Iklan

Iklan

Mira M

20 Maret 2020 09:09

Pertanyaan

Apa yng di mksd dengan drama satu babak?


4

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

A. Salsabila

Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Jakarta

23 Januari 2022 05:25

Jawaban terverifikasi

Halo, Mira M. Terima kasih sudah bertanya di Roboguru. Kakak bantu jawab ya. Drama satu babak merupakan drama singkat yang hanya terdiri atas satu babak. Yuk, cermati pembahasan berikut ini. Teks drama adalah salah satu karya sastra yang mengisahkan tentang kehidupan dan dapat disajikan dalam bentuk gerak. Teks drama yang dipentaskan di atas panggung disebut teater, sedangkan bila tidak dipentaskan disebut drama radio, televisi, dan film. Salah satu jenis dari teks drama dalah drama satu babak. Drama satu babak merupakan drama singkat yang hanya terdiri atas satu babak. Drama ini hanya memusatkan pada satu tema dengan pemeran yang tidak banyak dan alur yang singkat. Dengan demikian, drama satu babak merupakan drama singkat yang hanya terdiri atas satu babak. Semoga membantu🙂


Iklan

Iklan

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke Forum

Biar Robosquad lain yang jawab soal kamu

Tanya ke Forum

Roboguru Plus

Dapatkan pembahasan soal ga pake lama, langsung dari Tutor!

Chat Tutor

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Prosedur pembuatan tape singkong: Kukus singkong sampai matang atau setengah matang. Cuci singkong hingga bersih, kemudian potong kecil-kecil atau dibiarkan tetap utuh. Tutup singkong rapat-rapat dengan menggunakan daun pisang yang tidak robek. Setelah singkong dingin, tabur ragi secara merata. Kupas kulit singkong dengan cara memanjang lalu menarik bagian kulitnya. Simpan singkong dan biarkan 2 sampai 3 hari. Siapkan singkong yang berukuran sedang. Tape singkong siap dihidangkan. Langkah-langkah yang tepat dalam pembuatan tape singkong adalah .... A. 7 – 5 – 2 – 1 – 6 – 4 – 3 – 8 B. 7 – 5 – 2 – 1 – 4 – 3 – 6 – 8 C. 7 – 2 – 1 – 5 – 3 – 6 – 4 – 8 D. 7 – 2 – 1 – 5 – 4 – 6 – 3 – 8

215

0.0

Jawaban terverifikasi

Ibu Karya: Sumartono Setibaku di rumah, aku terus menanggalkan sepatu dan baju sekolahku. Badanku terasa penat, lapar, dan haus. Perjalanan dari sekolah ke rumah yang kutempuh dalam jarak dua kilometer di bawah terik matahari, cukup melelahkan. Aku ingin segera pergi ke dapur menikmati nasi dan lauknya yang biasa telah disediakan untukku. Tapi sebelum aku melangkah, terdengar suara Kak Hardo memanggilku. Aku lari mendapatkannya. Kukira aku mau diberinya sesuatu, entah permen, entah kelereng atau permainan apa saja seperti yang diberikannya pada Dik Tato kemarin. Tapi, harapanku itu segera lenyap ketika kulihat muka Kak Hardo yang cemberut memandangku. Aku dipandangnya dengan tatap yang tak enak kurasakan. Lalu dengan isyarat anggukan kepala aku disusruh mengikutinya, dia ajak ke rumah Bu Kesi tetangga sebelahku. “Kau mengaku saja ya Ar, jangan mungkir!” Aku tak mengerti apa yang dimaksudnya. Hatiku mulai terasa tidak enak. Kalimatnya itu kurasakan bakal terjadi sesuatu yang tidak kuinginkan. Dan itu ternyata benar, ketika Kak Hardo melanjutkan perkataannya. “Bu Kesi lapor padaku bahwa kau mengambil pencitnya!” Berkata begitu Kak Hardo sambil menunjuk pada sebatang pohon mangga yang lebat buahnya, di muka rumah Bu Kesi. “Tidak!” jawabku. “Kau jangan *bohong! Mengaku saja.” “Tidak Kak, aku tidak *mencuri” jawabku kesal. Tiba-tiba Bu Kesi yang selama itu diam ikut bicara. “Ya, kamu kemarin merontoki pencit Bu Kesi, ya. Bu Kesi mengintip kamu dari lubang itu” la menunjuk pada sebuah lubang dinding kayu rumahnya. Lalu berkata lagi, “Bu Kesi tidak hemat pada pencit. Cuma masih terlalu muda untuk diambili. Kalau kau ingin, minta sajalah pasti Bu Kesi beri. Tidak baik, Nak, *mencuri.” Aku tambah merasa jengkel. Dalam hatiku aku *memaki. Orang tua yang mukanya ronyok dimakan usia dan kabur tentu salah penglihatan. Sekonyong-konyong orang tua di hadapanku itu, yang selama ini tidak kuhiraukan benar, berubah menjadi manusia yang paling kubenci di dunia ini. “Jadi, kau tidak mau mengakui perbuatanmu?” bentak Kak Hardo mengancamku. Aku hampir menangis, namun masih bisa kujawab, “Betul Kak, aku tidak *mencuri. Aku berani sumpah!” Sehabis perkataanku itu tangisku meledak tak bisa kutahan lagi. Dan ketika telingaku *dijewer Kak Hardo, aku *menjerit sekuatku. Aku terus *diseret pulang. Sampai rumah aku **dihajarnya: ditampar, *dijewer, dan **dipukuli. Kemudian Kak Hardo mengambil sebuah kayu penggaris lalu **dipukulkan di sekujur tubuhku. Karena aku tetap menyatakan tidak mengambil, akhirnya Kak Hardo kelihatan ragu-ragu dan berkata, “Kalau tidak mengambil, diam!” Tapi, terdorong oleh rasa jengkelku aku tidak mau diam, malahan kukeraskan tangisku. Sekali lagi sekujur tubuhku diteter *pukulan-pukulan yang tambah dikeraskan, hingga akhirnya kayu penggaris itu patah jadi dua. “Kau tidak mau diam, Ar?” ancam Kak Hardo lagi. Ketika itu aku merasa tak takut lagi oleh ancaman Kak Hardo. Tidak! Hatiku telah berontak. Aku tak mau menurut perintahnya. Aku terlanjur disakiti. Tangisku tambah kukeraskan. Tiba-tiba rambutku *dijambaknya. Aku diputar ke kanan terus dihempaskan. Aku jatuh *tersungkur di tanah. Sakit rasanya, tapi hatiku lebih dari itu. Setelah itu aku bangkit aku menantangnya lagi dengan jeritku. Biar, biarlah ia **menghajar aku, aku telah nekat. Entah karena Kak Hardo melihat mulutku *berdarah, entah karena kedatangan Kak Sumi untuk menolongku, atau karena kedua-duanya itu, aku tak tahu. Kak Hardo jadi reda *amarahnya. Kak Sumi menghampiriku. Terkejut melihatku. Biasanya bila aku **dihajar Kak Hardo, Kak Sumi tak pernah membelaku. Tapi kali ini kelihatan juga jengkelnya. “Bagaimana sih, ngajar anak sampai begini?” berkata begitu Kak Sumi terus membersihkan mulutku yang penuh tanah dan debu. “Kau *mencuri ya, Ar?” “Tidak, kak!” “Ya, tidak! Kak Sumi juga yakin kalau Ari tidak *mencuri. Dan tidak akan *mencuri. Ayo, makan dulu. Kau kan belum makan, to?” Dengan muka masam Kak Sumi *meninggalkan Kak Hardo tanpa berkata sepatah pun. Aku dibimbingnya ke dapur. Setibaku di dapur kulihat ibu masih membenahi alat-alat dapur yang masih berantakan. Ibu selamanya tidak menghiraukan aku, juga ketika mendengar sedusedanku yang masih ketinggalan, Ibu tidak bertanya apa-apa. Malah kulihat mukanya masam. Memang, Ibu sangat berlainan dengan Ayah. Ayah suka bertanya tentang diriku, tentang kesulitan-kesulitanku, atau tentang sekolahku. Ayah suka tersenyum padaku, suka memandangku dengan pandangan yang menyenangkan. Setiap Ayah datang dari bepergian, kami dibawakan oleh-oleh: kue-kue atau permen yang dibagikan pada kami dengan jumlah yang sama. Tapi Ayah jarang di rumah. Satu-satunya orang di rumah yang dekat denganku hanyalah Kak Sumi. Kak Sumilah yang banyak merawatku: *memandikan aku, membersihkan telingaku dengan kapas dan minyak kelapa, merawatku bila aku *sakit. Karena kebiasaan itu, aku jadi *sayang padanya. Pernah Kak Sumi bertanya padaku, "Kau sekarang *tidur di bawah ya, Ar?" "Ya Kak, Ibu menyuruhku *tidur di bawah" Dulu seingatku aku *tidur bersama Kak Sumi. Tapi lama-kelamaan, setelah aku *besar aku disuruh Ibu *tidur bersama Kak Hardo dan Dik Tato, adikku, si bungsu, di sebuah *ranjang *berkelambu. Akhir-akhir ini Ibu menyuruhku pindah di bawah. Katanya karena aku suka *ngompol. "Kau masih suka *ngompol. Ar?" tanya Kak Sumi lagi. "Sekarang tidak lagi, Kak. Tiap mau tidur aku mesti *pipis dulu, "Dik Tato yang masih sering *ngompol. Tapi Dik Tato tidak disuruh Ibu tidur di bawah. Kenapa Kak?" "Dik Tato masih kecil, Ar. Nanti bisa masuk angin." "Aku juga masih kecil Kak, umurku baru delapan tahun. Dik Tato enam tahun. Bukankah hanya dua tahun selisihnya?" Kak Sumi diam dan aku terus bertanya, "Dik Tato kesayangan ibu, ya, Kak?” "Ari juga kesayangan Ibu” "Ibu sering *mencium Dik Tato ya, Kak?” "Ya.” "Kenapa Ibu tak pernah *mencium aku, Kak?” Kak Sumi diam lagi. Ditatapnya mukaku lama-lama. Kemudian tanganku diraihnya. Tiba-tiba aku *didekap dan *diciumnya. Terasa ada air meleleh di pipiku. Dan ketika aku dilepaskan, kulihat muka kakakku itu*basah. "Kau menangis, Kak?" Kak Sumi *menggigit *bibir. "Kenapa Kakak menangis? Kakak sedih?" "Tidak! Kak Sumi gembira, Ar. Orang gembira juga bisa mengeluarkan air mata. Kak Sumi sangat gembira melihat rapormu yang bagus itu. Kalau kau pintar kelak dan bisa mencapai apa yang kau cita-citakan..., kau ingin jadi apa? Jadi dokter ya, Ar?" "Tidak Kak, aku tidak senang jadi dokter." "Kenapa?" "Dokter suka *membedah perut orang. Aku *jijik." "Oya, dokter suka operasi untuk mengambil *penyakit di dalam." "Lantas mau jadi apa? Menteri, ya? Punya mobil bagus dan dihormati banyak orang." "Tidak Kak, aku juga tidak suka jadi menteri." "Kenapa?" "Kata Pak Guru, jadi menteri banyak pikiran"Kak Sumi tersenyum. "Tentu Ar, jadi menteri banyak pikiran karena besar tanggung jawabnya. Lantas kau ingin jadi apa besok?" "Aku ingin jadi pilot saja, Kak." "Jadi pilot?" "Ya, pilot yang bisa terbang seperti Gatotkaca. Kalau aku jadi pilot, Kakak mau naik kapal terbangku?" "Tentu Kak Sumi ikut" "Dik *Tato diajak juga ya, Kak?" "Ya, Dik *Tato juga” "Ayah juga?" "Ayah juga." "Kalau aku terjun dari pesawat, Kakak juga mau lihat?" "Tentu, Kak Sumi senang melihatmu." “Kak, kapal terbang bisa memuat berapa orang?" "Lihat-lihat kapal terbangnya." "Kapal terbang yang paling *gemuk, Kak?" Kak Sumi tersenyum. Katanya, "Bukan gemuk Ar, besar! Kalau gemuk itu kucing atau *anjing. Juga orang." "Ya, maksudku yang paling besar." "Bisa sampai tiga ratusan orang." "Huh, banyak ya, Kak?" "Banyak." "Apakah manusia bisa pergi ke bulan dengan naik kapal terbang, Kak?" "Kapal terbang tidak sampai ke bulan, Ar." "Kenapa tidak?" "Kelak kalau kau telah besar akan tahu sendiri sebabnya. Makanya belajarlah rajin-rajin. Jawaban Kak Sumi itu tidak *memuaskan hatiku. Karena itu timbul khayalanku yang lebih kuat, hingga malamnya tidurku banyak dihiasi oleh impian-impian yang indah. Impian tentang parasut, tentang kapal terbang yang mendarat di bulan. “Kak, aku kan masih punya ibu ya, Kak?” “Masih, kenapa?” “Bilangnya Nano, temanku, Ibu kita ini ibu tiri. Bukan ibu sendiri” Kak Sumi diam lagi. Sekarang ia kelihatan gelisah. Sementara ia mengusap-ngusap kepalaku, jariku mempermain-mainkan ujung kebayanya. “Kak, potret yang dipasang di kamar Kakak itu potret siapa, Kak?” Di kamar Kak Sumi tergantung sebuah foto seorang perempuan yang usianya lebih kurang tiga puluh tahun, bersama seorang dara yang mukanya mirip Kak Sumi. “Ar, kau ingin tahu tentang ibumu?” “Ya, Kak” “Kakak mau menceritakan, tapi kau harus berjanji. Kalau cerita Kak Sumi selesai, Ari tidak boleh sedih ya. Kalau Ari sedih, Kak Sumi makin tambah sedih lagi.” “Ya, Kak” “Potret yang kau tanyakan itu ialah potret ibumu, ya ibu kita yang sesungguhnya. Gadis cilik yang digandengnya itu gambar Kak Sumi sendiri, waktu kak Sumi berumur lima tahun. Ibumu telah *meninggal Ar, waktu melahirkan kau. Lalu, Ayah menikah lagi dengan seorang perempuan yang juga mempunyai seorang anak, yaitu Kak Hardo. Kemudian lahirlah Dik Tato, adik kita. Setelah Kak Sumi menikah, foto itu diserahkan padaku. Acap kali, bila aku merasa kesepian, foto itu kuambil sekalipun aku tahu bahwa potret itu makin menambah kesepian dalam hatiku. 6. Apa konflik atau puncak permasalahan dalam teks cerpen "lbu" karya Sumartono?

23

5.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan