menyimpan air.” "Aduh, tapi kalau hanya Gala yang membawa air, kapan penuhnya?" ujar Kodi Kodok. "Kita harus gotong royong!" kata Cica Cacing lagi. "Kita ke rumah Pak Beyu saja! Berang-berang yang tukang kayu itu! Dia kan suka menyimpan perkakas bekas! Siapa tahu dia punya panci, ember, atau apa pun yang bisa menyimpan air", pekik Joli Gelatik tiba-tiba. Dari rumah Pak Beyu, mereka dibekali beberapa panci bekas yang sudah ditambal dan ember yang cukup besar untuk menampung air. Rombongan warga rawa pun berbondong-bondong menuju ke sungai di kaki bukit. Joli dan beberapa temannya mengambil air dan dimasukkan ke ember dengan dedaunan. Perlahan tapi pasti, ember dan panci mulai penuh air. Gala menyedot air sebanyak mungkin, kemudian dia memikul panci yang dipenuhi dengan air. Ember di punggung Bidi perlahan mulai penuh. Beberapa kali mereka bersama-sama bolak-balik mengangkut air antara sungai dan rawa hingga air cukup untuk beberapa waktu ke depan. Setelah seharian penuh mengisi rawa, Bidi dan teman-temanya beristirahat dan menikmati hosil kerja sama mereka. Kodi melompat dan berenang sangat riang. Cico mulai menggali tanah dengan lebih mudah. Bidi berendam dengan santai sementara Joli bisa berkicau dengan riang karena bisa memakan kutu di kulit Bidi dengan tenang. Semuanya bersuka cita. Masalah air rawa bisa ditangani bersama dan kemarau bisa dilalui warga rawa dengan ceria. (Dikutip dengan pengubahan dari: ceritakokok.b/ogspot.com/2014/09/kemarau-panjang) Tulislah B (benar) jika pernyataan berikut sesuai dan S (salah) jika pernyataan berikut tidak sesuai dengan cerita di atas! 10. Warga rawa menemukan cara atas permasalahan yang dihadapi.

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

00

:

16

:

14

:

48

Klaim

16

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

M. Murdiwan,

27 Mei 2022 05:06

Jawaban terverifikasi

Warga rawa menemukan cara atas permasalahan yang dihadapi. [B] Yuk, simak pembahasannya! Pada paragraf ketujuh secara tersurat menyatakan "Kita harus gotong royong!" kata Cica Cacing lagi. pernyataan tersebut merupakan solusi atas permasalah yang dihadapi warga. Dengan demikian, pernyataan warga rawa menemukan cara atas permasalahan yang dihadapi adalah benar. Semoga bermanfaat


Iklan

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

Roboguru Plus

Dapatkan pembahasan soal ga pake lama, langsung dari Tutor!

Chat Tutor

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Dalam teks eksplanasi, pernyataan umum, isi, dan penutup harus berkaitan dan saling ... . a. memahami b. mendorong c. menggambarkan d. menjelaskan

11

5.0

Jawaban terverifikasi