Iklan

Iklan

Anji V

01 Januari 2022 02:04

Pertanyaan

19. Cermati kalimat-kalimat berikut! (1) Pemberlakuan denda maksimal untuk sementara ini berlaku sama antara kendaraan roda dua dan roda empat, yakni lima ratus ribu rupiah. (2) Walaupun dengan sistem denda ini jumlah pelanggar menurun, tetapi polisi tetap menatanya adanya pemingiran separator jalur khusus tersebut. (3) Jumlah pelanggar jalur Transjakarta akhir- akhir ini cenderung menurun. (4) Pasalnya polisi menerapkan denda berat bagi kendaraan yang menerobos jalur kendaraan ini. Urutan yang tepat untuk menjadi paragraf yang padu adalah nomor .... a. (1), (3), (4), dan (2) b. (2), (1), (3), dan (4) C. (3), (1), (4), dan (2) d. (3), (4), (1), dan (2) e. (4), (1),(3), dan (2)


2rb+

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

S. Alya

Mahasiswa/Alumni Universitas Pakuan

02 Januari 2022 03:45

Jawaban terverifikasi

Halo, Anji V. Terima kasih sudah bertanya ke Roboguru. Kakak bantu jawab ya :) Jawaban yang tepat untuk soal di atas adalah D. Yuk kita simak pembahasan berikut. Paragraf padu merupakan paragraf yang kalimat-kalimatnya tersusun secara logis dan serasi, sehingga untuk menyusun kalimat menjadi paragraf padu, kalimat-kalimat penyusunnya harus memiliki urutan yang logis. Selain itu, antara kalimat satu dengan kalimat yang lain disambungkan dengan kata sambung atau konjungsi yang sesuai membentuk keserasian. Langkah-langkah menyusun paragraf padu adalah sebagai berikut. 1. Pilihlah tema atau topik yang akan dibahas dalam paragraf. 2. Buatlah kalimat utama yang memuat ide pokok atau masalah yang akan dibahas dalam paragraf. 3. Letakkan kalimat utama tersebut di awal, akhir, atau awal dan di akhir paragraf. Letak kalimat utama ini tergantung jenis paragraf apa yang hendak dibuat, bisa deduktif, induktif, atau deduktif-induktif. 4. Buat beberapa kalimat penjelas yang menjelaskan kalimat utama. Hubungkan antar kalimat dengan konjungsi atau kata hubung. 5. Membaca keseluruhan paragraf yang telah disusun. Perbaiki apabila ada kalimat yang belum padu dengan kalimat lain. Berdasarkan penjelasan tersebut, urutan yang tepat untuk mengubah kalimat acak di atas menjadi paragraf yang padu adalah sebagai berikut. (3) Jumlah pelanggar jalur Transjakarta akhir- akhir ini cenderung menurun. (4) Pasalnya polisi menerapkan denda berat bagi kendaraan yang menerobos jalur kendaraan ini. (1) Pemberlakuan denda maksimal untuk sementara ini berlaku sama antara kendaraan roda dua dan roda empat, yakni lima ratus ribu rupiah. (2) Walaupun dengan sistem denda ini jumlah pelanggar menurun, tetapi polisi tetap menatanya adanya pemingiran separator jalur khusus tersebut. Dengan demikian, jawaban yang tepat untuk soal di atas adalah D. (3), (4), (1), dan (2). Semoga membantu :)


Iklan

Iklan

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke Forum

Tanya ke Forum

Roboguru Plus

Chat Tutor

Pertanyaan serupa

Cermati kutipan cerpen berikut. Embun itu menemani Rina dan Tika yang bersemangat dan bergegas untuk masuk kelas. Mereka adalah sahabat sejati. Rina sangat pandai bermonolog dan Tika pandai dalam berpuisi sehingga mereka sering menjuarai pada setiap ajang perlombaan sastra. Mereka memiliki keinginan untuk mengikuti kelas sastra sebagai penyalur hobi mereka dengan harapan Rina dan Tika dapat lebih mendalami kecintaannya kepada sastra. Selain itu, harapan mereka mengikuti kelas sastra, yakni untuk mengenal sastra lain yang serba indah. "Syukur-syukur, kita bisa sampai tingkat nasional dengan berpuisi atau bemonolog kita Rina. “Aamiin”, ucap Tika. Kalimat esai yang sesuai dengan kutipan tersebut adalah .... A. Rina dan Tika menyukai berpuisi dan bermonolog. Mereka berdua sering menjuarai berbagai Iomba sastra yang ada di sekolahnya. Oleh karena itu, mereka saling bersahabat. B. Berpuisi dan bermonolog merupakan salah satu sastra yang diminati pada kalangan remaja. Tidak menutup kemungkinan, dua sastra tersebut dapat juara. C. Kelas sastra yang ada akan menambah wawasan Rina dan Tika. Mereka ingin mengembangkan hobinya dengan mengetahui berbagai sastra yang ada dalam dunia kesusastraan. D. Kita juga bisa menyalurkan bakat serta kemampuan sehingga kita mendapatkan juara dalam berbagai ajang Iomba di tingkat provinsi atau bahkan ke jenjang yang lebih tinggi. E. Bagi pecinta sastra, berpuisi dan bermonolog merupakan hal penting yang harus dikuasai tanpa terkecuali. Oleh karena itu, dengan sastra, juara akan segera berada di tangan.

22

0.0

Jawaban terverifikasi

Teks 1 Hikajat Pertapa dengan Tjerpelai Sudah pula kita dengar tjeritera itu," titah radja kepada pendeta "Sekarang tjeriter akanlah oleh guru perumpamaan seorang jang tergesa-gesa dalam segala pekerdjaannja, serta tiada dengan usul periksanja." "Ampun tuanku, djawab Baidaba, "adapun orang jang bekerdja tiada dengan usul periksanja, tak dapat tidak menjesal djuga achir kelaknja. Adalah seperti hikajat seorang aliin membunuh tjerpelai jang dikasihinja, kemudian menjesallah ia "Tjeriterakanlah supaja kita dengar." "Di negeri Djurdjan ada diam seorang alim dengan isterinja. Keduanya sudah lama bergaul, akan tetapi diberi Tuhan belumlah mempunjai anak seorang djuga. Pada suatu ketika tiba-tiba hamillah isteri orang alim itu. Maka tiadalah dapat ditjeriterakan betapa girang hati kedua suami-isteri ketika mengetahui hal itu. Tiap-tiap sudah sembahyang tiada lupa alim itu mendoa kepada Tuhan, meminta supaja dikaruniai anak laki-laki. "Senangkanlah hatimu, hai isteriku!" katanja pada suatu Jiari "Keras sangkaku doaku akan dikabulkan Tuhan dan kita dikaruniai anak laki-laki, seperti jang kita harap harapkan. Apabila ia telah lahir nanti, kuberi nama jang sebaik-baiknja, dan kupilih guru jang pandai-pandai untuk mengadjarinja." "Mengapakah tuan berani-berani sadja memastikan barang jang belum tuan ketahu? kata isterinja setelah mendengar kata suaminja itu. "Entah djadi, entah tidak anak kita lahir. Orang jang suka berbuat begitu nanti serupa keadaannja dengan seorang fakir jang kena siram minjak samin sekudj badannja "Bagaimanakah mulanja maka djadi begitu?" "Ada seorang fakir, tiap hari diberi hadiah minjak samin dan madu oleh seorang saudagar, Dari pada hadiah itulah makanannja sehari-hari, dan jang tinggal disimpannja dalam sebuah tempajan, digantungkannya pada sebuah paku didinding pondoknja Beberapa lamanja tempajan itupun penuhlah. Pada suatu hari duduklah ia bersandar ke dinding, sambil memegang sebuah tongkat. Waktu itu di pasar minjak samin sedang mahal harganja "Kudjual isi tempajanku sedinar, katanja, "lalu kubelikan sepuluh ekor induk kambing. Sekali enam bulan tiap-tiap induk beranak dua ekor, atau letakkanlah seekor sadja. Dalam setahun sudah djadi tiga puluh kambingku Setahun pula kemudian lalu mendjadi sembilan puluh ekor. Wah, alangkah senangnya hatiku melihat pada tahun jang ketiga kambingku telah hampir tiga ratus ekor djumlahnja. Kemudian kudjual semuanja pembade kubelikan sapi, djantan dan betina. Jang djantan pemba betina diternakkan, didjual susunja. Ketika itu kajalah aku, kugadji sawah dan ladang, jang beberapa mengusahakan tanah-tanahku Sudah tentu kudirikan sebuah rumah jang besar dan bagus, dan kutjari s seorang orang untuk gadis jang tantik untuk isteri. Setelah setahun kawin te melahirkan anak, seorang anak laki-laki jang baik parasnja, bagus pula tingkah lakunja njang baik dan pendidikannya kudjaga sungguh-sungguh. Ja harus menurut Namanja kuljanj kata dan djika melawan sedikit sadja kupukulis dengan tongkat, begini" Lalu diajunkan tongkat jang ditangannja, kena tempajan di atas kepalanga, isanjapun tumpahlah Maka habislah sekudjur badannja disiram minjak samin. Demikianlah kesudahannya kalau orang suka memimpi-mimpikan barang jang belum tentu akan terdjadi. Mendengar tjeritera isterinja itu diamlah pertapa. Setelah tjukuplah hitungan bulannja, maka pada suatu jang baik isteri orang alim itupun sakitlah hendak bersalin. Tiada lama antaranja berkat pertolongan Tuhan lahirlah seorang anak laki-laki jang elok rupanja dengan selamat sedjahtera. Sangat-lah besar hati kedua laki isteri melihat doanja dikabulkan Tuhan. Pada suatu hari, ketika isteri orang alim itu hendak pergi kesungai bersutji, diberikannja anaknja kepada suaminja disuruhinja djaga. Orang alim itupun duduklah mendjaga anaknja. Tetapi sesaat kemudian datanglah seorang pesuruh radja menjampaikan titah menjuruh datang ke penghadapan, Oleh karena tiada seorang djuga di rumahnja jang dapat disuruhnja mendjaga anaknja, dipanggilnjalah tjerpelai, disuruhnja duduk dekat anak itu. Adapun tjerpelai itu sedjak ketjil telah dipeliharanja, dan kasihnja kepada hewan itu tak ubah dengan kepada anaknja sendir. Lalu dikuntjinjalah pintu, dan berdjalanlah ia mengikutkan pesuruh radja. Tidak lama sepeninggal alim itu, datanglah ketempat itu seekor ular jang bisa. Demi tjerpelai terlihat akan ular, diterkamnjalah hewan itu, digigitnjalah hingga mati. Maka merahlah mulutnja berlumuran dengan darah ular itu. Sedjurus antaranja pulanglah orang alim itu, lalu dibukanja pintu. Melihat tuannja datang, berlari-lari tjerpelai menjongsong, seakan-akan hendak memperlihatkan perbuatannja jang mulia itu, Akan tetapi demi orang alim itu melihat mulutnja merah oleh darah, terbanglah semangatnja, putjat mukanja. Sangkanja tentulah hewan itu telah membunuh anaknja. Dengan tiada berpikir pandjang lagi, diambilnja sepotong kaju, dipukulnja kepala tjerpelai itu. Hewan itupun matilah disitu djuga Kemudian masuklah alim itu ke dalam rumah. Ketika dilihatnja anaknja tidur dengan njenjaknja, dan di dekatnja ular berpotong-potong mati, teranglah kepadanja apa jang kedjadian sebenarnja. Maka menjesallah ia sedjadi-djadinja telah membunuh hewan jang tiaberdosa. Ditamparinja mukanja, ditindjunja dadanja, seraja berkata: "Wahai tjelakanja aku karena anak ini, Alangkah baiknja ia tidak djadi dilahirkan dan aku tiada berbuat dosa begini." Dalam ia mengata-ngatai dirinja itu, datanglah isterinja. "Mengapa tuan hamba menangis memukuli diri begini?" tanjanja. Maka menjesallah ia sedjadi-djadinja telah membunuh hewan jang tiada berdosa. Alim itu lalu mentjeriterakan kepada isterinja bagaimana setia tjerpelai mendjaga anaknja, dan bagaimana kedjam pembalasannja kepada hewan jang tiada berdosa itu. "Itulah buahnja pekerdjaan jang tiada dengan usul periksa", kata isterinja. Teks 2 Sial! Sial! Sial! Oleh: Beatrix Vena Maharani Pagi itu lebih gelap dari biasanya karena awan yang tebal, sehingga tidak salah kalau aku berpikir hari masih malam padahal sudah pukul setengah 7 pagi. Sial! Umpatku. Aku segera membuka kunci kamarku dan berlari kesana kemari bersiap untuk ke sekolah. Aku terus-terusan mengeluh kenapa Ibu tidak membangunkanku. la terus menjelaskan bahwa sudah membangunkanku berkali-kali, tetapi aku tetap tidak bangun. Paling hanya bualan saja, batinku. Saat aku hendak menggunakan sepatuku, ibu mengatakan bahwa ia akan memasukkan uang jajan harianku ke saku tas. "Enggak usah, taruh aja di meja makan. Aku masukkin dompet aja biar gak kemana-mana" jawabku. Roti yang dibuat ibu pun tidak sempat kumakan karena kata-kata 'terlambat' terus terngiang-ngiang di kepalaku. Sial! umpatku untuk kedua kalinya pada pagi itu. Aku baru ingat kalau Ayah pasti sudah berangkat ke kantor dari tadi. Aku harus naik apa ke sekolah? Tiba-tiba terdengar gemerincing bel. "Hei, mau ikut aku naik sepeda ke sekolah? Tapi aku mau mengantarkan donat ke rumah Pak RT dulu" ternyata itu Rara, tetanggaku yang sekaligus menjadi penjual donat di kompleks untuk bayar uang sekolah Pasti lama kalau harus mengantarkan donat dulu! Aku pun menolak ajakan Rara dan memutuskan untuk ngojek saja. Mau tidak mau, aku harus menggunakan uang jajanku hari ini hanya untuk membayar ojek. Ya ampun! Sial sekali hari ini, dimana uangku? Batinku sambil meraba-raba saku dan membuka dompet Pasti tertinggal di meja makan! Ah Ibu, kenapa tidak dimasukkan ke saku tasku saja sih? Saat itulah terdengar gemerincing bel yang kudengar sebelumnya. "Ini mas duit nya. Biar saya yang bayar Rara tiba-tiba mengulurkan uang kepada tukang ojek tersebut. "Terima kasih ya, Ra! Aku mau masuk ke kelas dulu," kataku dengan cepat sambil berlari memasuki pagar sekolah yang hampir saja ditutup. "Sama-sama! Saling peduli kepada teman kan hal yang baik!" jawab Rara setengah berteriak dan mulai mengayuh sepedanya menjauh dari daerah sekolahku. Aku tersentak. Tanpa aku sadari hari ini sudah ada 2 orang yang peduli kepadaku. Aku yang salah karena mengunci pintu kamarku sehingga Ibu tidak bisa masuk ke kamar dan membangunkanku secara langsung. Aku yang salah karena menyuruh Ibu meletakkan uang jajan harian ke meja makan padahal Ibu sudah berniat memasukkannya ke tas. Aku yang salah karena tidak memakan roti buatan Ibu, padahal bisa dimakan sembari berangkat ke sekolah. Aku yang salah karena berpikir bahwa mengantar donat memakan waktu yang lama padahal rumah Pak RT dan sekolahku searah. Aku yang salah karena telah menyalahkan orang-orang di sekitarku. Padahal, mereka peduli. Dan hari itu, bukannya aku mengucapkan terima kasih' kepada mereka, tetapi terus-terusan mengucap sial. Hari itu, bukanlah hari yang sial, tapi hari dimana aku sadar bahwa aku dikelilingi orang-orang yang masih peduli kepadaku. Sesuai dengan teks manakah pernyataan di bawah ini? Pernyataan: Banyak memakai partikel -lah' dan '-pun".

14

5.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan